Analisis Puisi:
Puisi “Keburu Petang Menghambur” karya Isbedy Stiawan ZS merupakan karya lirikal yang lembut, penuh perenungan, dan sarat emosi tentang pertemuan singkat yang diwarnai rasa sayang namun harus berakhir karena waktu. Dengan gaya bahasa sederhana namun bermakna dalam, Isbedy mengajak pembaca menyelami perasaan manusia yang terjebak antara kebahagiaan sesaat dan kehilangan yang datang terlalu cepat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta dan kefanaan momen. Penyair menggambarkan keindahan perjumpaan dua hati yang saling menyimpan perasaan, namun waktu—yang diibaratkan sebagai “petang”—datang terlalu cepat, memisahkan mereka sebelum sempat mengungkapkan sepenuhnya rasa yang ada.
Tema ini juga bisa dimaknai sebagai ketidakabadian kebahagiaan, di mana segala yang indah dalam hidup, termasuk cinta, sering kali datang hanya sebentar sebelum akhirnya lenyap.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang bertemu kekasihnya untuk waktu yang singkat, bercakap-cakap ringan, dan mencoba mengekspresikan perasaan cintanya. Namun, sebelum kata-kata itu sempat benar-benar bermakna atau terucap sepenuhnya, waktu telah memisahkan mereka — “keburu petang menghambur”.
Gambaran “petang” di sini menjadi simbol dari akhir pertemuan, keterbatasan, dan kepergian. Penyair seolah bertanya dengan lirih: apakah rasa sayang yang baru saja terucap itu juga akan “terhapus”, sebagaimana ombak yang menghapus jejak di pasir pantai?
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah refleksi tentang ketidakabadian cinta dan kefanaan waktu. Isbedy Stiawan ZS ingin menyampaikan bahwa dalam kehidupan, terutama dalam urusan perasaan, tidak semua yang dirasakan sempat diungkapkan secara utuh.
Petang melambangkan waktu yang terus berjalan dan tak bisa ditahan. Sementara ombak yang menghapus jejak di pasir melambangkan kenangan yang perlahan memudar, tak peduli seberapa kuat seseorang ingin mempertahankannya.
Dalam konteks yang lebih luas, makna tersiratnya adalah tentang kehilangan dan keterlambatan manusia dalam mengungkapkan cinta — bahwa sering kali kita baru menyadari nilai suatu pertemuan setelah semuanya berakhir.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini melankolis dan sendu, tetapi juga tenang dan reflektif. Ada rasa keindahan dalam kesedihan — seperti cahaya senja yang indah tapi segera hilang. Pembaca bisa merasakan suasana nostalgia yang lembut ketika penyair menulis:
“keburu petang menghambur / dan seperti ombak memburu pantai.”
Suasana ini menggambarkan momen antara ingin menahan waktu dan menyadari bahwa ia tak dapat dicegah.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Ungkapkan perasaan selagi sempat, karena waktu tidak selalu memberi kesempatan kedua.
- Setiap pertemuan berharga, meski hanya sebentar; jangan sia-siakan kesempatan untuk menunjukkan kasih sayang.
- Hidup adalah rangkaian kehilangan yang indah, dan kita perlu belajar menerima kefanaan dengan ketulusan.
Penyair seolah berpesan bahwa meski “petang” datang menghapus, makna dari perasaan yang tulus akan tetap hidup di hati mereka yang mengalaminya.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual dan emosional yang lembut dan konkret. Beberapa imaji yang menonjol:
- “keburu petang menghambur” menimbulkan gambaran visual tentang langit senja yang tiba-tiba gelap, membawa kesan waktu yang berlari.
- “ombak memburu pantai / menghapus tiap jejak di pasir” menghadirkan citraan alam yang kuat—gerak, bunyi, dan rasa yang menyimbolkan hilangnya kenangan.
- Imaji “huruf-huruf untuk merangkai perasaan ini: sayang” menimbulkan kesan lembut dan personal, seperti seseorang yang berusaha menuangkan cinta melalui kata.
Imaji-imaji ini bekerja menciptakan suasana intim dan romantis, namun dibalut kesedihan halus.
Majas
Beberapa majas penting yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi – tampak pada baris “petang menghambur”, seolah waktu memiliki kehendak untuk datang dan memisahkan.
- Simile (perbandingan langsung) – pada “seperti ombak memburu pantai”, digunakan untuk menggambarkan kecepatan dan ketidakmampuan seseorang menahan kepergian.
- Metafora – “jejak di pasir” menjadi metafora dari kenangan atau perasaan yang mudah hilang.
- Elipsis – penggunaan tanda baca “- ... -” menunjukkan perasaan yang tertahan, kata-kata yang tidak sempat diucapkan, mencerminkan suasana emosional yang dalam.
Pemilihan majas ini membuat puisi sederhana secara bentuk, namun dalam makna dan emosinya.
Puisi “Keburu Petang Menghambur” karya Isbedy Stiawan ZS adalah refleksi lirikal tentang cinta, waktu, dan kehilangan. Melalui diksi yang lembut dan simbolisme alam seperti “petang” dan “ombak”, penyair menghadirkan gambaran universal tentang perasaan manusia yang berjuang menahan sesuatu yang tak bisa dipertahankan.
Tema yang sederhana—perpisahan karena waktu—menjadi begitu menyentuh karena diolah dengan kepekaan batin dan keindahan bahasa.
Puisi ini mengingatkan kita bahwa setiap momen cinta adalah berharga, meski hanya sesaat sebelum “petang menghambur”. Karena dalam kefanaan itulah, manusia belajar memahami arti keindahan dan kehilangan secara bersamaan.
