Subuh
Kubasuh peluh dengan tasbih
Kubersimpuh khusyuk
Bersama-Mu
Subuh
Bersama nyanyian sekawanan katak
Dalam rintik halus
Semilir angin melewati wajah basah
Atas salah yang membalut jiwa
Subuh
Di mana sekelompok manusia
Bermujanat atas segala hasrat
Yang telah tersirat dalam benak
Yang tak mau terlewat
Dalam rahmat-Mu
Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)
Analisis Puisi:
Puisi “Subuh” karya Emi Fauziati menghadirkan pengalaman spiritual dan kedekatan dengan alam pada waktu pagi. Dalam buku Surat dari Samudra, puisi ini menonjol karena memadukan nuansa religius dengan observasi alam, sehingga memberikan pengalaman reflektif bagi pembaca anak. Melalui bahasa yang sederhana dan lirih, penyair menekankan kesadaran diri, ketenangan, dan doa di waktu subuh.
Tema
Tema puisi ini adalah ketenangan spiritual, doa, dan kesadaran diri pada waktu subuh. Puisi ini menekankan momen pagi sebagai waktu untuk introspeksi, menghapus kesalahan, dan berkomunikasi dengan Tuhan. Selain itu, tema ini memadukan pengalaman alam—nyanyian katak, rintik hujan, semilir angin—sebagai bagian dari keselarasan spiritual.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang saat subuh, yang dimulai dengan membersihkan diri secara simbolis (“Kubasuh peluh dengan tasbih”) dan bersimpuh khusyuk kepada Tuhan.
Selanjutnya, penyair mengamati alam di sekitarnya: sekawanan katak bernyanyi, rintik hujan halus, dan angin yang menyapu wajah basah, semua menjadi bagian dari suasana introspektif. Di bait terakhir, digambarkan sekelompok manusia yang bermujanat atau bermunajat, menyampaikan doa dan hasrat yang tersirat dalam benak mereka, meminta rahmat Tuhan. Puisi ini memadukan pengalaman pribadi dengan observasi sosial, menciptakan rasa kedekatan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa waktu subuh adalah saat yang tepat untuk introspeksi, mensucikan diri, dan memohon ampunan serta rahmat Tuhan. Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa alam turut menjadi saksi dan pengiring proses spiritual manusia, dengan suara dan gerakannya yang menenangkan jiwa.
Puisi ini juga mengajarkan nilai kedekatan dengan Tuhan melalui doa, refleksi diri, dan kesadaran atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi terasa tenang, khusyuk, dan damai. Bait-bait awal menimbulkan kesan hening dan reflektif saat penyair bersimpuh, sedangkan bait tengah menampilkan nuansa alam yang lembut—nyanyian katak, rintik hujan, dan semilir angin—yang menambah ketenangan. Suasana ini berpadu dengan nuansa spiritual dan penuh harap, terutama ketika menyebutkan sekelompok manusia bermunajat, menghadirkan rasa kedamaian dan ketenangan batin.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat puisi ini adalah bahwa waktu subuh dapat menjadi momen untuk membersihkan jiwa, berintrospeksi, dan berdoa. Anak-anak diajak untuk:
- Menyadari pentingnya refleksi diri dan ketenangan batin.
- Menghargai alam sebagai bagian dari pengalaman spiritual.
- Memahami nilai doa dan permohonan rahmat Tuhan sejak dini.
Pesan moral ini menanamkan kesadaran religius dan hubungan harmonis dengan alam kepada pembaca muda.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji visual, auditorial, dan gerak:
- “Bersama nyanyian sekawanan katak / Dalam rintik halus / Semilir angin melewati wajah basah” → imaji visual dan auditorial yang menghadirkan suasana subuh yang tenang dan damai.
- “Kubasuh peluh dengan tasbih / Kubersimpuh khusyuk” → imaji gerak yang menggambarkan ritual spiritual.
- “Sekelompok manusia bermujanat atas segala hasrat” → imaji sosial dan spiritual yang menekankan kesadaran kolektif akan doa dan harapan.
Imaji-imaji ini membuat pembaca dapat merasakan kedamaian subuh dan pengalaman reflektif penyair.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Majas personifikasi, terlihat pada alam yang seolah bernyanyi dan menyertai proses spiritual manusia (nyanyian katak, semilir angin).
- Majas apostrof, pada sapaan “Bersama-Mu”, yang seakan penyair berbicara langsung kepada Tuhan.
- Majas repetisi, terlihat pada pengulangan kata “Subuh” di beberapa bait, yang menekankan keistimewaan waktu pagi sebagai momen refleksi dan doa.
Puisi “Subuh” karya Emi Fauziati adalah puisi anak yang sederhana namun sarat makna spiritual dan reflektif. Puisi ini mengajarkan bahwa waktu subuh adalah momen berharga untuk introspeksi, membersihkan jiwa, dan bersyukur kepada Tuhan.
Dengan bahasa yang lirih, imaji alam yang kuat, dan nuansa khusyuk, puisi ini berhasil menghadirkan pengalaman spiritual yang damai bagi anak-anak. Anak-anak diajak untuk menghargai ketenangan subuh, memahami hubungan dengan alam, dan menumbuhkan kesadaran religius sejak dini.
Puisi ini menunjukkan bahwa pendidikan moral dan spiritual dapat disampaikan melalui pengalaman sehari-hari yang dekat dengan kehidupan anak, membuat nilai-nilai religius terasa alami dan menyenangkan.
Karya: Emi Fauziati
Biodata Emi Fauziati:
- Dra. Hj. Emi Fauziati, lahir pada tanggal 10 Januari 1968 di Brebes.
- Emi adalah penerima penghargaan lomba Karya Tulis Peningkatan IMTAQ Siswa tahun 2007 dan pemenang lomba penulis artikel Anti Hoax yang diselenggarakan oleh PGRI Jawa Tengah tahun 2017.
- Selain itu, ia penulis novel Relung Kehidupan (2018) dan ikut menyumbangkan puisi ke dalam Antologi Puisi Guru (2018).