Puisi: Sebait Puisi di Awal Tujuh Delapan (Karya Sherly Malinton)

Puisi “Sebait Puisi di Awal Tujuh Delapan” karya Sherly Malinton bercerita tentang seseorang yang merenungi detik-detik menjelang tahun baru 1978.

Sebait Puisi

Di Awal Tujuh Delapan

Detak-detak jarum jam
Bersatu dalam degup jantungku
Seiring desahan hujan
Dan dentang lonceng penghabisan
Mengawali datangnya
Sembilan belas tujuh delapan.

Malam tahun baru 1978

Sumber: Bunga Anggrek untuk Mama (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1981)

Analisis Puisi:

Puisi “Sebait Puisi di Awal Tujuh Delapan” karya Sherly Malinton adalah karya yang sederhana secara bentuk, tetapi sarat makna secara emosional dan simbolik. Melalui diksi-diksi yang lembut, penyair menghadirkan momen peralihan waktu yang bukan sekadar pergantian tahun, melainkan juga simbol pergantian fase kehidupan, perasaan, dan harapan manusia dalam menyongsong masa depan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perenungan waktu dan makna pergantian tahun. Sherly Malinton menyoroti bagaimana setiap detak waktu menjadi bagian dari denyut kehidupan manusia. Pergantian dari tahun lama ke tahun baru — dalam hal ini “Sembilan belas tujuh delapan” — bukan hanya menandakan perubahan angka, tetapi juga perubahan batin, refleksi diri, serta harapan yang ingin diperbarui.

Tema ini menggambarkan kesadaran penyair terhadap waktu yang terus berjalan tanpa henti, serta bagaimana manusia meresponsnya dengan perasaan yang campur aduk: antara kenangan masa lalu dan harapan masa depan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merenungi detik-detik menjelang tahun baru 1978. Dalam suasana yang hening, penyair mendengarkan “detak jarum jam” yang berpadu dengan “degup jantung” — dua simbol ritme kehidupan dan waktu. Hujan yang turun serta “dentang lonceng penghabisan” memperkuat suasana malam pergantian tahun, di mana alam dan manusia seolah bersatu dalam irama perenungan.

Melalui paduan bunyi dan suasana, penyair mengekspresikan kesadaran bahwa waktu tidak pernah berhenti; setiap detiknya membawa perubahan yang pasti. Momen ini menjadi titik kontemplasi: bagaimana manusia akan melangkah ke tahun baru, dengan segala kenangan, kesedihan, dan harapan yang menyertainya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kesadaran akan kefanaan waktu dan pentingnya menghargai setiap detik kehidupan. “Detak jarum jam” dan “degup jantung” menyimbolkan bahwa hidup manusia bergerak seiring waktu; keduanya tidak bisa dipisahkan. “Dentang lonceng penghabisan” bukan hanya bunyi pergantian tahun, tetapi juga isyarat tentang akhir — mungkin akhir dari masa lalu, kenangan, atau bahkan fase kehidupan tertentu.

Sementara itu, hujan melambangkan kesegaran, pembersihan, dan pembaruan — tanda bahwa tahun baru membawa kesempatan untuk memulai kembali. Dengan demikian, puisi ini menyiratkan refleksi eksistensial tentang waktu, hidup, dan harapan, di mana manusia diajak untuk menyadari perjalanan yang telah dilalui dan bersiap menapaki babak baru dengan semangat yang lebih jernih.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hening, reflektif, dan melankolis. Penyair menggambarkan malam pergantian tahun dengan elemen-elemen yang menimbulkan kesan sunyi namun penuh makna — detak jam, hujan, dan dentang lonceng. Suasana ini menimbulkan perasaan antara sedih dan tenang; sedih karena menyadari waktu yang berlalu, namun tenang karena menyambut awal yang baru. Kesederhanaan suasana ini justru memperkuat nuansa kontemplatif puisi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat puisi ini adalah waktu adalah sesuatu yang berharga dan tidak dapat diulang, karenanya setiap detiknya perlu disyukuri dan dimaknai. Penyair ingin menyampaikan bahwa pergantian tahun bukan hanya perayaan, melainkan juga momen untuk introspeksi. Hidup terus berjalan sebagaimana jarum jam terus berdetak, dan manusia seharusnya menggunakan waktu sebaik mungkin untuk memperbaiki diri dan menapaki masa depan dengan kesadaran yang lebih dalam.

Selain itu, melalui simbol hujan dan dentang lonceng, puisi ini juga menyiratkan pesan bahwa setiap akhir selalu diikuti awal yang baru — mengingatkan kita untuk tidak takut meninggalkan masa lalu dan berani menyambut perubahan.

Imaji

Imaji dalam puisi ini sangat kuat dan bersifat auditif (pendengaran) serta visual, menghadirkan suasana yang dapat dirasakan pembaca dengan jelas. Beberapa di antaranya:

Imaji auditif (suara):
  • “Detak-detak jarum jam” dan “dentang lonceng penghabisan” menghadirkan suara waktu dan suasana malam yang khas, membuat pembaca seolah mendengarnya langsung.
  • “Desahan hujan” menambah kesan tenang dan reflektif.
Imaji visual:
  • Gambaran tentang hujan dan lonceng menciptakan suasana malam yang lembab dan redup, menggambarkan kesenyapan di awal tahun baru.
Imaji-imaji ini membantu membangun nuansa yang kontemplatif dan mendalam, menegaskan bahwa puisi ini bukan sekadar catatan waktu, tetapi renungan batin.

Majas

Beberapa majas yang digunakan Sherly Malinton dalam puisi ini antara lain:

Personifikasi:
  • “Detak-detak jarum jam / bersatu dalam degup jantungku” — waktu seolah hidup dan berdetak bersama kehidupan manusia. Ini memberikan kesan bahwa waktu bukan hanya alat ukur, tetapi bagian dari keberadaan manusia itu sendiri.
Metafora:
  • “Dentang lonceng penghabisan” merupakan metafora untuk akhir dari sesuatu, bisa berarti akhir tahun, akhir kehidupan, atau akhir perjalanan batin.
Simbolisme:
  • “Hujan” melambangkan pembaruan dan pembersihan diri.
  • “Sembilan belas tujuh delapan” menjadi simbol dari waktu yang berganti, menandakan dimulainya babak baru kehidupan.
Dengan majas-majas tersebut, penyair berhasil mengubah peristiwa sederhana — pergantian tahun — menjadi simbol refleksi spiritual dan eksistensial yang dalam.

Puisi “Sebait Puisi di Awal Tujuh Delapan” karya Sherly Malinton adalah refleksi lirih tentang makna waktu dan perjalanan hidup. Melalui diksi yang lembut dan simbol-simbol sederhana seperti detak jam, hujan, dan lonceng, penyair menghadirkan perenungan tentang kefanaan manusia di hadapan waktu yang terus berjalan.

Tema tentang waktu dan perenungan hidup menjadikan puisi ini relevan lintas masa — bukan hanya untuk tahun 1978, tetapi juga untuk setiap manusia yang pernah berhenti sejenak di tengah kehidupan dan merenungi detak jam di dadanya sendiri. Dengan imaji yang halus dan majas yang simbolik, Sherly Malinton mengajarkan kita bahwa dalam setiap pergantian waktu, selalu ada ruang untuk merenung, bersyukur, dan memperbarui diri.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Sebait Puisi di Awal Tujuh Delapan
Karya: Sherly Malinton

Biodata Sherly Malinton:
  • Sylvia Sherly Maria Catharina Malinton lahir pada tanggal 24 Februari 1963 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.