Puisi: Kabar dari Balik Terali (Karya Remy Sylado)

Puisi “Kabar dari Balik Terali” karya Remy Sylado bercerita tentang jeritan dan penderitaan kaum tertindas yang tidak terdengar oleh para penguasa.
Kabar dari Balik Terali

Puri-puri mereka bakal direbut semua satu demi satu
oleh orang-orang yang menanggung pemiskinan bertahun
karena keadilan yang disemaikan dengan ujung pedang
telah menyuburkan tanamannya dengan sumpah serapah.

Begini aku pernah mendengar kabar dari balik terali
bahwa keperihan yang diderita dari kesenangan mereka
diam-diam melahirkan ilham untuk berperang barata
dengan panji durjana yang dibawa sampai liang lahat.

Tapi puri-puri mereka terlalu kokoh lagi kedap suara
sehingga pekikan dari bawah tidak sampai ke atas
dan kasih yang ingin aku sembahkan cuma terbuang
seperti semua saudara miskinku selalu dibuang-buang.

Analisis Puisi:

Puisi “Kabar dari Balik Terali” karya Remy Sylado merupakan salah satu karya yang merekam suara perlawanan, ketidakadilan, dan penderitaan sosial yang lahir dari ketimpangan kekuasaan. Dengan diksi yang tajam, berlapis makna, dan nada emosional yang kuat, Remy menghadirkan potret dunia yang timpang antara mereka yang berkuasa dan mereka yang tertindas. Puisi ini menggambarkan bagaimana suara keadilan sering terpenjara, sementara istana kekuasaan tetap kokoh dan tak mendengar jerit rakyat di bawah.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah ketidakadilan sosial dan perjuangan melawan penindasan. Remy Sylado mengangkat realitas pahit tentang ketimpangan antara kaum berkuasa yang hidup di “puri-puri” (istana atau simbol kemewahan) dan rakyat miskin yang menderita akibat “keadilan yang disemaikan dengan ujung pedang.” Tema ini menggambarkan kekecewaan terhadap sistem yang tidak berpihak pada rakyat kecil, di mana hukum dan keadilan justru dijadikan alat untuk menindas.

Puisi ini memotret ketimpangan struktur sosial yang sangat tajam: ada pihak yang menikmati kemewahan hasil penindasan, sementara di sisi lain, rakyat kecil hanya bisa menanggung penderitaan tanpa didengar.

Puisi ini bercerita tentang jeritan dan penderitaan kaum tertindas yang tidak terdengar oleh para penguasa.

Larik pertama membuka gambaran kontras antara dua dunia:

“Puri-puri mereka bakal direbut semua satu demi satu
oleh orang-orang yang menanggung pemiskinan bertahun”

Baris ini menandai potensi perlawanan sosial — mereka yang telah lama tertindas suatu hari akan bangkit menuntut hak. “Puri-puri mereka” melambangkan istana kekuasaan, kemapanan, dan kenyamanan kaum elit yang selama ini hidup di atas penderitaan rakyat.

Selanjutnya, penyair menulis:

“karena keadilan yang disemaikan dengan ujung pedang
telah menyuburkan tanamannya dengan sumpah serapah.”

Kalimat ini sangat kuat secara simbolik. Ia menggambarkan ironi hukum dan kekuasaan: keadilan yang mestinya lahir dari kebenaran malah ditegakkan dengan kekerasan dan kekuasaan (“ujung pedang”). Akibatnya, bukan kedamaian yang tumbuh, tetapi kebencian dan kemarahan rakyat (“sumpah serapah”).

Dalam bait kedua, Remy memperdalam perasaan perlawanan yang tumbuh di balik penderitaan:

“Begini aku pernah mendengar kabar dari balik terali
bahwa keperihan yang diderita dari kesenangan mereka
diam-diam melahirkan ilham untuk berperang barata”

“Kabar dari balik terali” adalah simbol suara dari balik penjara, baik secara fisik maupun metaforis. Bisa jadi ini adalah suara para tahanan politik, aktivis, atau rakyat tertindas yang tidak memiliki ruang bersuara. Dari balik terali, mereka menyalakan api perlawanan — “ilham untuk berperang barata” — melawan kezaliman yang telah mengakar.

Namun, pada bait terakhir, penyair menghadirkan kenyataan pahit:

“Tapi puri-puri mereka terlalu kokoh lagi kedap suara
sehingga pekikan dari bawah tidak sampai ke atas
dan kasih yang ingin aku sembahkan cuma terbuang
seperti semua saudara miskinku selalu dibuang-buang.”

Gambaran ini menyiratkan keputusasaan dan keterasingan sosial. Suara rakyat kecil tidak pernah sampai ke telinga penguasa karena tembok kekuasaan terlalu tebal. “Kasih yang ingin aku sembahkan cuma terbuang” menunjukkan harapan akan keadilan yang sia-sia, karena sistem sosial telah mematikan empati.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini sangat mendalam — Remy Sylado menyuarakan kritik terhadap kekuasaan yang menindas dan ketidakadilan yang sistemik. Ia memperlihatkan bagaimana rakyat miskin terus menderita, sementara para penguasa hidup dalam kemewahan tanpa mendengar jerit bawahannya.

“Balik terali” menjadi simbol penjara sosial, ekonomi, dan politik, tempat orang-orang yang tidak berdaya dibungkam. Dari sana, muncul peringatan: bahwa penderitaan yang dipelihara terlalu lama akan melahirkan perlawanan.

Makna lain yang tersirat adalah hilangnya kasih dan kemanusiaan dalam struktur sosial modern. Saat penguasa hidup di “puri-puri kedap suara,” mereka tak lagi mampu mendengar cinta, belas kasih, atau suara nurani dari bawah.

Puisi ini sekaligus menjadi renungan moral bahwa ketimpangan yang dibiarkan akan menjadi bom waktu sosial — ketika keadilan yang ditegakkan dengan pedang akan menumbuhkan kebencian dan kehancuran.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang tergambar dalam puisi ini adalah muram, getir, dan penuh kegetiran sosial. Diksi seperti “terali,” “pemiskinan,” “sumpah serapah,” dan “kasih yang terbuang” menciptakan atmosfer suram dan menekan. Pembaca dapat merasakan suasana penjara sosial yang menyesakkan, di mana harapan dan kasih tertahan oleh tembok kekuasaan.

Namun, di balik kemuraman itu, ada pula suasana perlawanan dan semangat tersembunyi. Larik “melahirkan ilham untuk berperang barata” menunjukkan adanya api kecil yang masih menyala — semangat untuk menegakkan keadilan meski dalam keterbatasan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan amanat yang kuat tentang nilai keadilan, kemanusiaan, dan kesadaran sosial. Remy Sylado ingin mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa empati hanya akan melahirkan kebencian. Keadilan yang ditegakkan dengan kekerasan akan berbalik menjadi alat penghancur.

Pesan lainnya adalah bahwa suara rakyat tidak boleh diabaikan. Pekikan dari “bawah” adalah bagian dari kehidupan berbangsa yang harus didengar, bukan dibungkam. Karena bila terus diabaikan, suara itu bisa berubah menjadi gelombang perlawanan yang mengguncang “puri-puri kekuasaan.”

Selain itu, penyair juga menyampaikan pesan moral yang lembut namun tajam: kasih tanpa keadilan akan sia-sia. Meskipun seseorang ingin memberikan cinta dan pengabdian kepada bangsanya, sistem yang beku dan tidak adil akan membuat semua itu terbuang percuma.

Imaji

Remy Sylado menggunakan imaji sosial dan visual yang kuat untuk menggambarkan situasi ketimpangan dan keterpenjaraan. Beberapa di antaranya:
  • Imaji visual: “puri-puri mereka bakal direbut semua satu demi satu,” “puri-puri terlalu kokoh lagi kedap suara,” menggambarkan benteng kekuasaan yang kokoh dan terisolasi.
  • Imaji sosial: “orang-orang yang menanggung pemiskinan bertahun,” menggambarkan penderitaan rakyat kecil yang berkepanjangan.
  • Imaji emosional: “kasih yang ingin aku sembahkan cuma terbuang,” menciptakan perasaan getir dan putus asa yang mendalam.
Imaji-imaji ini membawa pembaca masuk ke dalam realitas sosial yang keras namun puitis — khas gaya Remy Sylado yang tajam, realistik, dan reflektif.

Majas

Puisi ini memanfaatkan berbagai majas untuk memperkuat makna dan suasana:

Metafora:
  • “Puri-puri mereka” sebagai lambang kekuasaan dan kemewahan.
  • “Balik terali” sebagai simbol keterpenjaraan, baik fisik maupun batin.
Personifikasi:
  • “Keadilan yang disemaikan dengan ujung pedang” mempersonifikasikan keadilan seolah bisa disemai dan tumbuh seperti tanaman.
Hiperbola:
  • “Kasih yang ingin aku sembahkan cuma terbuang” mempertegas keputusasaan yang sangat mendalam.
Ironi:
  • Penggunaan kata “keadilan” yang justru dilakukan dengan “pedang” menunjukkan kontradiksi moral — keadilan yang kejam dan tidak manusiawi.
Majas-majas tersebut membuat puisi ini berlapis makna, menampilkan kekuatan sosial dan emosional secara bersamaan.

Puisi “Kabar dari Balik Terali” karya Remy Sylado adalah potret getir tentang dunia yang tidak adil. Dengan tema ketimpangan sosial dan cerita tentang suara rakyat yang terpenjara, puisi ini menggugah kesadaran moral pembaca tentang nilai kemanusiaan yang mulai hilang di tengah sistem yang beku dan angkuh.

Melalui imaji yang kuat dan majas yang tajam, Remy menghadirkan suasana muram penuh perlawanan dan kasih yang tak tersampaikan. Makna tersiratnya menegaskan bahwa keadilan sejati tidak lahir dari kekerasan, melainkan dari empati dan keberpihakan pada yang lemah.
Amanatnya jelas dan abadi:

Jika keadilan terus ditegakkan dengan pedang, maka suatu hari pedang itu akan menebas dirinya sendiri. Dan selama “puri-puri” tetap kedap suara, jerit dari balik terali akan terus menggema — menagih keadilan yang seharusnya dimiliki semua manusia.

"Puisi Remy Sylado"
Puisi: Kabar dari Balik Terali
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.