Puisi: Perempuan Kedua (Karya Nana Riskhi Susanti)

Puisi "Perempuan Kedua" karya Nana Riskhi Susanti bercerita tentang pengalaman seorang perempuan yang menjadi perempuan kedua dalam hubungan cinta.
Perempuan Kedua
(Bagi Faisal Kamandobat)

Serupa bulan
merawat bumi
pelan-pelan sengaja diredupkan
dan terbitlah kepedihannya tiap pagi

Aku
perempuan kedua
bertahun-tahun menunggui kata
dari rapal mantra si pecinta

Malam hari
kutuliskan pengakuanku
mungkin saat itu kau sedang melamunkan kenangan di La mama
atau di antara debu-debu jalan Victoria
dan masih saja memuja cerita Hellen Collins
ketika gerimis mengetik-ngetik genting rumahmu
diam-diam malaikat menyampaikannya padamu
pertama,
bagaimana kau akan menggambarkan rambutku
apakah seindah benang sari kembang melati
serupa tikar di taman kota, arak-arakan awan,
atau rintik hujan?
kedua,
bagaimana kesunyianku memabukkan engkau yang riuh
padahal mataku bukan benih matahari
ia tak bisa membuat pejalan silau dan tersesat ke barat;
tempat segalanya tersimpan di kerinduan
serupa nabi dan kitab suci yang dinanti-nanti
ketiga,
aku paham sempurnanya pura-pura
terlebih bagi cinta;
seperih kerikil dan paku di jalan berdebu
maka
kupinjam pagi dari matamu
untuk membangun siang
saat paling tepat bagi mimpi yang hendak kumatikan.

Dari bibir perempuan kedua
lahirlah setiap kecemasanmu.

Tegal, 2008

Analisis Puisi:

Puisi "Perempuan Kedua" karya Nana Riskhi Susanti menghadirkan refleksi tentang cinta yang tak berbalas, posisi seorang perempuan dalam relasi yang kompleks, dan pergulatan batin yang penuh kesabaran dan pengorbanan. Melalui bahasa puitis yang halus namun penuh emosi, penyair mengeksplorasi tema cinta, kerinduan, dan kepedihan yang tersembunyi dalam pengalaman menjadi “perempuan kedua”.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta yang rumit dan ketidakadilan dalam hubungan asmara. Puisi ini menyinggung perasaan seorang perempuan yang berada dalam posisi kedua, atau tersisih, namun tetap setia dan menaruh harapan. Tema ini juga terkait dengan kesepian, pengorbanan, dan kerinduan yang mendalam, menghadirkan refleksi sosial dan emosional terhadap dinamika relasi percintaan.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seorang perempuan yang menjadi perempuan kedua dalam hubungan cinta. Ia menunggu kata-kata kekasihnya, mencatat perasaannya di malam hari, dan merasakan kepedihan karena perasaan itu tidak sepenuhnya diterima atau diperhatikan. Setiap bait menggambarkan pergulatan batin, kerinduan yang tertahan, dan kesadaran akan posisinya dalam hubungan yang tidak adil, namun tetap memunculkan rasa cinta dan kesetiaan yang ambigu.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah ketabahan, kesabaran, dan kepekaan emosional seorang perempuan dalam menghadapi cinta yang tak sepenuhnya miliknya. Penyair menekankan bahwa meski berada dalam posisi tersisih, pengalaman batin tersebut tetap memberi pelajaran tentang pengorbanan, kerinduan, dan kesadaran diri. Puisi ini juga menyiratkan kritik sosial terhadap realitas hubungan yang sering memosisikan perempuan dalam peran yang kurang dihargai.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini sunyi, lirih, dan penuh kerinduan. Pembaca dapat merasakan kegetiran, kesedihan, sekaligus ketenangan batin dari penulis yang menerima posisinya, namun tetap menyimpan perasaan yang mendalam. Ada nuansa romantis yang pahit, diwarnai rasa haru dan introspeksi, serta kesadaran akan batas-batas cinta yang tak dapat dimiliki sepenuhnya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah kesadaran dan penerimaan terhadap keadaan dalam hubungan cinta, serta pentingnya menghargai perasaan diri sendiri meskipun berada dalam situasi yang tidak ideal. Puisi ini mengajarkan tentang kesabaran, introspeksi, dan kekuatan batin seorang perempuan dalam menghadapi dinamika cinta yang kompleks.

Imaji

Beberapa imaji yang muncul dalam puisi ini:
  • Imaji visual: “Serupa bulan merawat bumi”, “benang sari kembang melati”, “rintik hujan” menghadirkan gambaran alam dan benda yang memvisualisasikan kerinduan dan kepedihan.
  • Imaji kinestetik: “Malam hari kutuliskan pengakuanku” dan “kupinjam pagi dari matamu untuk membangun siang” memberikan sensasi gerakan batin dan waktu yang dilewati dalam kesendirian.
  • Imaji auditori: “Gerimis mengetik-ngetik genting rumahmu” menghadirkan suara alam yang menyertai pengalaman batin.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora – Perempuan kedua diibaratkan “bulan yang merawat bumi” untuk menunjukkan kehalusan dan pengorbanan perasaannya.
  • Personifikasi – “Gerimis mengetik-ngetik genting rumahmu” memberi kesan bahwa alam turut merasakan atau menyuarakan kondisi emosional tokoh.
  • Hiperbola – “Seperih kerikil dan paku di jalan berdebu” menekankan rasa sakit emosional yang dirasakan tokoh.
Puisi "Perempuan Kedua" karya Nana Riskhi Susanti menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam tentang posisi perempuan dalam cinta yang rumit. Dengan tema cinta yang tersisih, penggunaan imaji alam dan metafora yang kuat, serta majas yang menggugah, puisi ini menyampaikan pergulatan batin, kesabaran, dan kesadaran diri seorang perempuan. Melalui karya ini, pembaca diajak untuk memahami kompleksitas emosi, kehalusan perasaan, dan makna pengorbanan dalam relasi asmara.

"Puisi Nana Riskhi Susanti"
Puisi: Perempuan Kedua
Karya: Nana Riskhi Susanti
© Sepenuhnya. All rights reserved.