Puisi: Kelahiran (Karya Oka Rusmini)

Puisi “Kelahiran” karya Oka Rusmini memadukan tradisi, tubuh, dan spiritualitas dalam narasi yang indah, mistis, dan emosional.
Kelahiran (1)

Konon Ibu memberiku upacara pemapag rare.
Ketika aku lahir beragam dagingnya
yang menempel di pusarku lepas.

Orang-orang menyiapkan sesaji.
Nasi gunung kecil berwarna-warni.
Cikal-bakal warna pelangi di telapak tanganku.

Orang-orang memberiku kacang-kacangan, saur, garam
dan sepotong ikan segar goreng. Harumnya
menguliti rasa laparku.

Pusarku dibungkus kain putih dan digantung di jempol kaki kecilku.
Rasa perih berdenyut di perutku yang sedikit kembung.
Mungkin ibuku lupa memberiku puting susunya.

Aku melihat seorang pandita menutup mata.
Memanggil Sang Hyang Kumara.
Sebuah singgasana indah disiapkan untuknya.

Juga sepiring nasi kuning. Nasi putih. Dadar telur. Gula merah.
Pisang mas dan geti-geti. Minyak wangi dan ronce bunga.
Bisakah kukalahkan kecantikan bunga-bunga untuk memikatNya?

Pusarku baru pupus.
Ibu meniupkan doa di ubun-ubun.
Menitipkanku pada Kumara.
Saudaraku: segenggam ari-ari yang dimuntahkan dari perut Ibu.
Kulihat ia dimasukkan ke dalam tempurung kelapa.
Periuk tanah berisi duri terung, duri mawar, pinang dan sirih.

Kelapa berselimut kain putih. Saudaraku dikubur
di sebelah kiri pintu, ditindih batu hitam dari kali.
Ayahku menanam pandan berduri di atasnya.

Ibu menabur segenggam nasi putih bercampur garam dan jahe.
Ayah menebar nasi merah bercampur potongan bawang merah,
nasi kuning berlumur kunyit, nasi hitam bercampur garam dan
arang.

Jika malam menggelayut, Ibu datang menaruh lampu di kuburan.
Menabur bunga. Merapal mantra yang diselipkan para pendeta
di telinganya.

Aku telah kehilangan saudaraku.
Setiap menjelang malam, aku menangis
sambil memeluk perutku yang menipis.

Kelahiran (2)

Beginilah mereka memisahkan kita.
Setumpuk pisau runcing beragam bentuk, liat dan licin,
Diolesi abu dapur bercampur garam.

Tubuhmu diikat benang tiga ruas.
Hitam putih merah.
Mereka menggulungmu.

Kau tak lagi bernyawa.
Mereka memotongmu dengan sembilu
beralas rempah.
Beginilah mereka memisahkan kita.
Orang-orang datang berkerumun membawa sesaji.

Catur sanak. Mereka masukkan tubuh-tubuh itu

ke dalam kain-kain putih yang telah dilumuri mantra
dan rapalan para leluhur. Ke mana
akan mereka bawa?
Beginilah mereka memisahkan kita.
Buatkan nama baru dari tumpukan lontar
yang diberi sesaji pada setiap upacara Saraswati.

Nyalakan potongan lidi yang dililit kapas putih.
Bakar di depan mataku. Tunggulah siapa
yang akan datang memberi petunjuk.

Ritus ini harus dimainkan.
Kau harus punya nama baru.
Beginilah mereka memisahkan kita.
Telah kuusir cuntaka yang melumuri kelahiranmu.
Datanglah di depan gerbang. Hidupkan dupa.
Tebarkan bunga dan beras warna-warni.

Masuklah ke tugu batu yang telah lama kautinggalkan.
Kulepas kau di laut luas bersama ikan kecil dan penyu.
Beginilah mereka memisahkan kita.

2014

Sumber: Saiban (2020)

Analisis Puisi:

Puisi “Kelahiran” karya Oka Rusmini adalah salah satu karya paling kuat dan intim dalam khazanah puisi Indonesia modern, terutama ketika berbicara tentang tradisi, tubuh, dan pengalaman perempuan Bali. Melalui puisi ini, Oka Rusmini bukan hanya memotret proses kelahiran secara ritual, tetapi juga menyelipkan lapisan makna mengenai hubungan manusia dengan dunia spiritual, tubuh, tradisi, dan rasa kehilangan.

Puisi ini terbagi menjadi dua bagian. Keduanya saling mengikat—menciptakan narasi tubuh, pemisahan, dan keterhubungan antara bayi, ibu, dan “saudara” simbolis dalam tradisi catur sanak.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ritus kelahiran dalam tradisi Bali serta pengalaman emosional yang menyertainya. Namun tema ini juga berkembang menjadi:
  • tema tentang hubungan manusia dengan spiritualitas,
  • tema tentang tubuh dan kesakitan,
  • tema tentang pemisahan dan kehilangan,
  • dan tema tentang identitas yang dibentuk oleh tradisi.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman kelahiran seorang bayi dalam tradisi Hindu Bali. Pada bagian pertama, penyair menggambarkan rangkaian upacara yang menyertai kelahiran—pemapag rare, proses mengubur ari-ari (yang dianggap “saudara” bayi), doa ibu, dan berbagai sesaji yang dipersembahkan untuk dewa-dewa dan leluhur.

Bagian kedua menggambarkan konsep catur sanak—empat “saudara spiritual” bayi (ari-ari, darah, air ketuban, dan verniks)—yang dalam tradisi dipisahkan dan diberi perlakuan ritual. Proses pemisahan itu digambarkan dramatis, seperti pemotongan, penggulungan, pembakaran, dan pemberian mantra.

Kedua bagian puisi ini menunjukkan bahwa kelahiran bukan hanya peristiwa biologis, tetapi peristiwa ritual yang sarat makna dan emosional.

Makna Tersirat

Puisi ini mengandung banyak makna tersirat, di antaranya:
  1. Kelahiran sebagai proses spiritual, bukan sekadar biologis. Tindakan menyajikan sesaji, menggantung pusar, dan memanggil Sang Hyang Kumara menunjukkan bahwa kelahiran adalah dialog antara manusia dan kekuatan ilahi.
  2. Kelahiran adalah pengalaman kesakitan dan kehilangan. Tokoh lirik “kehilangan saudaranya”—ari-ari—yang dikubur dan diperlakukan sebagai entitas hidup. Kelahiran menghadirkan ironi emosional: hadirnya kehidupan bersamaan dengan perpisahan.
  3. Tubuh bayi digambarkan tidak berdaya terhadap tradisi. Kain, rempah, sembilu, mantra—semuanya bekerja di atas tubuh kecil yang belum memahami apa-apa. Ini menyiratkan bahwa identitas manusia dibentuk oleh tradisi sebelum ia mampu menentukan sendiri.
  4. Kritik halus terhadap kerasnya ritus. Di balik penghormatan pada tradisi, penyair juga menyiratkan pertanyaan: “Beginilah mereka memisahkan kita” — kalimat diulang seolah menegaskan ketidakberdayaan bayi terhadap ritual yang penuh kekerasan simbolik seperti pisau, abu, dan pembakaran.
  5. Tradisi memisahkan dan sekaligus menyatukan. Tradisi “memisahkan” bayi dari saudara spiritualnya, tetapi ritus itu pula yang memberi bayi identitas baru.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang muncul adalah:
  • sakral, karena dipenuhi ritual, doa, dan sesaji;
  • mistis, menghadirkan dunia gaib dan kehadiran Sang Hyang Kumara;
  • melankolis, terutama ketika tokoh lirik menangisi kehilangan “saudaranya”;
  • sedikit mencekam, terutama pada bagian kedua ketika pisau, sembilu, dan abu dapur masuk dalam narasi;
  • penuh takzim, terhadap kekuatan tradisi dan leluhur.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang mungkin dapat ditangkap:
  1. Kelahiran adalah peristiwa yang harus dihormati, karena ia adalah hubungan antara manusia, alam, dan spiritual.
  2. Tradisi memiliki kekuatan untuk membentuk identitas seseorang, bahkan sebelum ia mampu berbicara atau memahami.
  3. Ada sisi lain dari kelahiran yang jarang dibicarakan: rasa sakit, kehilangan, dan proses simbolik yang harus dijalani.
  4. Puisi ini juga bisa dibaca sebagai refleksi bahwa manusia lahir bersama keterikatan dan perpisahan yang tidak dapat dihindari.

Imaji

Puisi ini sangat kaya imaji, baik visual, penciuman, maupun rasa.

Imaji visual:
  • “nasi gunung kecil berwarna-warni”
  • “panci aluminium penyok-penyok dan menghitam”
  • “tempurung kelapa, periuk tanah berisi duri”
  • “pisau runcing beragam bentuk”
  • “potongan lidi dililit kapas putih”
Semua menciptakan gambaran kuat mengenai ritual.

Imaji penciuman & rasa:
  • “harumnya menguliti rasa laparku”
  • “garam”, “rempah”, “jahe”, “bawang merah”
Imaji inderawi ini membuat puisi terasa hidup dan sangat fisikal.

Imaji emosional:
  • “aku menangis sambil memeluk perutku yang menipis” → menghadirkan rasa kehilangan yang mendalam.

Majas

Beberapa majas yang menonjol:

Metafora
  • “segenggam ari-ari saudaraku” → menggambarkan ari-ari sebagai entitas hidup dan saudara spiritual.
Repetisi
  • “Beginilah mereka memisahkan kita” → menegaskan rasa keterpaksaan dan ketidakberdayaan.
Personifikasi
  • “harumnya menguliti rasa laparku” → aroma digambarkan seperti tangan yang menguliti.
Simbolisme
  • Warna-warni nasi: simbol harapan dan doa.
  • Pisau, sembilu, abu: simbol kesakitan dan pemisahan.
  • Lampu malam di kuburan: simbol kasih ibu yang tetap menyertai.
Puisi “Kelahiran” karya Oka Rusmini adalah puisi yang memadukan tradisi, tubuh, dan spiritualitas dalam narasi yang indah, mistis, dan emosional. Melalui tema kelahiran yang penuh ritus, puisi ini bercerita tentang hubungan manusia dengan tradisi leluhur, sekaligus menyiratkan pengalaman kesakitan dan kehilangan yang menyertai awal kehidupan.

Makna tersirat, imaji yang kuat, dan majas yang tersebar di seluruh teks memperkaya pengalaman membaca, membuat puisi ini bukan hanya potret budaya Bali, tetapi juga renungan universal tentang bagaimana manusia masuk ke dunia—bukan hanya melalui rahim, tetapi melalui ritus dan makna.

Oka Rusmini
Puisi: Kelahiran
Karya: Oka Rusmini

Biodata Oka Rusmini:
  • Oka Rusmini lahir di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1967.
© Sepenuhnya. All rights reserved.