Puisi: Menyimak Penciptaan (Karya Remy Sylado)

Puisi “Menyimak Penciptaan” karya Remy Sylado mengangkat tema tentang asal-usul penciptaan manusia, cinta kasih sebagai dasar kehidupan, serta ...
Menyimak Penciptaan

Mana mungkin ibu
memberi anaknya tahi
ketika anaknya menangis
meminta makan kerna lapar.
Tapi inilah ibtida hidup
mesti disimak dari muhibah waktu
bahwa penciptaan diri adalah teladan
dimulainya kebebasan kerna cinta kasih.
Buka matamu
mata melihat
Buka kupingmu
kuping mendengar
Buka hatimu
hati merasa.
Betapa banyak mau ayah
membentuk anaknya seperti dirinya
sedangkan samawi Tuhan yang Elohim
mencipta Adam dengan kebebasan
untuk melawan kehendak-Nya.

Sumber: Kerygma & Martyria (Gramedia Pustaka Utama, 2004)

Analisis Puisi:

Puisi “Menyimak Penciptaan” karya Remy Sylado adalah salah satu karya yang sarat renungan filosofis dan spiritual. Penyair mengajak pembaca untuk kembali menengok asal mula penciptaan manusia dan memahami bahwa hidup berangkat dari cinta kasih, kebebasan, serta teladan ilahi. Remy Sylado menggunakan gaya bahasa langsung, lugas, bahkan provokatif, untuk membuka kesadaran pembaca bahwa kehidupan bermula dari kemurahan hati pencipta, bukan dari paksaan atau kepentingan pribadi.

Tema

Puisi ini mengangkat tema tentang asal-usul penciptaan manusia, cinta kasih sebagai dasar kehidupan, serta kebebasan yang dianugerahkan Tuhan. Tema tambahan yang mengemuka adalah refleksi moral mengenai hubungan orang tua–anak dan bagaimana manusia seharusnya memahami teladan Tuhan dalam memberi ruang kebebasan.

Puisi ini bercerita tentang bagaimana manusia harus memahami penciptaan sebagai sebuah tindakan penuh cinta kasih. Penyair memulai dengan perbandingan sederhana—seorang ibu yang tidak mungkin memberikan “tahi” kepada anaknya yang menangis meminta makan. Analogi ini digunakan untuk menunjukkan bahwa tindakan penciptaan manusia oleh Tuhan sudah pasti dilandasi kebaikan, bukan niat buruk.

Pada bagian selanjutnya, Remy Sylado menegaskan bahwa proses penciptaan harus disimak dengan kejernihan hati, pikiran, dan rasa. Ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan bukan untuk menjadi salinan sempurna orang tuanya, tetapi sebagai makhluk yang diberi kebebasan, bahkan kebebasan untuk “melawan kehendak Tuhan”. Kebebasan ini merupakan lambang cinta Tuhan yang paling tinggi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini cukup kaya dan mendalam:
  1. Tuhan menciptakan manusia dengan cinta kasih dan kebebasan, bukan sebagai robot atau replika kehendak-Nya.
  2. Kebebasan adalah bukti cinta tertinggi. Ketika Tuhan memberi manusia kemampuan memilih, bahkan memilih untuk melawan-Nya, itu menjadi tanda cinta yang mengutamakan kehendak bebas.
  3. Orang tua seharusnya tidak memaksakan kehendak pada anak, karena manusia sejak awal diciptakan sebagai individu yang merdeka.
  4. Penciptaan harus dimaknai secara spiritual dan simbolis, bukan sekadar biologis.
  5. Kesadaran hidup datang dari kemampuan membuka mata, telinga, dan hati, atau kemampuan untuk melihat, mendengar, dan merasakan dengan jernih.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa reflektif, kontemplatif, dan sedikit konfrontatif. Remy Sylado sering menggunakan gaya bicara yang seolah menegur pembaca, mengajak mereka berpikir ulang tentang sesuatu yang dianggap biasa. Ada nuansa keseriusan yang dibungkus dengan sentuhan provokatif khas penyair ini.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat atau pesan yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
  1. Hidup adalah anugerah yang lahir dari cinta kasih, maka jalani dengan kesadaran dan penghargaan.
  2. Kebebasan adalah bagian esensial dari manusia; jangan merampasnya dari anak atau dari diri sendiri.
  3. Orang tua hendaknya tidak memaksakan kehendak kepada anak, sebab Tuhan pun menciptakan manusia dengan kebebasan memilih.
  4. Gunakan mata, telinga, dan hati dengan benar agar memahami kehidupan secara utuh.

Imaji

Puisi ini mengandung imaji yang kuat dan kontras:
  • Imaji ibu dan anak yang lapar: gambaran domestik yang sangat konkret, mudah dibayangkan, dan sarat makna moral.
  • Imaji membuka mata, kuping, hati: imaji sensorik yang menggambarkan kesadaran penuh.
  • Imaji penciptaan Adam: menghadirkan gambaran religius dan simbolis tentang asal-usul manusia.
Imaji-imaji ini tidak hanya visual, tetapi juga emosional dan spiritual.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:

Metafora
  • “Penciptaan diri adalah teladan” → penciptaan sebagai teladan spiritual.
  • “Jembatan muhibah waktu” → waktu digambarkan sebagai pembawa pesan atau kasih.
Hiperbola
  • Analog “memberi anaknya tahi” untuk menegaskan ketidakmungkinan tindakan buruk dari ibu (dan Tuhan).
Personifikasi
  • Mata, kuping, dan hati digambarkan seolah memiliki kehendak untuk “melihat, mendengar, dan merasa”.
Alusi
  • Penyebutan “Adam” dan “Tuhan Elohim” merupakan rujukan langsung pada kisah penciptaan dalam kitab suci.
Puisi “Menyimak Penciptaan” adalah puisi yang padat renungan. Remy Sylado menegaskan bahwa hidup dimulai dari cinta kasih dan kebebasan—dua fondasi yang seharusnya menjadi teladan manusia dalam memperlakukan sesama, terutama anak. Dengan gaya lugas dan penuh analogi kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk membuka mata, telinga, dan hati dalam memahami makna penciptaan dan kebebasan manusia.

"Puisi Remy Sylado"
Puisi: Menyimak Penciptaan
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.