Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Sajak untuk Emi (Karya Subagio Sastrowardoyo)

Puisi "Sajak untuk Emi" karya Subagio Sastrowardoyo mengeksplorasi berbagai dimensi hubungan antara dua ...
Sajak untuk Emi (1)

Yang kuingat hanya jarimu yang meraba bibirku
dan kau berkata: "Kapan kebebasan ini
berakhir, kalau seluruh tubuh sudah
diresapi dan kenikmatan tinggal sekeping
logam yang kusam di tangan? Berapa aku
kaubayar semalam?"
Kita tak beringsut dari sudut kamar
tempat kita terdampar. Semua tertutup
kecuali pintu di mana cinta menanti
yang menunjuk ke arah mati.

Sajak untuk Emi (2)

Kau telah membuka dimensi
di mana ruang hilang batas
tak bergaris tak berdinding
tapi mengandung sudut kenangan
bagi nyawa berdua.
Masih terdengar keluh sakit
yang tersayang
dari sela waktu yang menghimpit.
Emi, kita di ambang sorga.

Sajak untuk Emi (3)

Di pulau satu yang tabu
banyak jejak tak kembali.
Yang mencapai sorga hanya mereka yang
dewasa, sedang
perempuan manja
di atas ranjang
hanya tinggal berbaring, malu.
"Aku ingin cepat bobok dan mimpi pacaran
sama papa."

Sajak untuk Emi (4)

Kasih kita yang kudus, Emi
adalah kaca
yang lekas pecah disentuh kata.
Dalam selubung
hubungan kita berlangsung dalam diam
bukan lantaran dendam.
Tapi redamkan suara
kalau mendekati gerbang pura.

Sajak untuk Emi (5)

Sengaja kurenggut topeng di muka
dan kau menyerahkan kehormatanmu
kepadaku yang terlupa.
Tinggal kita bugil
menanggalkan peradaban. Berdua
aku lebih berani berhadapan.
"Di gua semut pun aku mau kalau sama papa,
jangan lagi menghadang maut."

Sajak untuk Emi (6)

Selama cerita diperkenankan
dinding akan bertahan
di malam beku.
Tapi mawar itu di jembangan
yang kupetik tadi siang
mulai layu.
Pungut kelopak bunga, sayang
begitu memabukkan!

Sajak untuk Emi (7)

Jarak yang jauh sepanjang malam
antara diriku dengan tempatmu berada
menyebabkan aku tak tahu apa yang
terjadi. Apakah kau sendirian mengenang
atau tidur dengan orang laki-laki, aku
tak bisa menjadi saksi. Aku
hanya bergantung pada janji,
tapi apa yang kaulakukan
saat ini, aku tetap sangsi.

Sajak untuk Emi (8)

Aku letakkan kepalaku ke dadamu.
Degup jantungmu berulang
tidak hanya pada detik ini tetapi
sudah beribu tahun sebelumnya
ketika ombak menjilat pantai
di hening sorga. Resapkan rasa bahagia
sampai berlinang airmata. "Papa,
inikah yang dinamakan cinta?
Rindu ini sakit sekali."

Sumber: Horison (Mei, 1988)

Analisis Puisi:

Puisi "Sajak untuk Emi" karya Subagio Sastrowardoyo adalah karya yang mengungkapkan tema cinta dan kerinduan melalui serangkaian bagian yang menyentuh. Dalam puisi ini, Subagio mengeksplorasi berbagai dimensi hubungan antara dua insan, mencakup aspek sensualitas, keputusasaan, dan spiritualitas. Melalui lirik yang penuh perasaan dan refleksi mendalam, puisi ini memberikan gambaran kompleks tentang cinta dan kerinduan.
  1. Kesadaran dan Ketergantungan: Bagian pertama membuka puisi dengan kesan yang mendalam dan intens. "Yang kuingat hanya jarimu yang meraba bibirku" mencerminkan sebuah momen intim yang sangat mengesankan. Percakapan yang muncul di bagian ini, di mana Emi bertanya tentang kebebasan dan nilai kenikmatan, menggarisbawahi ketergantungan emosional yang terjalin antara kedua tokoh. Kualitas sensual dari pengalaman mereka ditandai dengan "sekeping logam yang kusam di tangan," menandakan bahwa kenikmatan yang sebelumnya dianggap berharga kini menjadi sesuatu yang pudar. Pintu yang menunjukkan "arah mati" mengisyaratkan bahwa hubungan mereka tidak hanya berkisar pada dunia material, tetapi juga pada dimensi yang lebih dalam dan spiritual.
  2. Dimensi dan Kenangan: Bagian kedua memperkenalkan dimensi baru dalam hubungan mereka. "Kau telah membuka dimensi di mana ruang hilang batas" menggambarkan pergeseran dalam kesadaran yang menyebabkan ruang dan waktu menjadi tidak relevan. Ini menciptakan sebuah pengalaman bersama yang abadi dan penuh makna. Kenangan mereka yang saling terikat melintasi batas-batas fisik dan emosional, sehingga mereka merasa berada di "ambang sorga," sebuah tempat di mana kedekatan mereka mencapai titik tertinggi.
  3. Tabu dan Keterasingan: Bagian ketiga mengeksplorasi tema tabu dan keputusasaan dengan menggunakan pulau yang tabu sebagai simbol. "Di pulau satu yang tabu banyak jejak tak kembali" menunjukkan keterasingan dan kesulitan dalam mencapai kebahagiaan. Perempuan yang "manja di atas ranjang" hanya bisa berharap untuk mimpi indah, mencerminkan ketidakmampuan untuk mencapai kepuasan sejati dalam realitas yang sulit.
  4. Kerapuhan dan Keduanya: Pada bagian keempat, puisi ini menggambarkan hubungan mereka sebagai sesuatu yang rapuh namun berharga. "Kasih kita yang kudus, Emi / adalah kaca" menunjukkan betapa mudahnya hubungan itu hancur jika terpapar kata-kata atau konflik. Hubungan ini berlangsung dalam diam, bukan karena dendam, tetapi karena keduanya memahami kekuatan dan kerapuhan cinta mereka. Keseimbangan antara keheningan dan perasaan menjadi pusat dari hubungan ini.
  5. Kehidupan dan Kebebasan: Bagian kelima menekankan aspek kebebasan dalam hubungan mereka. "Sengaja kurenggut topeng di muka" menunjukkan bahwa mereka saling membuka diri dan melepaskan konvensi sosial. Dengan melepaskan peradaban dan norma, mereka menemukan keberanian untuk menghadapi maut bersama, menggambarkan keintiman yang mendalam dan pengabdian yang tulus.
  6. Kepuasan dan Penurunan: Bagian keenam berbicara tentang kepuasan dan penurunan dalam hubungan. "Selama cerita diperkenankan / dinding akan bertahan" menunjukkan bahwa walaupun ada batasan, hubungan ini masih memiliki makna. Namun, kenyataan juga menunjukkan penurunan, seperti mawar yang mulai layu. "Pungut kelopak bunga, sayang / begitu memabukkan!" menggambarkan keindahan yang bersifat sementara dan bagaimana kenikmatan dalam hubungan ini bisa memabukkan meskipun tidak abadi.
  7. Jarak dan Ketidakpastian: Bagian ketujuh mengeksplorasi tema jarak dan ketidakpastian. Jarak fisik dan emosional antara pasangan menyebabkan ketidakpastian tentang perasaan dan tindakan Emi. "Jarak yang jauh sepanjang malam" menekankan perasaan terasing dan keraguan. Meski bergantung pada janji, ada rasa sangsi tentang apa yang dilakukan Emi saat ini, menandakan ketidakstabilan dan kekhawatiran dalam hubungan mereka.
  8. Cinta dan Kesadaran: Bagian terakhir menciptakan sebuah gambaran yang mendalam tentang cinta dan kesadaran. Dengan "Aku letakkan kepalaku ke dadamu," puisi ini menunjukkan kedekatan emosional dan kesadaran akan waktu yang telah berlalu. Perasaan bahagia yang berlina melalui pengalaman mereka mengarah pada pertanyaan tentang cinta yang sesungguhnya. Rindu yang menyakitkan adalah pengingat dari keindahan dan kompleksitas hubungan mereka.
Puisi "Sajak untuk Emi" karya Subagio Sastrowardoyo adalah sebuah karya yang menggali berbagai dimensi hubungan intim dan emosional antara dua orang. Melalui lirik yang mendalam dan reflektif, Subagio menyampaikan kompleksitas cinta, keputusasaan, dan keindahan dalam pengalaman manusia. Puisi ini bukan hanya sebuah ungkapan cinta, tetapi juga sebuah perjalanan mendalam ke dalam jiwa dan hubungan manusia yang penuh makna.

Subagio Sastrowardoyo
Puisi: Sajak untuk Emi
Karya: Subagio Sastrowardoyo

Biodata Subagio Sastrowardoyo:
  • Subagio Sastrowardoyo lahir pada tanggal 1 Februari 1924 di Madiun, Jawa Timur.
  • Subagio Sastrowardoyo meninggal dunia pada tanggal 18 Juli 1996 (pada umur 72 tahun) di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.