Puisi: Seorang Lelaki di Benteng Fort Rotterdam (Karya Afrizal Malna)

Puisi "Seorang Lelaki di Benteng Fort Rotterdam" karya Afrizal Malna bercerita tentang seorang penyair yang menjumpai sosok lelaki misterius di ...
Seorang Lelaki di Benteng Fort Rotterdam

Saya temui lelaki itu, sisa-sisa tubuh sebuah koloni di bangunan tua lantai atas, Benteng Fort Rotterdam. Ia seperti hempasan ombak Pantai Losari, membuat bantal tidur saya berkeringat di malam hari. Udara laut membuat sebuah lubang di pintu, lalu bercerita tentang hantu-hantu tentara berbaris, jeritan perempuan dari sumur tua, dan biskuit di piring seketika habis oleh kerubungan semut merah.

Benteng Fort Rotterdam jadi bulu kudukku yang berdiri, di antara bangunan tua tempat anak-anak kursus bahasa Inggris. Mereka tak mengenalnya: seorang lelaki memancang tubuhnya pada tembok-tembok Benteng Somba Opu, dari serangan meriam Kompeni yang mengepungnya dari laut. Saya merasa sendiri dengan sepatu buatan Jerman di kaki saya, bersama udara laut yang tak henti mengirim garam halus di bibir saya. Kisah itu membuat batu berjatuhan pada kalimat-kalimatnya. Keras. Urat di tangan menutup malam.

Siang hari, peperangan dengan Kompeni berlangsung kembali, dengan kursus-kursus bahasa Inggris, musik-musik metal dalam kendaraan-kendaraan umum, film-film Amerika di TV, anggaran belanja daerah ....

Ram, sahabatku, aku tinggalkan seorang lelaki di lantai atas bangunan tua itu. Mengucur hingga tempat tidur ibumu.

1994

Analisis Puisi:

Afrizal Malna dikenal sebagai penyair dengan gaya puitik yang khas, penuh imaji konkret, simbolis, dan seringkali menyelipkan kritik sosial-budaya. Salah satu puisinya yang kuat adalah "Seorang Lelaki di Benteng Fort Rotterdam", yang menggambarkan pertemuan penyair dengan bayangan sejarah di sebuah benteng peninggalan kolonial di Makassar. Puisi ini memperlihatkan pertautan antara masa lalu, masa kini, dan kehidupan modern yang tidak sepenuhnya bebas dari bayang-bayang kolonialisme.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjumpaan antara sejarah kolonial dan kehidupan modern. Afrizal menyoroti bagaimana benteng, lelaki misterius, dan kisah masa lalu berbaur dengan gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat kontemporer.

Puisi ini bercerita tentang seorang penyair yang menjumpai sosok lelaki misterius di Benteng Fort Rotterdam. Lelaki itu seolah merupakan perwujudan dari masa lalu: sisa-sisa kolonialisme, peperangan, penderitaan rakyat, dan kenangan yang membekas pada batu-batu benteng. Kehadiran sosok itu membawa nuansa mistis—kisah hantu-hantu, jeritan perempuan, hingga peperangan melawan Kompeni. Namun, di tengah semua itu, dunia modern tetap berjalan: kursus bahasa Inggris, musik metal, film-film Amerika, bahkan anggaran belanja daerah.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang, melainkan selalu hidup di balik kehidupan sehari-hari. Benteng Fort Rotterdam bukan sekadar bangunan tua, tetapi saksi bisu kolonialisme yang kini “ditempati” kembali oleh realitas modern yang ironisnya masih mengandung jejak hegemoni asing—melalui bahasa, budaya populer, dan pola konsumsi. Sosok lelaki itu menjadi metafora bagi roh sejarah yang menuntut untuk diingat, meskipun masyarakat masa kini sering mengabaikannya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah mistis, mencekam, dan penuh kegelisahan. Ada ketegangan antara ketenangan siang hari dengan peperangan yang “hidup kembali” dalam imajinasi penyair. Aura horor hadir melalui gambaran hantu-hantu tentara, jeritan perempuan, dan semut merah yang menghabiskan biskuit. Namun, suasana itu bercampur dengan realitas banal sehari-hari yang justru menambah kontras dan ironi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat ditangkap adalah pentingnya mengingat sejarah dan menyadari jejak kolonialisme yang masih hidup dalam budaya modern. Penyair seolah ingin mengingatkan bahwa kita tidak boleh terbuai oleh modernitas yang justru melanjutkan bentuk-bentuk penjajahan baru, baik dalam bentuk bahasa, hiburan, maupun gaya hidup.

Imaji

Afrizal Malna dikenal sebagai penyair yang kaya dengan imaji visual dan sensorik. Dalam puisi ini, imaji yang muncul antara lain:
  • Visual: “sisa-sisa tubuh sebuah koloni di bangunan tua lantai atas,” “biskuit di piring seketika habis oleh kerubungan semut merah,” “tembok-tembok Benteng Somba Opu.”
  • Auditori: “jeritan perempuan dari sumur tua,” “musik-musik metal dalam kendaraan umum.”
  • Kinestetik: “batu berjatuhan pada kalimat-kalimatnya,” “urat di tangan menutup malam.”
Imaji tersebut memperkuat nuansa puisi yang realistis sekaligus penuh horor sejarah.

Majas

Afrizal menggunakan sejumlah majas dalam puisinya, di antaranya:
  • Metafora: “Benteng Fort Rotterdam jadi bulu kudukku yang berdiri” menggambarkan rasa takut dan ngeri yang melekat pada diri penyair.
  • Personifikasi: “udara laut membuat sebuah lubang di pintu, lalu bercerita” memberi sifat manusia pada elemen alam.
  • Simile: “Ia seperti hempasan ombak Pantai Losari” membandingkan sosok lelaki dengan kekuatan alam.
  • Hiperbola: “kisah itu membuat batu berjatuhan pada kalimat-kalimatnya” yang menegaskan betapa beratnya kisah sejarah yang diceritakan.
Puisi "Seorang Lelaki di Benteng Fort Rotterdam" karya Afrizal Malna adalah karya yang mempertemukan masa lalu kolonial dengan realitas modern. Melalui simbol lelaki misterius, Afrizal menunjukkan bahwa sejarah adalah roh yang terus hadir di antara kehidupan sehari-hari, dan masyarakat perlu belajar darinya agar tidak terjebak dalam bentuk kolonialisme baru. Dengan imaji yang kuat, suasana mistis, serta majas yang tajam, puisi ini menghadirkan pengalaman membaca yang intens sekaligus reflektif.

Puisi Afrizal Malna
Puisi: Seorang Lelaki di Benteng Fort Rotterdam
Karya: Afrizal Malna

Biodata Afrizal Malna:
  • Afrizal Malna lahir pada tanggal 7 Juni 1957 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.