Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Ibu (Karya Ai Lundeng)

Puisi “Ibu” karya Ai Lundeng bercerita tentang perasaan seorang anak yang mengenang, menghargai, dan bersyukur atas kasih sayang serta perjuangan ...

Ibu

Sejuta kata terima kasih yang kuucapkan
Tak kan mampu untuk membalas kebaikanmu
Segudang emas yang kupersembahkan
Tak sebanding dengan peluh dan darah
Ketika aku dilahirkan

Andai Tuhan ciptakan wanita tercantik di dunia
Engkaulah ratunya
Andai Tuhan ciptakan orang terkuat di dunia
Engkaulah sumber kekuatannya...

Ibu...kau makhluk Tuhan terhebatku
Tak mampu kubalas jasamu
Terima kasih kau telah menjadi sebab aku ada
Hingga kunikmati surga dunia

Doaku untukmu sehat selalu ibu
Tetaplah tersenyum untuk anakmu
Karna itulah obat mujarab Ketika kugundah
Tetaplah panjatkan doa mustajabmu
Karena itulah kado terindahku
13-Des-2023

Sumber: Gemuruh Palung Hati (Penerbit Adab, 2024)

Analisis Puisi:

Puisi “Ibu” karya Ai Lundeng memiliki tema utama tentang cinta, pengorbanan, dan rasa terima kasih seorang anak kepada ibunya. Penyair mengekspresikan betapa besar jasa dan kasih seorang ibu yang tak dapat dibalas dengan apapun di dunia. Melalui bahasa yang sederhana namun penuh emosi, puisi ini mengangkat nilai universal tentang ketulusan kasih seorang ibu dan rasa syukur anak atas pengorbanannya. Tema ini menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam — bahwa cinta ibu adalah kekuatan dan keindahan yang tak ternilai.

Puisi ini bercerita tentang perasaan seorang anak yang mengenang, menghargai, dan bersyukur atas kasih sayang serta perjuangan ibunya. Di bait pertama, penyair mengungkapkan bahwa kata-kata dan harta benda tidak pernah cukup untuk membalas jasa seorang ibu:

“Sejuta kata terima kasih yang kuucapkan
Tak kan mampu untuk membalas kebaikanmu.”

Baris tersebut menegaskan bahwa kasih ibu melampaui ukuran duniawi seperti uang atau kekayaan.

Kemudian, bait-bait selanjutnya menggambarkan kekaguman anak terhadap kehebatan dan ketulusan ibunya — bahwa ibu adalah wanita tercantik dan terkuat di dunia. Puncak dari puisi ini terletak pada ungkapan doa dan harapan:

“Doaku untukmu sehat selalu ibu...
Tetaplah panjatkan doa mustajabmu,
Karena itulah kado terindahku.”

Bagian ini menunjukkan rasa cinta yang mendalam, keinginan untuk melihat sang ibu bahagia, dan keyakinan bahwa doa ibu adalah sumber keberkahan hidup anaknya.

Secara keseluruhan, puisi ini menceritakan hubungan spiritual dan emosional antara anak dan ibunya, yang abadi melampaui usia dan waktu.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi “Ibu” adalah bahwa kasih sayang ibu tidak dapat diukur oleh materi, dan anak harus senantiasa menghargai serta mendoakannya. Penyair ingin menyampaikan bahwa perjuangan seorang ibu sejak melahirkan hingga membesarkan anak adalah bentuk cinta yang paling murni dan suci.

Selain itu, ada pesan mendalam tentang kerendahan hati dan rasa syukur anak. Meskipun anak mungkin telah sukses atau memiliki banyak hal di dunia, ia tetap merasa tidak pernah mampu membalas jasa ibunya sepenuhnya.

Kalimat “Segudang emas yang kupersembahkan, tak sebanding dengan peluh dan darah ketika aku dilahirkan” menjadi simbol bahwa nilai kasih seorang ibu melampaui segalanya.

Makna tersirat lainnya ialah pengakuan bahwa doa ibu adalah kekuatan spiritual yang melindungi anak.
Doa ibu digambarkan sebagai “kado terindah”, yang mengandung harapan, perlindungan, dan restu ilahi bagi perjalanan hidup sang anak.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi “Ibu” terasa haru, lembut, dan penuh rasa syukur. Setiap baitnya memunculkan kehangatan emosional, seolah penyair sedang berbicara langsung kepada ibunya dengan nada tulus dan rendah hati. Nada yang digunakan bukan sekadar sedih, melainkan penuh penghormatan dan kasih sayang mendalam.

Puisi ini juga menghadirkan suasana reflektif, di mana penyair merenungkan segala jasa ibunya dan menyadari betapa kecil dirinya dibandingkan besarnya pengorbanan seorang ibu.

Akhir puisi memberi kesan damai dan penuh doa, menandakan hubungan spiritual yang erat antara ibu dan anak.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat utama puisi ini adalah bahwa seorang anak harus selalu menghormati, berterima kasih, dan mendoakan ibunya. Tidak ada hal di dunia yang mampu menandingi cinta seorang ibu — bahkan emas dan gelar tidak sebanding dengan keringat dan darah yang ia tumpahkan demi kelahiran dan kebahagiaan anaknya.

Penyair juga ingin menyampaikan pesan bahwa kasih ibu adalah sumber kekuatan sejati manusia. Ketika anak merasa gundah, senyum dan doa ibu menjadi “obat mujarab” yang mengembalikan semangat dan ketenangan hati.

Dengan demikian, puisi ini mengajarkan nilai bakti, rasa syukur, dan pentingnya doa dalam hubungan antara anak dan ibu.

Amanat tersirat lainnya ialah bahwa cinta ibu bersifat abadi, bahkan ketika waktu dan jarak memisahkan, doa ibu tetap menjadi pelita bagi langkah hidup anak-anaknya.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji emosional dan visual yang menggugah perasaan pembaca.
  • Imaji visual tampak dalam baris “Segudang emas yang kupersembahkan” dan “peluh dan darah ketika aku dilahirkan”, yang menghadirkan gambaran nyata tentang perjuangan dan penderitaan ibu saat melahirkan.
  • Imaji emosional muncul dalam ungkapan “Tetaplah tersenyum untuk anakmu, karena itulah obat mujarab ketika kugundah”, menggambarkan betapa senyum seorang ibu dapat menenangkan hati anaknya yang sedang terluka.
  • Imaji spiritual juga hadir dalam frasa “Tetaplah panjatkan doa mustajabmu, karena itulah kado terindahku”, yang menunjukkan hubungan batin antara doa ibu dan keselamatan anak.
Imaji-imaji tersebut menghidupkan suasana kasih sayang, pengorbanan, dan keharuan, menjadikan puisi ini terasa sangat manusiawi dan menyentuh hati.

Majas

Puisi ini memanfaatkan beberapa majas yang memperindah bahasa dan memperdalam makna:
  • Hiperbola: “Sejuta kata terima kasih”, “Segudang emas yang kupersembahkan” — digunakan untuk menegaskan bahwa tidak ada ukuran yang cukup untuk membalas jasa seorang ibu.
  • Metafora: “Engkaulah ratunya” dan “Engkaulah sumber kekuatannya” — menggambarkan ibu sebagai sosok yang agung dan menjadi pusat kekuatan hidup anak.
  • Personifikasi: “Senyum ibu sebagai obat mujarab” — memberikan sifat penyembuh pada senyum, menekankan bahwa kasih ibu menenangkan batin anak.
  • Repetisi: Pengulangan kata “ibu” di beberapa bait terakhir menciptakan efek emosional dan menegaskan pentingnya sosok ibu dalam kehidupan.
Penggunaan majas-majas ini membuat puisi “Ibu” terasa hidup, menyentuh, dan mudah diresapi maknanya oleh pembaca.

Puisi “Ibu” karya Ai Lundeng adalah ungkapan cinta dan penghargaan seorang anak terhadap sosok ibu yang penuh kasih, pengorbanan, dan kekuatan spiritual. Melalui tema kasih dan rasa terima kasih, penyair berhasil menggambarkan betapa mulia peran ibu dalam kehidupan manusia.

Dengan bahasa sederhana, imaji kuat, dan majas yang menyentuh, puisi ini menegaskan bahwa kasih ibu adalah cinta sejati yang tidak bisa dibayar dengan apapun, bahkan dengan emas sekalipun. Ia adalah “ratu” dan “sumber kekuatan”, tempat anak kembali setiap kali lelah, sedih, dan kehilangan arah.

Ai Lundeng
Puisi: Ibu
Karya: Ai Lundeng

Biodata Ai Lundeng:
  • Ai Lundeng (nama pena dari Ai Pipih, S.Pd.I.) lahir pada tanggal 19 April 1972 di Purwakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.