Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Upacara Perkawinan Langit (Karya Oka Rusmini)

Puisi “Upacara Perkawinan Langit” karya Oka Rusmini bercerita tentang observasi penyair terhadap “upacara” yang dilakukan di pesisir, di mana alam ...

Upacara Perkawinan Langit


upacara apa yang dipentaskan para awak di pesisir
tariannya mengusik kenyamanan butir padi
pohon-pohon muda merundukkan daunnya
matahari meminjamkan kematiannya

kata-katamu
kaubawa melintasi kemurungan laut
meneteskan dongeng-dongeng kecil
membenihkan suara kanak-kanak
yang lahir dari potongan daging

matamu
tak pernah mengeja perjalanan
yang kaubuat dengan darah dan pinjaman usia
pada siapa pecahan keangkuhan itu kautaburkan

langit tak mengajari kebijaksanaan
karena kau membenamkan kedua kakiku dengan ragu

malammu hanya berhias mimpi seragam yang kaukuntit
dari beratus kitab yang kaueja
untuk memulangkan kesepian pada benih malam

orang-orang
tak berani menyebut namamu
karena langit telah kaumiliki

aku berada di antara pinangan mimpimu

bagiku
kau kanak-kanak yang kehilangan mata dadu

1994

Sumber: Warna Kita (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Upacara Perkawinan Langit” karya Oka Rusmini adalah karya yang sarat dengan simbolisme dan imaji, menghadirkan suasana mistis sekaligus reflektif. Puisi ini menyuguhkan narasi imajinatif tentang manusia, alam, dan pengalaman eksistensial yang saling terkait.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan eksistensial manusia dan hubungan simbolis dengan alam. Penyair menyoroti kehidupan, kematian, dan pengalaman manusia dalam mengarungi waktu serta ruang simbolis yang sering bersinggungan dengan alam dan langit.

Puisi ini bercerita tentang observasi penyair terhadap “upacara” yang dilakukan di pesisir, di mana alam dan manusia seolah saling mempengaruhi. Dari tarian yang “mengusik butir padi” hingga pohon-pohon yang merunduk, puisi ini menciptakan narasi simbolik tentang kehidupan, mimpi, dan kesepian manusia. Penyair juga menghadirkan tokoh imajiner yang bermimpi, belajar, dan mencoba memahami dunia, tetapi tetap tersesat dalam ragu dan kesepian.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap perjalanan hidup manusia yang penuh dengan ambisi, kesepian, dan ketidakpastian. “Langit” dan “upacara perkawinan” dapat dimaknai sebagai simbol harapan, transendensi, atau pencarian kebijaksanaan.

Selain itu, puisi ini juga menyiratkan konflik antara keinginan manusia dan keterbatasan eksistensial, di mana pengetahuan, mimpi, dan pengalaman tidak selalu menjamin kebijaksanaan atau kepuasan batin.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang tercipta adalah misterius, mistis, dan melankolis. Imaji tarian di pesisir, matahari yang “meminjamkan kematiannya”, dan benih malam membentuk atmosfer yang tenang sekaligus menegangkan, seakan pembaca berada di antara alam nyata dan alam simbolik.

Suasana ini juga memberi kesan kontemplatif, mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan alam, waktu, dan mimpi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan amanat tentang kesadaran eksistensial manusia. Bahwa manusia, meski belajar dan bermimpi, tetap harus menghadapi ketidakpastian hidup dan kesepian batin. Selain itu, puisi ini juga mengingatkan tentang kerentanan manusia di hadapan alam dan waktu, serta perlunya refleksi diri dalam perjalanan hidup.

Imaji

Beberapa imaji yang menonjol:
  • “Tariannya mengusik kenyamanan butir padi” → imaji visual yang menyiratkan interaksi simbolik antara manusia dan alam.
  • “Matahari meminjamkan kematiannya” → imaji metaforis tentang siklus hidup dan waktu.
  • “Benih malam” → imaji abstrak yang menekankan misteri, mimpi, dan eksistensi manusia.
Imaji-imaji ini menghadirkan pengalaman sensorik sekaligus reflektif, mengajak pembaca memasuki dunia puisi yang kaya simbol.

Majas

Beberapa majas yang digunakan antara lain:
  • Personifikasi – “matahari meminjamkan kematiannya”, memberi sifat manusia pada alam.
  • Metafora – “benih malam”, melambangkan mimpi, harapan, atau eksistensi manusia.
  • Hiperbola – “langit telah kaumiliki”, menekankan dominasi atau kekuasaan simbolik langit atas manusia.
Puisi “Upacara Perkawinan Langit” karya Oka Rusmini adalah refleksi mendalam tentang kehidupan, kesepian, mimpi, dan hubungan manusia dengan alam. Dengan tema eksistensial, penggunaan imaji yang kuat, dan majas simbolik, puisi ini berhasil menghadirkan suasana mistis dan kontemplatif. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan perjalanan hidup, mimpi, dan keterbatasan manusia di hadapan alam dan waktu.

Oka Rusmini
Puisi: Upacara Perkawinan Langit
Karya: Oka Rusmini

Biodata Oka Rusmini:
  • Oka Rusmini lahir di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1967.
© Sepenuhnya. All rights reserved.