Sumber: Wajah Kita (1981)
Analisis Puisi:
Puisi "Tentang Selamat" karya Hamid Jabbar adalah sebuah karya yang penuh dengan refleksi mendalam tentang waktu, kegelapan, rindu, dan harapan. Melalui dua bagian yang berbeda, penyair menggambarkan kompleksitas hubungan manusia dengan alam dan eksistensi mereka dalam mencari makna dan keselamatan.
Puisi "Tentang Selamat" (I)
- Tema Sentral: Kegelapan dan Waktu: Puisi bagian pertama menggambarkan suasana yang gelap dan ketidakpastian yang melingkupi hubungan antara manusia dengan waktu dan alam. Dialog antara "Selamat Siang," "Selamat Sore," dan "Selamat Malam," merujuk pada interaksi yang terfragmentasi antara manusia dan lingkungannya yang tak selalu harmonis. Ketidakmampuan untuk merespons dengan sepenuh hati mencerminkan kebingungan dan jarak emosional yang mungkin ada di antara mereka.
- Metafora Alam: Matahari, Bulan, dan Bintang: Penyair menggunakan metafora alam seperti matahari yang meluncurkan diri serta cahayanya, bulan yang batuk-batuk, dan halilintar sebagai dahaknya yang menggambarkan ketidaksempurnaan alam dan kondisi manusia. Ini menciptakan gambaran tentang kehidupan yang penuh dengan kejutan dan ketidakpastian yang tak terduga.
- Pertanyaan Eksistensial: Puisi ini dipenuhi dengan pertanyaan eksistensial yang menyoroti perenungan akan keberadaan dan makna hidup. Pertanyaan-pertanyaan seperti "Siapakah yang menggerakkan matahari begitu anehnya?" dan "Apakah yang terempas di dadaku: kering atau rindu?" mengundang pembaca untuk merenungkan kompleksitas hubungan manusia dengan alam semesta.
Puisi "Tentang Selamat" (II)
- Tuntutan untuk Keselamatan: Bagian kedua puisi menggambarkan aspirasi manusia untuk keselamatan yang hakiki dalam konteks sosial dan alamiah. Permohonan untuk "Selamatkan negeri ini" mencerminkan keinginan untuk menjaga dan melestarikan kehidupan, alam, dan kebijaksanaan.
- Gambaran Alam dan Perjuangan: Gambaran laut dan gunung yang bertemu, gemuruh dan sunyi yang berpadu, serta kilat dan guruh yang berseru, menciptakan lukisan alam yang dramatis. Ini menggambarkan perjuangan manusia dalam menghadapi tantangan dan mencari arti hidup mereka di tengah misteri keberadaan.
- Keagungan dan Kesucian: Puisi ini merayakan keindahan alam dan kekuatan alamiahnya, sambil menyerukan perlindungan terhadap kearifan lokal dan alam semesta. Hal ini diungkapkan melalui bahasa yang bersemangat dan penggunaan gambaran yang kuat tentang "pantai berkarang" dan "lambai juang".
Puisi "Tentang Selamat" karya Hamid Jabbar adalah sebuah refleksi mendalam tentang hubungan manusia dengan alam, waktu, dan eksistensi mereka sendiri. Dengan menggunakan gambaran alam yang kuat dan pertanyaan eksistensial yang dalam, penyair berhasil menciptakan karya yang mengundang pembaca untuk merenungkan makna keselamatan, keberadaan, dan peran manusia dalam menjaga harmoni dengan alam semesta. Dengan demikian, puisi ini tidak hanya menyentuh ranah emosional, tetapi juga intelektual pembaca yang merenungkan makna mendalam di balik kata-kata yang dipilih dengan cermat.
Karya: Hamid Jabbar
Biodata Hamid Jabbar
- Hamid Jabbar (nama lengkap Abdul Hamid bin Zainal Abidin bin Abdul Jabbar) lahir 27 Juli 1949, di Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat.
- Hamid Jabbar meninggal dunia pada tanggal 29 Mei 2004.
