Kasmaran
diam-diam aku selalu mengharapkan
kau menjadi iringan awan, menjelma deras hujan
mengurungku sebagai tahanan di ceruk penantian
dan membiusku dengan wangi al-Hikam yang menawan
diam-diam aku selalu mengharapkan
kau menjadi lembaran al-Hikam, menjelma Athaillah beneran
menyuarakan ajakan melintasi pintu keindahan maharahman
dan mendaraskan tamsil-tamsil keselamatan bermahkota firman
diam-diam aku selalu mengharapkan
kau menjadi putih awan keimanan, menjelma deras hujan firman
dan menenggelamkan aku di dalam lautan makrifat kehidupan
dan membebaskan aku dari penjara kesementaraan dan kefanaan
Malang, 2012
Sumber: Arung Diri (2013)
Analisis Puisi:
Puisi “Kasmaran” karya Djoko Saryono mengangkat tema cinta spiritual dan kerinduan terhadap Sang Ilahi. Meski judulnya “Kasmaran” identik dengan perasaan cinta manusiawi, puisi ini justru memperluas makna cinta menuju dimensi transendental—sebuah cinta yang tidak lagi bersifat duniawi, melainkan rohani. Cinta dalam puisi ini bukan sekadar keterikatan antar-manusia, tetapi perasaan kasmaran kepada Tuhan yang hadir dalam bentuk keindahan, kebijaksanaan, dan makrifat. Tema ini memperlihatkan perjalanan batin seorang penyair sufi modern, yang berusaha menggabungkan cinta, ilmu, dan spiritualitas menjadi satu kesatuan puitis.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang diam-diam mencintai dan merindukan sesuatu yang lebih tinggi dari dunia fana, yakni kedekatan dengan Tuhan. Melalui repetisi “diam-diam aku selalu mengharapkan”, penyair menampilkan sosok liris yang penuh kerendahan hati dan keheningan batin—ia tidak menjerit dalam cinta, tetapi merenungi dan mendalami cinta secara spiritual.
Baris-baris seperti:
“kau menjadi iringan awan, menjelma deras hujan
mengurungku sebagai tahanan di ceruk penantian”
menunjukkan kerinduan yang melahirkan penyerahan diri.
Penyair ingin “terkurung” dalam penantian karena di situlah cinta diuji dan dimurnikan. Ia tidak ingin bebas dari cinta, justru ingin terjebak dalam pesona ilahi.
Baris berikut:
“kau menjadi lembaran al-Hikam, menjelma Athaillah beneran”
merujuk pada karya klasik sufi Kitab al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, menandakan bahwa cinta yang dimaksud adalah cinta yang berorientasi pada kebijaksanaan dan pencerahan spiritual.
Akhir puisi memperjelas arah perasaan ini:
“kau menjadi putih awan keimanan, menjelma deras hujan firmandan menenggelamkan aku di dalam lautan makrifat kehidupan.”
Artinya, kasih yang diinginkan bukan sekadar kedekatan emosional, tetapi penyelaman rohani menuju hakikat Tuhan.
Puisi ini dengan demikian menceritakan perjalanan kasmaran menuju makrifat—perpaduan antara cinta dan pengetahuan spiritual.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi “Kasmaran” adalah pencarian spiritual melalui cinta. Cinta bukan hanya perasaan personal, melainkan jalan untuk mencapai kesadaran tertinggi. Dalam keheningan (“diam-diam”), penyair menemukan bentuk cinta yang tidak membutuhkan pengakuan dunia, tetapi hanya menuntun menuju Tuhan.
Kata “kau” dalam puisi ini bersifat ambigu—bisa diartikan sebagai kekasih manusia, tapi lebih kuat lagi sebagai personifikasi Tuhan atau wujud keindahan Ilahi. Harapan agar “kau menjadi awan, hujan, dan firman” adalah simbol dari kehadiran Tuhan yang menyelimuti kehidupan manusia melalui alam, pengetahuan, dan wahyu.
Makna tersirat lainnya adalah penyucian diri melalui kasih dan ilmu. Penyair ingin “tenggelam di lautan makrifat kehidupan”, artinya ia ingin meniadakan ego dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada cinta Ilahi.
Puisi ini menggambarkan cinta yang menuntun ke arah fana’ (meleburkan diri dalam Tuhan), seperti halnya tradisi sufisme.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa hening, khusyuk, dan penuh kerinduan spiritual. Kata “diam-diam” diulang tiga kali, menciptakan atmosfer batin yang tenang namun bergelora. Ada suasana kontemplatif, seolah penyair sedang melakukan meditasi cinta di hadapan sesuatu yang suci dan tak terjangkau.
Selain itu, puisi ini juga memancarkan suasana mistik—sebuah kedalaman jiwa yang tidak lagi sibuk dengan dunia luar, melainkan fokus pada pencarian keindahan abadi. Keheningan dalam puisi bukan kekosongan, melainkan ruang pertemuan antara cinta dan makrifat.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat dari puisi “Kasmaran” adalah bahwa cinta sejati tidak hanya milik tubuh dan perasaan, tetapi juga jiwa dan kesadaran. Cinta sejati adalah jalan menuju pengertian spiritual dan kedekatan dengan Tuhan.
Djoko Saryono melalui puisinya mengingatkan bahwa kasmaran bukan hanya tentang jatuh cinta pada sesama manusia, tetapi juga tentang jatuh cinta pada kebenaran, kebijaksanaan, dan keindahan hakiki.
Pesan lainnya:
- Keheningan (diam) adalah cara terbaik untuk mendekati Tuhan. Dalam diam, manusia mendengar bisikan batinnya.
- Pengetahuan spiritual (al-Hikam) bukan sekadar ilmu, tetapi pengalaman yang membebaskan manusia dari kefanaan.
- Cinta dan makrifat adalah dua sisi dari perjalanan hidup yang sejati: mencintai Tuhan berarti memahami hidup dengan kedalaman batin.
Imaji
Puisi ini dipenuhi imaji religius dan spiritual yang kuat. Djoko Saryono menggunakan bahasa yang lembut namun padat makna. Beberapa imaji penting antara lain:
Imaji visual:
- “kau menjadi iringan awan, menjelma deras hujan” → Menghadirkan gambaran alam yang hidup, sekaligus metafora dari turunnya rahmat Tuhan kepada manusia.
- “menenggelamkan aku di dalam lautan makrifat kehidupan” → Imaji yang menggambarkan penyatuan total dengan Tuhan—tenggelam dalam lautan ilmu dan kesadaran spiritual.
Imaji intelektual dan religius:
- “kau menjadi lembaran al-Hikam, menjelma Athaillah beneran” → Imaji ini menggabungkan unsur teks suci dan sosok ulama, menunjukkan kedalaman spiritual dan penghormatan pada ilmu hikmah.
Setiap gambaran dalam puisi ini menuntun pembaca pada pengalaman religius yang halus, di mana cinta, pengetahuan, dan keindahan berpadu secara harmonis.
Majas
Djoko Saryono dikenal sebagai penyair dengan gaya bahasa simbolik dan penuh majas metaforis serta repetisi yang kuat. Dalam puisi ini, majas yang dominan antara lain:
Metafora:
- “kau menjadi iringan awan, menjelma deras hujan” → metafora dari kehadiran ilahi yang menyejukkan jiwa.
- “menenggelamkan aku di dalam lautan makrifat kehidupan” → menggambarkan pengalaman spiritual mendalam.
Personifikasi:
- “membiusku dengan wangi al-Hikam yang menawan” → karya keagamaan digambarkan memiliki “wangi” dan daya “membius”, memberi kesan hidup dan memikat.
Repetisi:
- Kalimat “diam-diam aku selalu mengharapkan” diulang di setiap stanza, menegaskan kekuatan batin dan konsistensi cinta spiritual sang aku lirik.
Hiperbola:
- “membebaskan aku dari penjara kesementaraan dan kefanaan” → ungkapan yang melebih-lebihkan namun menyiratkan keinginan melepaskan diri dari dunia material menuju keabadian.
Kombinasi majas-majas ini membentuk irama mistik yang khas, membuat puisi terasa seperti doa, dzikir, sekaligus pernyataan cinta sejati.
Puisi “Kasmaran” karya Djoko Saryono bukan sekadar kisah cinta, melainkan perjalanan spiritual menuju makrifat dan kebijaksanaan ilahi. Melalui puisi ini, Djoko Saryono mengajarkan bahwa di balik keheningan, tersimpan kerinduan terdalam manusia kepada sumber segala cinta—Tuhan itu sendiri.
Karya: Djoko Saryono
Biodata Djoko Saryono:
- Prof. Dr. Djoko Saryono lahir pada tanggal 27 Maret 1962 di kota Madiun.