Puisi: Senja di Bandara Soekarno-Hatta (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Senja di Bandara Soekarno-Hatta” karya Gunoto Saparie bercerita tentang pengalaman seorang penyair yang terpaksa berpisah dengan orang yang ...
Senja di Bandara Soekarno-Hatta

di luar jendela pesawat terbang
senja sebentar lagi hilang
ada seberkas cahaya jingga
ada yang tertinggal entah di mana

aku tahu, kau di pesawat terbang lain
aku tahu, kau menatap cuaca berkilauan
ke batam, kau terbang melayang 
tapi aku terpaksa pulang ke semarang

haruskah ponsel kumatikan?
senyum pramugari adalah kematian
haruskah kupakai sabuk pengaman?
pilot menimang-nimang nyawa tuan

di luar jendela pesawat terbang
akhirnya senja benar-benar menghilang
tinggal lampu dan rindu berpendaran
makin mengecil lalu musnah dalam kegelapan

2020

Analisis Puisi:

Tema puisi ini adalah perpisahan, kerinduan, dan perjalanan batin dalam konteks perjalanan udara. Penyair menyoroti jarak, waktu, dan rindu sebagai pengalaman emosional yang dialami ketika dua orang berada di tempat berbeda, masing-masing di pesawat terbang yang terpisah.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seorang penyair yang terpaksa berpisah dengan orang yang dicintainya saat melakukan perjalanan udara. Penyair melihat senja dari jendela pesawat, menyadari bahwa orang yang dicintainya berada di pesawat lain dan menuju kota berbeda. Ia merasakan perasaan rindu, kesepian, dan ketidakberdayaan menghadapi jarak.

Selain itu, puisi ini menampilkan interaksi manusia dengan lingkungan pesawat—dari pilot hingga pramugari—yang menjadi simbol kontrol dan keterbatasan manusia atas nasib dan waktu.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah ketidakpastian hidup, kefanaan waktu, dan keterbatasan manusia dalam mengendalikan jarak dan perpisahan. Senja yang menghilang melambangkan momentum yang lewat, kenangan yang memudar, dan rindu yang tak tersalurkan.

Selain itu, puisi ini menyinggung tentang perasaan rindu yang tak tersampaikan dan kerentanan manusia di hadapan waktu dan jarak.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini melankolis, hening, dan reflektif, dipenuhi perasaan rindu dan kesepian.

Diksi seperti “senja sebentar lagi hilang”, “tinggal lampu dan rindu berpendaran”, dan “makin mengecil lalu musnah dalam kegelapan” menciptakan atmosfer melankolis dan meditatif.

Kesunyian di pesawat dan interaksi dengan kru pesawat menambah nuansa keterasingan dan ketegangan emosional.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan tentang kesabaran dan penerimaan terhadap perpisahan dan jarak. Selain itu, ada pesan tersirat mengenai keindahan dan kesedihan dalam perjalanan hidup, di mana manusia harus menghadapi rindu, perpisahan, dan keterbatasan dalam waktu dan ruang.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan emosional:
  • “Di luar jendela pesawat terbang, senja sebentar lagi hilang” – imaji visual senja yang memudar.
  • “Lampu dan rindu berpendaran, makin mengecil lalu musnah dalam kegelapan” – imaji abstrak yang menyimbolkan perasaan rindu yang menjauh.
  • “Senyum pramugari adalah kematian” – imaji emosional yang mencerminkan ketegangan dan perasaan terancam dalam perjalanan fisik dan batin.
  • “Pilot menimang-nimang nyawa tuan” – imaji metaforis tentang kontrol dan keterbatasan manusia dalam menghadapi nasib.
Imaji ini menggabungkan alam, pesawat, dan perasaan manusia, menciptakan nuansa puitis yang kuat.

Majas

Beberapa majas yang digunakan antara lain:
  • Metafora: “senja hilang”, “rindu berpendaran” untuk menggambarkan perasaan yang memudar dan rindu yang tak tersampaikan.
  • Personifikasi: “pilot menimang-nimang nyawa tuan”, memberikan sifat manusia pada pilot sebagai simbol kendali atas nasib penumpang.
  • Hiperbola: “senyum pramugari adalah kematian”, menekankan ketegangan psikologis penyair.
  • Simbolisme: Senja melambangkan waktu, rindu, dan perpisahan; lampu pesawat melambangkan kenyataan yang terang namun terbatas.
Puisi “Senja di Bandara Soekarno-Hatta” karya Gunoto Saparie menghadirkan perasaan rindu, kesepian, dan refleksi batin dalam konteks perjalanan udara. Senja yang memudar, jarak antar pesawat, dan interaksi dengan kru pesawat menjadi simbol ketidakpastian, keterbatasan manusia, dan kefanaan waktu.

Puisi ini mengajak pembaca merenungi nilai waktu, jarak, dan keindahan sekaligus kesedihan dalam perpisahan, serta menekankan bagaimana pengalaman sederhana—melihat senja dari jendela pesawat—dapat memunculkan refleksi mendalam tentang rindu, kehilangan, dan keterbatasan manusia dalam mengendalikan nasib.

Foto Gunoto Saparie Februari 2020
Puisi: Senja di Bandara Soekarno-Hatta
Karya: Gunoto Saparie

GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Selain menulis puisi, juga mencipta cerita pendek, novel, esai, kritik sastra, dan artikel/opini berbagai masalah kebudayaan, pendidikan, agama, ekonomi, dan keuangan.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).

Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah.

Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.