Puisi: Teman (Karya Hidar Amaruddin)

Puisi “Teman” karya Hidar Amaruddin merupakan karya sederhana yang memancarkan makna

Teman


Setiap orang pasti pernah terjatuh
Merasa kesakitan berhambur peluh
Ingin menangis tapi takut ditertawakan
Untungnya aku masih punya teman yang rela berkorban.

Tugas rumah belum tertulis
Lagi-lagi aku ingin menangis
Tiba-tiba ia menepuk bahuku
Dan berkata: sudah, sini aku bantu.

Ketika pulang aku berjalan sendirian
Sunyi rasanya tak berpegangan tangan
Sepeda rusak tanpa ada tanggapan
Lambaian tangan dari kejauhan menyadarkan
: ayo kita pulang bebarengan.

Semarang, Januari 2018

Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Teman” karya Hidar Amaruddin menampilkan potret sederhana namun menyentuh tentang arti persahabatan sejati. Melalui bahasa yang ringan dan situasi keseharian, penyair menyampaikan bagaimana kehadiran seorang teman dapat menjadi penguat di saat sulit, pelipur di saat sedih, dan cahaya kecil yang menghangatkan hari-hari kelabu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah persahabatan dan ketulusan hati. Penyair menyoroti betapa berharganya seorang teman yang hadir di saat kita terjatuh, bersedia membantu tanpa pamrih, dan menemani dalam kesendirian.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang menghadapi kesulitan dan kesepian, namun merasa beruntung karena memiliki seorang teman sejati.

Dalam bait-baitnya, penyair menggambarkan situasi konkret seperti kelelahan, tugas sekolah yang belum selesai, atau sepeda yang rusak. Namun, di setiap kesulitan itu selalu ada sosok teman yang hadir memberikan dukungan dan bantuan.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah betapa pentingnya nilai empati dan kebersamaan dalam kehidupan. Persahabatan bukan hanya tentang kebahagiaan bersama, tetapi juga tentang saling menopang dalam keterpurukan.

Penyair seolah ingin mengatakan bahwa kehadiran seorang teman sejati bisa menjadi pengganti kekuatan, harapan, bahkan keluarga dalam momen-momen rapuh seseorang.

Suasana dalam puisi

Suasana yang tergambar dalam puisi ini adalah hangat, bersahabat, dan penuh ketulusan. Ada kesedihan di awal — ketika tokoh merasa lelah dan ingin menangis — tetapi suasana berubah menjadi hangat ketika teman hadir. Akhir puisi ditutup dengan perasaan nyaman dan gembira, menandakan bahwa kehadiran seorang teman mampu mengubah kesunyian menjadi kebersamaan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah pentingnya menghargai dan menjaga persahabatan. Teman sejati adalah sosok langka yang tidak hanya hadir saat kita tertawa, tetapi juga saat kita menangis dan membutuhkan bantuan.

Penyair mengingatkan pembaca agar tidak menyepelekan arti seorang teman dan belajar untuk menjadi sosok yang juga mampu hadir bagi orang lain.

Imaji

Puisi ini memunculkan imaji visual dan perasaan yang kuat:
  • Imaji visual: “ia menepuk bahuku,” “lambaian tangan dari kejauhan,” “sepeda rusak” — semua menggambarkan adegan yang nyata dan mudah dibayangkan.
  • Imaji perasaan: perasaan sedih, kesepian, dan kemudian bahagia ketika disemangati teman, membuat pembaca ikut merasakan kehangatan emosional dari persahabatan tersebut.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Hiperbola – “Merasa kesakitan berhambur peluh” menggambarkan penderitaan secara berlebihan untuk menegaskan perasaan tokoh.
  • Personifikasi – “Sunyi rasanya tak berpegangan tangan” seolah-olah sunyi memiliki rasa atau emosi.
  • Repetisi – Pengulangan kata “menangis” memperkuat suasana sedih dan kelelahan tokoh sebelum akhirnya terhibur oleh kehadiran teman.
  • Metafora – “Lambaian tangan dari kejauhan menyadarkan” digunakan untuk menggambarkan kehadiran teman sebagai simbol harapan dan kenyamanan.
Puisi “Teman” karya Hidar Amaruddin merupakan karya sederhana yang memancarkan makna mendalam tentang arti kebersamaan dan persahabatan sejati. Dengan bahasa yang ringan dan situasi yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, puisi ini menyentuh sisi emosional pembaca: bahwa di tengah kesulitan hidup, kehadiran seorang teman dapat menjadi penolong dan penghangat jiwa.

Puisi ini mengajarkan bahwa teman sejati bukan diukur dari seberapa sering tertawa bersama, tetapi seberapa tulus ia hadir di saat kita membutuhkan.

Hidar Amaruddin
Puisi: Teman
Karya: Hidar Amaruddin

Biodata Hidar Amaruddin:
  • Hidar Amaruddin lahir pada tanggal 16 Desember 1995 di Kudus.
© Sepenuhnya. All rights reserved.