Puisi: Waktu dan Rambut Putih (Karya Moh Akbar Dimas Mozaki)

Puisi “Waktu dan Rambut Putih” karya Moh Akbar Dimas Mozaki bercerita tentang perjalanan waktu yang membawa perubahan pada orang tua, khususnya ...

Waktu dan Rambut Putih


Waktu berjalan begitu cepat, meninggalkan jejak di rambutmu yang kini memutih.
Aku melihat betapa banyak cinta yang engkau tanam dalam setiap kerut wajahmu.
Semoga waktu bersikap lembut kepadamu, Ayah dan Ibu.

1 November 2025

Analisis Puisi:

Puisi “Waktu dan Rambut Putih” karya Moh Akbar Dimas Mozaki adalah karya yang sederhana namun sarat makna. Dalam tiga barisnya yang padat dan lembut, penyair menyampaikan perasaan haru, hormat, dan kasih sayang kepada orang tua. Puisi ini menjadi refleksi puitis tentang perjalanan waktu, pengorbanan, dan ketulusan cinta orang tua yang tidak pernah berhenti.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penghargaan terhadap orang tua dan ketulusan cinta mereka yang abadi. Penyair menyoroti perubahan fisik—rambut yang memutih dan wajah yang berkerut—sebagai simbol dari perjalanan panjang penuh pengorbanan dan kasih sayang. Melalui tema ini, puisi mengingatkan pembaca untuk menyadari betapa berharganya waktu dan jasa orang tua.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan waktu yang membawa perubahan pada orang tua, khususnya pada rambut yang memutih dan wajah yang berkerut. Setiap perubahan itu bukan sekadar tanda usia, melainkan bukti dari cinta dan pengorbanan yang telah mereka berikan demi anak-anaknya. Penyair menatap kedua orang tuanya dengan penuh rasa syukur dan doa, berharap waktu berlaku lembut kepada mereka yang telah berjasa besar dalam hidupnya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kesadaran anak terhadap pengorbanan dan ketulusan cinta orang tua yang tidak tergantikan oleh apa pun. Rambut putih dan keriput bukanlah tanda kelemahan, melainkan lambang perjuangan dan kasih yang tulus. Di balik setiap tanda penuaan, terdapat cerita panjang tentang kesabaran, pengorbanan, dan doa yang tak pernah putus. Puisi ini juga menyiratkan rasa penyesalan halus—bahwa waktu berjalan terlalu cepat, sementara kasih orang tua kadang baru benar-benar kita sadari setelah mereka menua.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah haru, lembut, dan penuh penghormatan. Penyair menghadirkan nuansa reflektif dan melankolis, seolah sedang memandangi orang tuanya dengan mata yang mulai mengerti arti cinta sejati. Tidak ada kesedihan mendalam, melainkan ketenangan yang penuh doa dan rasa terima kasih.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah pentingnya menghargai dan mencintai orang tua selagi mereka masih ada. Penyair ingin menyampaikan bahwa waktu tidak bisa diulang; setiap detik yang berlalu membawa kita dan orang tua menuju usia senja. Karena itu, sudah sepatutnya kita membalas cinta mereka dengan perhatian, doa, dan kasih yang tulus. Puisi ini mengajak kita untuk tidak menunggu penyesalan datang ketika semuanya sudah terlambat.

Imaji

Puisi ini mengandung imaji visual yang kuat dan lembut.
  • “rambutmu yang kini memutih” menggambarkan perubahan fisik orang tua akibat waktu.
  • “setiap kerut wajahmu” menghadirkan gambaran nyata tentang perjalanan panjang hidup dan pengorbanan.
Imaji tersebut membuat pembaca bisa membayangkan sosok orang tua yang menua dengan damai, namun tetap memancarkan kasih tanpa syarat.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “waktu bersikap lembut kepadamu” memberikan sifat manusia kepada waktu, seolah waktu dapat berbelas kasih.
  • Metafora: “jejak di rambutmu yang kini memutih” merupakan perumpamaan tentang usia dan perjalanan hidup.
Kedua majas ini memperkuat suasana lembut sekaligus menghidupkan pesan emosional dalam puisi.

Puisi “Waktu dan Rambut Putih” karya Moh Akbar Dimas Mozaki merupakan ungkapan kasih dan penghargaan mendalam kepada orang tua. Melalui simbol rambut putih dan kerut wajah, penyair menyoroti hubungan antara waktu, cinta, dan pengorbanan. Ia mengajak pembaca untuk merenungkan betapa berharganya kehadiran ayah dan ibu—dua sosok yang terus memberi tanpa meminta imbalan. Pada akhirnya, puisi ini menjadi pengingat lembut bahwa waktu tak bisa dihentikan, namun cinta dan doa kita dapat menjadi cara terbaik untuk membalas kasih yang telah mereka tanam sepanjang hidup.

Moh Akbar Dimas Mozaki
Puisi: Waktu dan Rambut Putih
Karya: Moh Akbar Dimas Mozaki

Biodata Moh Akbar Dimas Mozaki:
  • Moh Akbar Dimas Mozaki, mahasiswa S1 Sastra Indonesia, Universitas Andalas.
© Sepenuhnya. All rights reserved.