Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Kearifan (Karya Motinggo Boesje)

Puisi “Kearifan” karya Motinggo Boesje bercerita tentang sebatang rumpun daun yang tidak lagi dapat berbunga—sebuah metafora untuk ketuaan atau ...
Kearifan

Rumpun daun itu
takkan berharap
berbunga lagi

Kemandulan tiba
seperti manusia
dimasukinya tua usia

Adakah rumpun daun
bersedih risau
seperti engkau?

Kadang kearifan
belajar dari tumbuhan
dan hewan-hewan.

Sumber: Aura Para Aulia (1990)

Analisis Puisi:

Puisi “Kearifan” karya Motinggo Boesje merupakan puisi pendek yang sarat renungan. Meski kalimatnya sederhana, maknanya memancarkan kedalaman: tentang bagaimana manusia belajar kebijaksanaan melalui alam—khususnya daun, tumbuhan, dan hewan. Pembacaan yang pelan akan membawa kita pada refleksi tentang usia, kesedihan, dan cara alam mengajarkan ketenangan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kearifan hidup yang dapat dipelajari dari alam. Motinggo Boesje mengajak pembaca memahami bahwa tumbuhan dan hewan memiliki cara menerima siklus kehidupan tanpa keluhan. Sebaliknya, manusia kerap gelisah menghadapi perubahan, penuaan, dan kehilangan.

Tema pendukungnya mencakup:
  • Penerimaan terhadap usia dan kefanaan
  • Perbedaan cara manusia dan alam menghadapi perubahan
  • Penemuan kebijaksanaan melalui pengamatan sederhana
Puisi ini bercerita tentang sebatang rumpun daun yang tidak lagi dapat berbunga—sebuah metafora untuk ketuaan atau hilangnya kemampuan yang dulu dimiliki. Penyair kemudian membandingkannya dengan manusia yang memasuki usia tua dan merasakan kegelisahan.

Bagian paling reflektif adalah pertanyaan, “Adakah rumpun daun bersedih risau seperti engkau?” yang menyoroti bahwa tumbuhan tidak meratapi perubahan, sementara manusia sering melakukannya. Pada akhirnya, penyair menegaskan bahwa kearifan justru bisa dipelajari dari tumbuhan dan hewan, yang menerima hidup sebagaimana adanya tanpa keluh kesah.

Makna Tersirat

Beberapa makna tersirat dari puisi ini:
  1. Manusia terlalu banyak mengeluh. Sementara alam menjalani siklusnya dengan tenang.
  2. Kefanaan adalah keniscayaan. Rumpun daun yang mandul adalah simbol bahwa setiap makhluk akan memasuki fase menurun.
  3. Kearifan datang dari penerimaan. Bukan dari perlawanan atau kecemasan.
  4. Alam adalah guru. Tumbuhan dan hewan tidak memiliki ambisi berlebihan, tetapi justru itulah yang membuat mereka “bijaksana”.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa:
  • Hening — tercipta dari gambaran daun yang mandul dan penerimaan yang pasrah.
  • Kontemplatif — penyair mengajak pembaca melakukan perenungan diri.
  • Melankolis ringan, namun tidak sedih berlebihan. Lebih kepada keteduhan, bukan keputusasaan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan utama puisi ini:
  1. Belajarlah dari alam, karena alam mengajarkan ketenangan dan penerimaan.
  2. Usia tua bukan tragedi, melainkan bagian wajar dari kehidupan.
  3. Jangan terlalu merisaukan hal yang di luar kuasa, karena gelisah tidak mengubah apa-apa.
  4. Kearifan lahir dari kemampuan melihat hidup dengan sederhana.

Imaji

Jenis imaji yang muncul dalam puisi:
  • Imaji visual: “Rumpun daun itu takkan berharap berbunga lagi” menghadirkan gambaran jelas daun yang mandul dan tidak berbunga.
  • Imaji perbandingan manusia-alam: Pembaca dapat “melihat” manusia yang risau dibandingkan tumbuhan yang tenang.
Imaji yang sederhana tapi efektif ini membawa pembaca pada perenungan mendalam tanpa perlu banyak deskripsi.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
  • Personifikasi: Rumpun daun digambarkan seolah bisa “berharap” atau “bersedih”. Ini menekankan kedekatan emosional antara manusia dan alam.
  • Metafora: “Kemandulan tiba seperti manusia dimasukinya tua usia” adalah metafora untuk ketuaan dan penurunan kemampuan.
  • Perbandingan (simile): “Seperti manusia” digunakan untuk menegaskan hubungan antara kondisi alam dan kondisi manusia.
Majas yang digunakan sederhana tapi bermakna, membantu penyair menyampaikan pesan tanpa banyak kata.

Puisi “Kearifan” karya Motinggo Boesje mengajak pembaca kembali kepada alam sebagai sumber pelajaran hidup. Ia menunjukkan bagaimana daun yang mandul tidak memiliki kecemasan seperti manusia, dan betapa kita bisa belajar kesederhanaan dari cara makhluk lain menjalani kehidupannya.

Motinggo Boesje
Puisi: Kearifan
Karya: Motinggo Boesje

Biodata Motinggo Boesje:
  • Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
  • Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
  • Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
© Sepenuhnya. All rights reserved.