Seorang Anak Mengigau dalam Tidur,
Karena Boneka Plastik Mainannya
Pecah Dibanting Papa
Ah jangan Papa, jangan!
Sebenarnya boneka plastik itu tidak bersalah
Taty yang menyimpannya di atas meja Papa dan
menumpahkan tinta.
Ah jangan Papa, jangan!
Ah ......!
Boneka plastik milikku satu-satunya, kini
telah patah dan kepalanya pecah.
Karena Papa telah membantingnya di lantai,
padahal Taty hanya menyimpannya di atas
meja. Sehingga menumpahkan tinta.
Sumber: Bunga Anggrek untuk Mama (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1981)
Analisis Puisi:
Puisi “Seorang Anak Mengigau dalam Tidur” karya Sherly Malinton adalah potret menyayat hati tentang luka batin seorang anak kecil yang mengalami kekerasan atau kemarahan orang tua di rumah. Melalui bahasa yang sederhana namun emosional, penyair menghadirkan jeritan jiwa polos yang berusaha memahami ketidakadilan yang menimpanya. Di balik larik-larik yang tampak seperti percakapan biasa, tersimpan tragedi psikologis tentang kehilangan, ketakutan, dan cinta yang terluka.
Tema
Tema utama puisi ini adalah trauma dan ketakutan anak terhadap kekerasan orang tua. Penyair mengangkat persoalan yang sering luput dari perhatian masyarakat — luka batin seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh amarah dan kekerasan emosional. Tema ini terasa sangat kuat karena disampaikan dari sudut pandang anak kecil yang polos, sehingga penderitaan tampak lebih jujur dan menggugah simpati.
Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang sedang mengigau dalam tidurnya, mengulang kembali kejadian menyakitkan yang dialaminya di dunia nyata. Ia berteriak, memohon agar ayahnya tidak menghukum boneka plastiknya — satu-satunya mainan yang dimilikinya — hanya karena boneka itu tanpa sengaja menumpahkan tinta di meja sang ayah. Boneka yang dibanting hingga pecah menjadi simbol kepolosan dan kebahagiaan masa kecil yang dihancurkan oleh kemarahan orang dewasa.
Melalui suara anak yang penuh ketakutan — “Ah jangan Papa, jangan!” — puisi ini menampilkan kisah duka kecil dalam ruang domestik, yang sesungguhnya merepresentasikan kekerasan struktural terhadap anak: kekuasaan, kemarahan, dan kehilangan kasih sayang.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi “Seorang Anak Mengigau dalam Tidur” adalah kritik terhadap kekerasan dalam rumah tangga dan hilangnya empati dalam relasi keluarga. Penyair seolah ingin mengingatkan bahwa rumah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak, bisa berubah menjadi ruang yang menakutkan ketika kasih digantikan oleh amarah.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan kerinduan seorang anak terhadap kasih sayang dan pengertian. Ia tidak marah pada ayahnya, tidak menentang, hanya ketakutan dan sedih — hal yang menggambarkan betapa dalamnya cinta seorang anak, meski disakiti oleh orang yang seharusnya melindunginya.
Dalam lapisan lain, boneka plastik yang pecah bisa dibaca sebagai metafora jiwa anak yang retak, bukan karena benda itu berharga secara material, tetapi karena di situlah tumpah kasih dan imajinasi masa kecilnya.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini mencekam, sedih, dan penuh ketakutan. Nada seruan “Ah jangan Papa, jangan!” menciptakan ketegangan dan kepanikan, seperti tangisan yang terperangkap di dalam mimpi. Puisi ini membangun suasana psikologis yang kelam — di mana rasa takut terhadap sosok ayah lebih besar daripada rasa aman di rumah. Setelah insiden itu, suasana berubah menjadi getir dan sunyi ketika boneka patah dan kepala pecah: simbol kehilangan yang tak tergantikan bagi anak kecil yang polos.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah pesan moral agar orang tua tidak melampiaskan kemarahan kepada anak-anak atau hal-hal yang mereka cintai. Puisi ini menjadi pengingat bahwa setiap tindakan kekerasan sekecil apa pun bisa meninggalkan luka mendalam di jiwa seorang anak. Sherly Malinton seolah berbicara kepada semua orang dewasa bahwa anak tidak membutuhkan hukuman atau bentakan untuk belajar — mereka butuh pengertian, kesabaran, dan cinta.
Lebih jauh, penyair juga ingin menyampaikan bahwa trauma anak sering muncul dalam bentuk yang tak disadari — seperti mimpi atau igauan. Itu artinya luka batin tidak hilang begitu saja, melainkan terus hidup dalam bawah sadar hingga dewasa.
Imaji
Puisi ini menampilkan imaji visual dan emosional yang sangat kuat.
- Imaji visual tampak pada larik “Boneka plastik milikku satu-satunya, kini telah patah dan kepalanya pecah”, yang menggambarkan dengan jelas tragedi kecil yang memilukan.
- Imaji emosional muncul dari seruan “Ah jangan Papa, jangan!”, yang membuat pembaca merasakan langsung ketegangan dan ketakutan anak.
- Imaji suara hadir melalui teriakan dan tangisan yang seolah bergema dalam kesunyian malam, memperkuat kesan bahwa anak itu memendam trauma yang tak tersuarakan.
Imaji-imaji ini membuat puisi terasa hidup dan mampu menggetarkan emosi pembaca.
Majas
Sherly Malinton menggunakan beberapa majas (gaya bahasa) untuk memperdalam makna emosional puisinya:
- Repetisi (pengulangan) – Kalimat “Ah jangan Papa, jangan!” diulang dua kali untuk menegaskan rasa takut dan kepanikan anak.
- Personifikasi – Boneka digambarkan seolah “tidak bersalah”, seakan-akan memiliki perasaan, sehingga pembaca lebih mudah merasakan simpati.
- Metafora – Boneka yang pecah menjadi simbol dari hati dan kebahagiaan anak yang juga hancur akibat kekerasan.
- Hiperbola – Rasa takut dan sedih anak digambarkan secara berlebihan namun efektif, untuk menekankan dampak besar dari peristiwa kecil di mata orang dewasa.
Puisi “Seorang Anak Mengigau dalam Tidur” karya Sherly Malinton merupakan karya pendek namun sarat makna, yang menyoroti sisi gelap kehidupan keluarga dari perspektif anak kecil. Melalui suara yang lirih dan jujur, penyair menggugah kesadaran pembaca tentang pentingnya kasih sayang dan kelembutan dalam mendidik anak.
Tema, makna tersirat, dan imaji dalam puisi ini berpadu membentuk pesan universal bahwa kekerasan sekecil apa pun dapat meninggalkan luka abadi di hati anak. Puisi ini mengajak kita untuk berhenti sejenak, menatap kembali cara kita memperlakukan anak-anak — apakah kita sedang mendidik, atau tanpa sadar sedang melukai?
Dengan kesederhanaannya, Sherly Malinton berhasil menuliskan puisi yang bukan hanya menyentuh, tetapi juga menggugah nurani: jeritan seorang anak kecil yang mengigau ternyata bisa lebih lantang dari ribuan suara yang berteriak di dunia nyata.
Karya: Sherly Malinton
Biodata Sherly Malinton:
- Sylvia Sherly Maria Catharina Malinton lahir pada tanggal 24 Februari 1963 di Jakarta.