Sistem
Yang kita yakini benar, belum tentu sepenuhnya benar, saat ini
yang kita ketahui benar, belum tentu mutlak benar, saat ini
karena itu Bandung yang dulu lautan api kini bagai dikalahkan rajawali
dan seorang abang beca hari ini diam-diam menggantung diri
(ia kena razzia, becanya disita, padahal angsurannya lunas hari itu juga)
Yang kita cita-citakan sekuat-kuat iman, belum tentu absah, ditinjau dari satu sisi
yang kita pelihara sehabis-habis daya, belum tentu indah, dipandang dari kutub sini
karena itu segelintir hakim disergah, hingga contempt of court diberlakukan secepatnya
tak lama sebuah kantor pengacara gulung tikar begitu saja di Jakarta
(pengacara itu menegur hakim dengan berani, di sebuah sidang perkara subversi)
Nilai-nilai yang kita tekuni di sekolah, sering tak hadir di kehidupan nyata, jauh dari nyata
aturan main yang kita pelihara, acapkali terbukti bukan apa-apa, betapa nisbinya
dan semua seperti akan sia-sia, sistem, itu apik durjana
lantas mereka turun ke arena, ikat kepala merah di mana-mana
(hari itu seorang pemimpin bangkit dari kuburnya dan dinobatkan di jalan-jalan raya)
Sumber: Horison (September, 1988)
Analisis Puisi:
Puisi "Sistem" karya Isma Sawitri menggambarkan kritik terhadap sistem dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Melalui penggunaan bahasa yang tajam dan gambaran yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan ketidakpastian dan ketidakadilan dalam sistem yang ada.
Ketidakpastian dalam Keyakinan dan Pengetahuan: Puisi dibuka dengan pengakuan bahwa apa yang kita yakini dan ketahui saat ini belum tentu sepenuhnya benar atau mutlak benar. Penggunaan kata "saat ini" menekankan pada sifat relatif dan dinamis dari kebenaran. Hal ini mencerminkan realitas bahwa pandangan dan pengetahuan kita dapat berubah seiring waktu.
Ketidakadilan dalam Kehidupan Sehari-hari: Dengan memberikan contoh tentang Bandung yang dulu lautan api dan seorang abang beca yang mengakhiri hidupnya, puisi menyoroti ketidakadilan dan perubahan nasib yang tidak dapat diprediksi. Kasus abang beca yang menggantung diri setelah becanya disita menunjukkan bagaimana keputusan atau tindakan sistem dapat memberikan dampak yang besar pada kehidupan individu.
Cita-Cita yang Tidak Selalu Terwujud: Puisi menyatakan bahwa apa yang kita cita-citakan belum tentu dapat terwujud dengan kuat iman. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Gambaran Bandung yang dulu lautan api kini bagai dikalahkan rajawali mencerminkan perubahan yang tak terduga dan kontras.
Ketidaksebandingan antara Nilai dan Kenyataan: Penyair menyoroti ketidaksebandingan antara nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dan kehidupan nyata. Aturan main yang dijaga acapkali tidak sesuai dengan kenyataan, dan hal ini dapat menimbulkan kekecewaan. Kritik terhadap nisbi aturan dan sistem tampak melalui gambaran hakim yang disergah dan kantor pengacara yang gulung tikar.
Ketidakpastian dalam Perubahan Sosial dan Politik: Puisi menyajikan gambaran tentang pemimpin yang bangkit dari kuburnya dan dinobatkan di jalan-jalan raya. Ini menciptakan citra ketidakpastian dalam perubahan politik dan sosial yang seringkali tidak terduga dan di luar kendali individu.
Puisi "Sistem" karya Isma Sawitri merupakan karya puisi yang menggugah untuk merenungkan kompleksitas kehidupan dan sistem yang ada. Melalui bahasa yang kuat dan gambaran yang tajam, penyair membawa pembaca masuk ke dalam dunia ketidakpastian, ketidakadilan, dan ketidaksebandingan antara idealisme dan kenyataan. Puisi ini mengajak kita untuk lebih kritis terhadap sistem yang mengatur kehidupan kita dan meresapi kompleksitas dinamika sosial dan politik.
Karya: Isma Sawitri
Biodata Isma Sawitri:
- Isma Sawitri lahir pada tanggal 21 November 1940 di Langsa, Aceh.
