Puisi: Perihal Kangen (Karya Djoko Saryono)

Puisi “Perihal Kangen” karya Djoko Saryono bercerita tentang seseorang yang sedang berbicara kepada “Den” — sosok yang mungkin melambangkan manusia ..

Perihal Kangen

//1//
Den, bila gerimis pergi:
kau rasa ada tak lengkap lagi
tanda kangen mengepung sanubari:
riang bernyanyi-nyanyi
dan kau menyebarkan galau bertubi:
inginkan yang tiada kembali

//2//
Den, jangan kau tersandera yang fana
genteng atau jelek hanya fatamorgana
lantaran cuma rias dunia: tak melekat jiwa
segera sirna bilamana kau sanding wanita
dia bakal meminta makna ada manusia
yang lempang jiwa tentu lebih utama:
selamat tujuan mengada di dunia

Den, jangan kau terseret arus zaman gila
raga semata ditakwil jalan bahagia
yang abadi ditampik karena tak kasat mata
ganteng atau jelek hanya tipuan raga
hangat dan selamat itu makrifat mengada
kau sedang menuju arah mana: gamang jiwa?

Den, kau sedang berjalan menuju tubir celaka?

//3//
Den, kalau kau membuang cinta di tengah hujan
resah langit kian luar biasa: tercurah air tak sisa
hingga sepi cekal waktu: basah kuasai jalanan
suara insan sirna: cuma tik-tak butir hujan bernada

2013

Sumber: Arung Cinta (2015)

Analisis Puisi:

Puisi “Perihal Kangen” karya Djoko Saryono merupakan karya yang sarat perenungan tentang cinta, kehilangan, dan nilai-nilai hidup di tengah kepalsuan dunia. Dalam puisi ini, penyair tidak sekadar menuturkan kerinduan secara romantis, melainkan memperluasnya menjadi refleksi eksistensial tentang makna kehidupan dan keikhlasan dalam menghadapi kefanaan.

Tema

Tema puisi ini adalah kerinduan dan perenungan spiritual tentang cinta serta nilai kehidupan sejati. Kerinduan yang digambarkan bukan hanya rindu terhadap seseorang, tetapi juga rindu terhadap kedalaman makna hidup yang sering tertutup oleh kesementaraan dunia.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang berbicara kepada “Den” — sosok yang mungkin melambangkan manusia pada umumnya, yang sedang terjebak dalam rindu, kesepian, dan pencarian makna. Melalui dialog lirih dan penuh peringatan, penyair menggambarkan perjalanan batin seseorang yang berhadapan dengan kangen, kesementaraan, serta godaan duniawi yang bisa menyesatkan jiwa.

Bagian pertama memperlihatkan suasana rindu yang lembut dan melankolis (“bila gerimis pergi: kau rasa ada tak lengkap lagi”). Namun bagian kedua dan ketiga mengubah nada menjadi peringatan moral dan spiritual agar manusia tidak terseret oleh fatamorgana dunia.

Makna tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kerinduan sejati tidak hanya ditujukan pada manusia atau cinta duniawi, melainkan pada makna hakiki dari keberadaan dan kedekatan spiritual dengan Tuhan atau kebenaran. Penyair mengingatkan bahwa manusia sering terjebak dalam pencarian semu — pada wajah, harta, dan kesenangan dunia — padahal semua itu fana.

Puisi ini juga menyoroti kegamangan eksistensial, saat manusia kehilangan arah karena tidak lagi memahami makna sejati dari cinta dan keberadaan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini melankolis, reflektif, dan sarat nasihat. Ada kesedihan yang lembut di bagian awal, kemudian berubah menjadi suasana perenungan dan peringatan moral yang tegas di bagian tengah dan akhir. Irama hujan dan gerimis memperkuat nuansa batin yang tenang sekaligus pilu.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Pesan yang ingin disampaikan adalah agar manusia tidak terjebak dalam kefanaan, tidak menilai kebahagiaan dari hal-hal fisik semata, dan belajar menemukan makna sejati dalam hidup. Cinta sejati, kebahagiaan, dan keselamatan bukan terletak pada rupa, harta, atau duniawi, melainkan pada keutuhan jiwa dan kedekatan spiritual.

Penyair juga mengingatkan bahwa hidup tanpa arah spiritual dan kesadaran batin bisa membawa manusia menuju “tubir celaka”, yakni kehancuran moral dan eksistensial.

Imaji

Imaji dalam puisi ini didominasi oleh imaji alam dan suasana batin, seperti “gerimis pergi”, “tik-tak butir hujan bernada”, dan “resah langit kian luar biasa”. Gambaran hujan dan gerimis berfungsi sebagai metafora perasaan rindu dan kesedihan yang terus menetes tanpa henti, sekaligus melambangkan penyucian atau refleksi diri.

Selain itu, imaji spiritual juga muncul dalam bentuk nasihat dan pertanyaan batin yang mengajak pembaca merenung.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi – “tanda kangen mengepung sanubari”, seolah rindu menjadi makhluk hidup yang aktif.
  • Metafora – “genteng atau jelek hanya fatamorgana”, menggambarkan penampilan fisik manusia yang semu.
  • Repetisi – pengulangan kata “Den” di awal tiap bagian, menegaskan bentuk sapaan reflektif dan menambah kekuatan emosional.
  • Hiperbola – “resah langit kian luar biasa”, memperkuat suasana batin yang tak tertahankan.
  • Simbolisme – “hujan” dan “gerimis” sebagai simbol kerinduan dan kesedihan batin.
Puisi “Perihal Kangen” karya Djoko Saryono adalah sebuah perenungan mendalam tentang makna cinta, rindu, dan perjalanan spiritual manusia di tengah kehidupan duniawi yang fana. Melalui gaya bahasa yang lembut namun sarat makna, penyair berhasil mengubah kata “kangen” yang biasa menjadi simbol kerinduan spiritual terhadap makna sejati kehidupan.

Dengan tema yang kuat, imaji alam yang indah, dan majas yang memperkaya nuansa emosional, puisi ini bukan hanya menyentuh sisi perasaan, tetapi juga mengajak pembaca merenung tentang arah dan tujuan keberadaan manusia di dunia.

Djoko Saryono
Puisi: Perihal Kangen
Karya: Djoko Saryono

Biodata Djoko Saryono:
  • Prof. Dr. Djoko Saryono lahir pada tanggal 27 Maret 1962 di kota Madiun.
© Sepenuhnya. All rights reserved.