Sapi Betina
telah berabad-abad, ya, telah berabad-abad
bermilyar sapi betina terus mukim di ayat-ayat
menunjuki kita tempat penuh nikmat:
samudra bernama surga
di mana segala ada
seperti bunda cerita
"tapi, tapi, kita bukan Sulaiman yang mengerti bahasa hewani
dan tak hendak berlagak Sulaiman, sekadar hendak pahami mau sapi",
ujarmu seraya membuka-buka kitab ilmu dan teknologi untuk mencipta surga imitasi di bumi maya ini:
di mana segenap nafsu bisa dilunasi
oleh komputer multimedia dan televisi
oleh pusat perbelanjaan, toserba, dan plaza
oleh MacDonalds, KFC, dan Donuts Donkin juga
Malang, Juni 1996
Sumber: Arung Diri (2013)
Analisis Puisi:
Puisi “Sapi Betina” karya Djoko Saryono merupakan salah satu karya yang sarat dengan kritik sosial dan refleksi filosofis terhadap zaman modern. Dengan gaya khasnya yang metaforis dan bernada sinis, Djoko Saryono menghadirkan gambaran tentang manusia modern yang kehilangan arah spiritual dan terjebak dalam pusaran materialisme. Melalui citra “sapi betina”, penyair mengangkat simbol keagamaan, mitologis, dan budaya yang berlapis makna.
Tema
Tema utama puisi “Sapi Betina” adalah kritik terhadap manusia modern yang berupaya menciptakan “surga palsu” melalui kemajuan teknologi dan konsumerisme, sembari melupakan nilai spiritual dan makna sejati kehidupan.
Puisi ini memadukan dua kutub: religiusitas dan modernitas, lalu memperlihatkan benturan antara keduanya. “Sapi betina” menjadi simbol dari sesuatu yang suci dan penuh berkah dalam teks-teks keagamaan, tetapi juga menjadi ironi ketika manusia modern menirunya dengan cara yang dangkal dan materialistis.
Puisi ini bercerita tentang manusia modern yang berusaha menciptakan surga buatan melalui teknologi, ilmu pengetahuan, dan budaya konsumsi, tanpa memahami hakikat spiritual yang terkandung dalam ajaran atau simbol keagamaan yang mereka warisi.
Pada bait awal, penyair menyebut:
“telah berabad-abad, ya, telah berabad-abad
bermilyar sapi betina terus mukim di ayat-ayatmenunjuki kita tempat penuh nikmat:”
Bait tersebut menggambarkan sapi betina sebagai makhluk simbolik yang hidup dalam “ayat-ayat”, yakni dalam kitab suci atau narasi keagamaan. Hewan itu menunjuk ke arah “samudra bernama surga”, tempat segala kenikmatan tersedia — seperti halnya kisah-kisah religius yang menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan.
Namun, pada bagian berikutnya, penyair menampilkan manusia modern yang mencoba menciptakan “surga imitasi”:
“ujarmu seraya membuka-buka kitab ilmu dan teknologi untuk mencipta surga imitasi di bumi maya ini”
Surga imitasi ini tidak lain adalah dunia modern yang dikuasai oleh komputer, multimedia, televisi, pusat perbelanjaan, dan makanan cepat saji. Inilah kritik tajam terhadap budaya konsumtif dan hedonistik, yang seolah mampu menggantikan spiritualitas dengan kenikmatan duniawi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kegelisahan eksistensial terhadap pergeseran makna hidup manusia modern. Manusia tidak lagi mencari makna sejati atau memahami simbol-simbol suci yang diwariskan leluhur dan agama. Mereka justru menafsirkan “surga” sebagai pemenuhan nafsu, kesenangan, dan kenyamanan material.
Selain itu, terdapat sindiran bahwa ilmu dan teknologi, yang semula diharapkan membawa pencerahan, justru menjebak manusia dalam ilusi “kemajuan” yang hampa nilai spiritual. Penyair menegaskan bahwa manusia “bukan Sulaiman yang mengerti bahasa hewani”, menandakan keterbatasan manusia dalam memahami esensi alam dan makhluk lain, meskipun secara teknologis mereka merasa berkuasa.
Makna yang lebih dalam lagi adalah bahwa modernitas tanpa spiritualitas hanya melahirkan kehampaan — manusia hidup di dunia yang penuh benda dan hiburan, tetapi miskin makna dan kedekatan dengan Yang Transenden.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa reflektif, sinis, sekaligus satir. Penyair menyajikan nada yang kontemplatif ketika berbicara tentang “sapi betina di ayat-ayat”, namun segera berubah menjadi nada sindiran dan ironi ketika menggambarkan manusia modern yang sibuk dengan “MacDonalds, KFC, dan Donuts Donkin juga.”
Kontras antara kesakralan (ayat, surga, bunda cerita) dan keduniawian (pusat perbelanjaan, teknologi, makanan cepat saji) menciptakan suasana parodikal, di mana pembaca diajak merenung sekaligus tersenyum getir melihat potret dirinya sendiri dalam cermin budaya konsumsi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat utama puisi ini adalah ajakan untuk kembali memahami makna spiritual dan moral dari simbol-simbol keagamaan, bukan sekadar menirunya secara dangkal dalam bentuk modernitas semu. Djoko Saryono mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan arah spiritual. Ilmu pengetahuan harus berpadu dengan kesadaran etis dan spiritual agar tidak berubah menjadi alat penciptaan “surga palsu” yang justru menyesatkan.
Selain itu, penyair juga menyindir mental konsumtif dan hedonis masyarakat yang lebih senang mencari kenikmatan instan daripada menumbuhkan kedalaman batin.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji religius dan modern, yang dikombinasikan dengan kontras tajam. Beberapa contoh imaji penting antara lain:
- “sapi betina di ayat-ayat” → imaji religius yang menggambarkan kesucian, petunjuk, dan sumber hikmah spiritual.
- “samudra bernama surga” → imaji kenikmatan abadi dan keindahan spiritual.
- “komputer multimedia dan televisi” → imaji dunia modern, menggambarkan kenikmatan artifisial dan kecanduan teknologi.
- “pusat perbelanjaan, toserba, dan plaza” → imaji materialisme dan budaya konsumsi.
- “MacDonalds, KFC, dan Donuts Donkin” → imaji hedonisme global, mencerminkan invasi budaya kapitalistik dalam kehidupan manusia modern.
Gabungan imaji-imaji ini menciptakan kontras simbolik antara surga spiritual dan surga imitasi, antara nilai dan nafsu, antara makna dan kemasan.
Majas
Puisi ini menggunakan berbagai majas yang memperkaya lapisan maknanya, di antaranya:
Metafora
- “sapi betina di ayat-ayat” merupakan metafora bagi simbol religius yang mengandung makna suci dan petunjuk spiritual.
- “surga imitasi di bumi maya” adalah metafora bagi dunia modern yang penuh dengan kenikmatan palsu.
Ironi / Sindiran
- Penggunaan merek-merek modern seperti “MacDonalds, KFC, dan Donuts Donkin” merupakan ironi tajam terhadap cara manusia menggantikan makna spiritual dengan hal-hal konsumtif.
Repetisi
- Pengulangan “telah berabad-abad, ya, telah berabad-abad” memperkuat kesan historis dan menegaskan lamanya manusia melupakan hakikat spiritualitas.
Personifikasi
- “sapi betina terus mukim di ayat-ayat” mempersonifikasikan hewan sebagai makhluk yang hidup dan menetap dalam teks suci.
Puisi “Sapi Betina” karya Djoko Saryono adalah refleksi mendalam tentang kebingungan spiritual manusia modern. Melalui simbol sapi betina, penyair mengajak pembaca menengok kembali nilai-nilai suci yang terkandung dalam ajaran agama, dan menolak ilusi modernitas yang menipu.
Puisi ini menjadi sindiran cerdas terhadap masyarakat yang menuhankan teknologi dan kenikmatan material, serta peringatan agar manusia tidak kehilangan makna sejati dalam arus modernisasi.
Dengan imaji religius yang kuat, majas metaforis yang tajam, dan nada satir yang menohok, Djoko Saryono berhasil menghadirkan puisi yang bukan hanya indah, tetapi juga menggugah kesadaran intelektual dan spiritual pembacanya.
Karya: Djoko Saryono
Biodata Djoko Saryono:
- Prof. Dr. Djoko Saryono lahir pada tanggal 27 Maret 1962 di kota Madiun.