Dahaga
mulutku kering dituntun kemarau-Mu
menuju padang luas matahari
sendiri, sampai puncak sepiku
bisakah aku menopang kemarau-Mu yang taburi jiwaku
atau membasuh nafas
merangkak dan gemeretak rasa
susuri padang luas matahari hingga senja
dan gapai apa yang bisa aku gapai
lewat luruhnya debu-Mu
hingga jejak-Mu tak hilang begitu saja
andaikan segalanya akan segera berakhir.
1980
Analisis Puisi:
Puisi “Dahaga” karya Tri Astoto Kodarie menghadirkan pengalaman spiritual dan batin yang kuat melalui metafora kemarau, padang luas, dan perjalanan sunyi. Meski tidak panjang, puisi ini padat dengan simbol, perenungan, dan hasrat untuk menemukan keteguhan di tengah keringnya kehidupan. Penyair menciptakan suasana kontemplatif, seolah pembaca ikut berjalan menyusuri padang kemarau jiwa sambil menanggung kesepian yang panjang.
Tema
Tema utama puisi “Dahaga” adalah pencarian spiritual di tengah kekeringan batin atau cobaan hidup. Selain itu terdapat tema-tema pendukung:
- perjalanan batin,
- kesepian eksistensial,
- pergulatan manusia dengan takdir,
- ketabahan menghadapi ujian,
- kerinduan kepada sumber kelegaan (Tuhan).
Penyair menggunakan kata “kemarau-Mu” yang menegaskan bahwa cobaan yang dialami bukan sekadar fenomena alam, tetapi sesuatu yang berasal dari kekuatan ilahi.
Puisi ini bercerita tentang seorang yang sedang menjalani perjalanan batin yang sangat berat—diibaratkan sebagai kemarau panjang yang menuntun dirinya menuju “padang luas matahari”. Dalam kesendirian, ia merasa “mulutnya kering”, “menopang kemarau-Mu”, dan merangkak melewati padang batin yang luas hingga senja.
Tokoh lirih dalam puisi menyadari bahwa ia harus menyusuri perjalanan itu sampai akhir, memungut apa pun yang bisa digapai dari luruhnya debu, agar jejak perjuangan tidak hilang begitu saja, meski ia sadar bahwa segala yang dilalui bisa berakhir kapan saja.
Makna Tersirat
Puisi ini memuat banyak makna tersirat yang dalam dan reflektif, di antaranya:
- Penerimaan terhadap cobaan hidup. Kata “kemarau-Mu” mengindikasikan bahwa penyair melihat penderitaan sebagai bagian dari rencana ilahi. Ada kesadaran bahwa manusia harus menjalaninya, bukan sekadar menghindar.
- Pergulatan antara bertahan dan menyerah. Pertanyaan “bisakah aku menopang kemarau-Mu” menandai keraguan, kelelahan, namun juga keinginan untuk tetap bertahan.
- Kehidupan sebagai perjalanan sunyi. “Sendiri, sampai puncak sepiku” menggambarkan bahwa dalam menghadapi ujian terdalam, manusia sering merasa sendirian.
- Pencarian makna di tengah kesulitan. Tokoh dalam puisi tetap “merangkak”, “menyusuri padang”, dan berusaha “menggapai apa yang bisa aku gapai”. Ini mencerminkan sikap resilien, bahwa di tengah kekeringan pun, manusia terus mencari arti.
- Kesadaran akan kefanaan. Larik pamungkas “andaikan segalanya akan segera berakhir” mengisyaratkan bahwa hidup ini sementara, sehingga perjalanan batin pun harus dilalui dengan penuh kesadaran.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini:
- kering,
- sunyi,
- berat,
- kontemplatif,
- suram namun tetap berpengharapan,
- melankolis spiritual.
Nuansa kemarau tidak hanya menggambarkan alam, tetapi kondisi jiwa yang gersang dan haus akan makna.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat dalam puisi ini dapat disarikan sebagai berikut:
- Manusia harus tetap bertahan dalam perjalanan hidup, meski penuh cobaan dan rasa kering.
- Dalam kesepian dan penderitaan, ada makna yang bisa digapai, sebagaimana tokoh lirih mencoba mengumpulkan “luruhnya debu-Mu”.
- Cobaan adalah bagian dari perjalanan spiritual, dan manusia perlu menerimanya tanpa kehilangan arah.
- Jangan biarkan jejak perjuangan kita hilang sia-sia, sebab setiap langkah—meski merangkak—memiliki nilai.
- Kesadaran akan akhir kehidupan adalah pengingat untuk tidak berhenti mencari makna.
Imaji
Puisi ini sangat kaya akan imaji alam yang simbolik:
Imaji panas dan kemarau:
- “mulutku kering dituntun kemarau-Mu”
- “padang luas matahari”
Hadir sebagai gambaran penderitaan batin yang sangat intens.
Imaji perjalanan:
- “merangkak”, “gemeretak rasa”, “susuri padang” menyodorkan gambaran fisik yang melelahkan, mencerminkan kelelahan mental dan spiritual.
Imaji debu dan luruh:
- “luruhnya debu-Mu” → simbol kerendahan diri, kefanaan manusia, dan bekas-bekas pengalaman hidup.
Imaji senja:
- “hingga senja” → simbol mendekati akhir hidup atau titik batas tenaga.
Semua imaji tersebut bekerja bersama untuk membangun atmosfer perjalanan panjang yang sangat berat.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi:
Metafora
- “kemarau-Mu” → cobaan hidup dari Tuhan.
- “padang luas matahari” → perjalanan hidup yang berat dan terbuka.
- “luruhnya debu-Mu” → sisa-sisa pengalaman atau ujian yang harus dipelajari.
Personifikasi
- “kemarau dituntun” → kemarau digambarkan seperti sosok yang menuntun atau memimpin perjalanan batin penyair.
Hiperbola
- Gambaran tentang perjalanan yang begitu kering dan melelahkan memperkuat rasa berat dan intensitas penderitaan.
Puisi “Dahaga” karya Tri Astoto Kodarie merupakan cerminan perjalanan manusia menghadapi kemarau batin, kesunyian, dan ujian yang terasa memadatkan jiwa. Dengan bahasa yang lirih namun kuat, penyair menghadirkan pergulatan spiritual yang dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari: merangkak, menahan haus, mencari makna, hingga tetap menggenggam jejak kehidupan meski semuanya bisa saja berakhir.
Puisi: Dahaga
Karya: Tri Astoto Kodarie
Biodata Tri Astoto Kodarie:
- Tri Astoto Kodarie lahir di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 1961.
