Analisis Puisi:
Puisi “Numpang Perahu Nuh” karya Dorothea Rosa Herliany merupakan salah satu karya yang merefleksikan pandangan eksistensial penyair terhadap kehidupan, harapan, dan keselamatan manusia di tengah dunia yang penuh bencana dan kehancuran moral. Dengan memanfaatkan simbol “Perahu Nuh” dari kisah religius, Dorothea menggali makna spiritual dan filosofis tentang bagaimana manusia mencari perlindungan dari banjir derita dan dosa dunia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian keselamatan dan makna hidup di tengah bencana dan penderitaan manusia. Penyair menggambarkan manusia sebagai sosok yang selalu mencari tempat berlindung, baik secara fisik maupun batin, dari derasnya “banjir kehidupan”. Dengan menumpang “perahu Nuh”, subjek lirik mencoba menghindari kehancuran dunia yang penuh derita, sambil tetap menggenggam harapan meskipun dalam kesendirian.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa hidupnya seperti berada di atas perahu Nuh, berlayar di tengah ombak besar dunia yang dipenuhi penderitaan dan kekacauan. Ia “tidur di atas perahu Nuh” — sebuah metafora tentang mencari ketenangan dalam iman atau harapan di tengah kehancuran moral. Penyair melukiskan sosok yang sadar akan keterasingannya, “sendiri di antara benih-benih”, menunggu masa depan sambil menanggung derita masa kini.
Namun, di balik kesepian itu, ia masih memegang secercah harapan — dilambangkan dengan “daun zaitun” — simbol perdamaian dan kehidupan baru setelah bencana besar.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah refleksi atas kondisi manusia modern yang terus menghadapi kehancuran—baik alamiah, sosial, maupun spiritual—tetapi tetap berusaha mencari harapan dan penyelamatan diri.
Dorothea tampaknya ingin menunjukkan bahwa dunia kini adalah “banjir” baru, bukan lagi air yang menenggelamkan bumi, tetapi banjir derita, kebencian, dan keputusasaan. “Perahu Nuh” menjadi simbol ruang batin yang suci tempat manusia menyeberang menuju harapan baru.
Ada pula dimensi religius yang kuat: manusia diingatkan untuk tidak tenggelam oleh kebencian (“kubakar peta dengan kebencian yang tanpa sebab”) dan justru memilih menanam kembali harapan (“daun zaitun”).
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini bersifat hening, reflektif, sekaligus penuh kesepian dan harapan samar. Pembaca dapat merasakan getar batin penyair yang menyepi di tengah kehancuran dunia, seperti seseorang yang berlayar di tengah badai, mencoba memahami arti keberadaannya.
Ada nuansa melankolis dari kalimat “sendiri di antara benih-benih”, tetapi juga muncul cahaya optimisme ketika penyair menutup dengan simbol daun zaitun—tanda perdamaian dan awal kehidupan baru.
Amanat / Pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini adalah pentingnya menjaga harapan dan nilai kemanusiaan di tengah dunia yang dipenuhi bencana, derita, dan kebencian.
Dorothea Rosa Herliany seolah ingin menyampaikan bahwa meski hidup terasa hancur dan tak menentu, manusia tetap perlu memiliki “perahu” — entah berupa iman, cinta, atau kesadaran — untuk menempuh lautan penderitaan. Ia juga mengingatkan bahwa membakar “peta kebencian” adalah langkah spiritual menuju kedamaian batin.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji simbolik dan visual.
- Imaji visual muncul pada penggambaran “perahu Nuh”, “riak kata-kata dan legenda”, serta “daun zaitun”. Pembaca dapat membayangkan pemandangan laut luas, tubuh yang berbaring di geladak kapal, dan secercah daun yang menjadi tanda kehidupan.
- Imaji spiritual tampak melalui frasa “menitipkan keselamatan dan harapan” — menggambarkan gerak batin yang pasrah namun tetap percaya pada kemungkinan keselamatan.
- Imaji auditori (pendengaran) juga tersirat dari “riak kata-kata dan legenda”, seperti bisikan atau gelombang yang membawa kenangan masa lalu manusia dan dunia.
Semua imaji ini saling berpadu membangun nuansa kontemplatif, seakan pembaca diajak menaiki perahu batin yang berlayar di lautan simbol kehidupan.
Majas
Dorothea menggunakan sejumlah majas metafora dan personifikasi untuk memperkuat kesan simbolik puisinya:
- Metafora tampak dalam “Aku selalu tidur di atas perahu Nuh”, yang tidak dimaksud secara harfiah, tetapi melambangkan keadaan batin yang mencoba bertahan di tengah arus kehidupan.
- Personifikasi hadir dalam “melambung dalam riak kata-kata dan legenda”, seolah kata-kata dan legenda adalah gelombang hidup yang membawa manusia terapung di atasnya.
- Hiperbola muncul dalam “kubakar peta dengan kebencian”, sebuah ungkapan ekstrem untuk menunjukkan niat menolak kebencian dalam hidup.
- Simbolisme “daun zaitun” menjadi lambang klasik dari kedamaian, pengampunan, dan awal yang baru, mengaitkan puisi ini dengan kisah religius universal.
Puisi “Numpang Perahu Nuh” karya Dorothea Rosa Herliany merupakan karya reflektif yang menggabungkan spiritualitas, eksistensialisme, dan simbol-simbol religius. Melalui tokoh lirik yang berlayar di atas “perahu Nuh”, penyair menggambarkan manusia modern yang berjuang mempertahankan harapan di tengah dunia yang dikepung bencana dan kebencian.
Tema besar tentang keselamatan dan harapan diperkaya dengan imaji kuat dan majas yang subtil, menjadikan puisi ini bukan sekadar kisah religius, tetapi juga renungan filosofis tentang makna hidup dan keteguhan batin manusia.
Dorothea Rosa Herliany dengan cerdas memadukan realitas dan mitos, kekerasan dan kelembutan, serta derita dan harapan, menjadikan puisi ini sebagai simbol perjalanan spiritual manusia melintasi lautan kehidupan menuju daratan kedamaian.

Puisi: Numpang Perahu Nuh
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Biodata Dorothea Rosa Herliany:
- Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
- Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.