Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Nasionalisme (Karya Remy Sylado)

Puisi “Nasionalisme” karya Remy Sylado bercerita tentang sikap batin seorang individu yang menyadari bahwa dirinya mungkin akan meninggalkan tanah ...
Nasionalisme

Bahwa
hatiku boleh saja keluar dari tanah airku.
Tapi
jangan pernah tanah airku keluar dari hatiku.

Analisis Puisi:

Puisi “Nasionalisme” karya Remy Sylado adalah salah satu contoh puisi sangat singkat namun sarat makna. Walau hanya terdiri atas dua kalimat puitis, pesan yang dikandungnya begitu kuat, terutama tentang hubungan batin seorang individu dengan tanah airnya. Melalui struktur sederhana dan pilihan kata yang hemat, puisi ini menegaskan bahwa nasionalisme bukanlah sekadar tempat tinggal, melainkan keadaan jiwa.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta tanah air. Remy Sylado menyoroti bagaimana keterikatan seseorang pada tanah air tidak dibatasi oleh lokasi fisik. Meskipun seseorang dapat hidup atau pergi jauh dari negaranya, rasa nasionalisme yang sejati tidak akan berpindah atau hilang begitu saja.

Puisi ini bercerita tentang sikap batin seorang individu yang menyadari bahwa dirinya mungkin akan meninggalkan tanah air secara fisik, tetapi tanah air tetap tinggal dalam hatinya. Dengan kata lain, perjalanan hidup yang membawa seseorang ke tempat baru tidak serta-merta mencabut akar emosional dan identitas kebangsaannya.

Puisi ini juga menggambarkan perbedaan antara kepergian secara geografis dan kepergian secara ideologis. Seseorang boleh berada di luar Indonesia, tetapi nilai-nilai kebangsaan tidak seharusnya hilang dari dirinya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa nasionalisme adalah kesetiaan batin, bukan sekadar keberadaan fisik. Ada pesan bahwa identitas nasional bukan sesuatu yang mudah dilepaskan. Seseorang bisa merantau, menetap di negeri orang, atau berjarak secara geografis dari tanah kelahirannya, tetapi nilai-nilai yang dibentuk oleh tanah air itu—budaya, sejarah, bahasa, ingatan kolektif—tetap mengakar dalam diri.

Makna tersirat lainnya adalah bahwa seseorang tidak seharusnya melupakan asal usulnya. Dalam konteks modern, hal ini juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap orang-orang yang kehilangan rasa kebangsaan karena terlalu larut dalam kehidupan di luar negeri atau terpengaruh budaya asing.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang tercipta dalam puisi ini adalah tenang namun tegas, sebuah suasana perenungan yang sederhana tetapi dalam. Nada yang digunakan terasa seperti sebuah pernyataan pribadi yang jujur, bukan emosional, tetapi penuh keyakinan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah:
  1. Jangan pernah melupakan tanah air, di manapun seseorang berada.
  2. Nasionalisme bukan perihal lokasi fisik, melainkan sikap batin yang perlu dijaga.
  3. Jarak tidak menjadi alasan untuk memutus ikatan dengan bangsa sendiri.
  4. Identitas dan rasa cinta tanah air adalah sesuatu yang harus dipertahankan meskipun hidup membawa seseorang jauh dari tempat asalnya.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:

Majas Metafora
  • “Hatiku boleh saja keluar dari tanah airku” bukan berarti hati secara literal keluar, melainkan menggambarkan perpindahan fisik seseorang.
  • “Tanah airku keluar dari hatiku” adalah metafora untuk hilangnya rasa nasionalisme.
Majas Antitesis
  • Puisi menggunakan dua pernyataan yang berlawanan sebagai penegasan: hati boleh keluar dari tanah air, tetapi tanah air tidak boleh keluar dari hati.
Puisi “Nasionalisme” karya Remy Sylado menunjukkan bahwa kedalaman makna tidak selalu memerlukan banyak kata. Dengan bentuk yang singkat, puisi ini mampu menyuarakan pesan universal: nasionalisme adalah sesuatu yang melekat dalam hati, bukan sekadar urusan tempat tinggal. Inilah ajakan untuk terus menjaga identitas dan cinta tanah air, ke mana pun langkah hidup membawa kita.

"Puisi Remy Sylado"
Puisi: Nasionalisme
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.