Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Pak (Karya Remy Sylado)

Puisi “Pak” karya Remy Sylado mengajak pembaca untuk menatap realitas dengan jujur: bahwa semua kekayaan dan kemegahan dunia akan berakhir di liang ..
Pak

Kalau kau mati di terlalu tua, Pak
jangan mati sebagai si belegug
punya tanah di antero Nusantara
sedang tanah yang kau perlukan
buat satukan badanmu dibancak cacing
paling dua setengah meter kali satu
dan kubur di Jakarta hanya boleh disewa
lantas diperpanjang dua tahun sekali.

Kalau mati di terlalu tua, Pak
yakinkan anak-anakmu tentang hidup baru
yang telah kau tabung selama usiamu
supaya anak-anakmu makin mengerti
bahwa tradisi yang mesti dilestarikan
adalah tradisi bukan menjadi kaya di fana
tapi doa dan kerja untuk kaya di baka
dipanggil namamu dan kau menyahut: ya!

Sumber: Kerygma & Martyria (2004)

Analisis Puisi:

Puisi “Pak” karya Remy Sylado merupakan sebuah refleksi sosial dan spiritual yang tajam, ditulis dengan gaya khas penyair ini yang lugas, satir, namun sarat makna. Melalui pilihan diksi yang sederhana tetapi menggigit, Remy Sylado mengingatkan tentang kefanaan hidup, keserakahan manusia, dan nilai sejati yang seharusnya dijaga: kebijaksanaan, kesadaran diri, dan keikhlasan.

Tema

Tema utama puisi “Pak” adalah kesadaran akan kematian dan kefanaan harta dunia. Penyair ingin menegaskan bahwa sebesar apa pun kekayaan seseorang, pada akhirnya manusia hanya membutuhkan sebidang tanah kecil ketika mati. Selain itu, tema ini juga menyinggung nilai moral dan spiritual dalam menghadapi usia tua — bahwa yang seharusnya diwariskan kepada anak bukanlah kekayaan fana, melainkan nilai-nilai abadi: doa, kerja, dan kebajikan.

Puisi ini bercerita tentang seorang ayah tua (Pak) yang diingatkan agar menyadari hakikat hidup sebelum mati. Remy Sylado dengan gaya tutur yang seperti menasihati, menegur tokoh “Pak” agar tidak menjadi “si belegug” — istilah yang berarti orang bodoh atau keras kepala — meskipun memiliki kekayaan melimpah.

Penyair menyindir fenomena manusia yang memiliki banyak tanah di seluruh Nusantara, namun lupa bahwa kelak ia hanya akan memerlukan “dua setengah meter kali satu” untuk dikuburkan. Bahkan, di kota besar seperti Jakarta, tanah kubur pun bisa “disewa dan diperpanjang dua tahun sekali”. Ini merupakan sindiran sosial yang tajam terhadap komersialisasi lahan dan kesenjangan sosial di kota besar.

Pada bait kedua, penyair melanjutkan nasihatnya: agar si “Pak” meyakinkan anak-anaknya tentang makna hidup sejati, bahwa kekayaan yang sejati bukanlah harta duniawi, melainkan amal, doa, dan kerja yang membawa keberkahan abadi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap keserakahan, kebanggaan palsu atas harta dunia, dan lupa akan hakikat hidup yang sesungguhnya. Remy Sylado menegaskan bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, sedangkan kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari. Semua kemegahan, jabatan, dan tanah yang dimiliki manusia tidak berarti apa-apa ketika maut menjemput.

Selain itu, puisi ini juga menyiratkan pesan moral dan religius: manusia hendaknya menabung amal baik, bukan hanya kekayaan materi. Tradisi yang perlu dilestarikan bukanlah “menjadi kaya di fana”, melainkan “doa dan kerja untuk kaya di baka” — yakni kekayaan spiritual dan amal saleh yang akan berguna setelah mati.

Makna lain yang lebih dalam adalah kesadaran akan warisan nilai. Remy Sylado mengingatkan agar generasi tua tidak hanya mewariskan harta, tetapi juga makna hidup kepada anak-anak mereka, sehingga nilai kemanusiaan tidak hilang di tengah arus materialisme.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa satir namun reflektif, tegas tetapi penuh kebijaksanaan. Ada nada sindiran yang kuat, terutama ketika penyair menyinggung soal “tanah kubur disewa dan diperpanjang dua tahun sekali”. Namun di balik satire itu, tersimpan perasaan iba, kasih, dan keinginan untuk mengingatkan dengan cara yang jujur dan lugas.

Puisi ini tidak sentimental, tetapi tetap mengandung kehangatan moral — seperti nasihat seorang guru kehidupan yang ingin membuka mata pembacanya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat utama puisi ini adalah kesadaran untuk hidup dengan bijak, sederhana, dan tidak terikat pada keserakahan dunia. Penyair menyampaikan bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada materi, melainkan pada amal dan doa yang menjadi bekal di akhirat.

Pesan lain yang juga kuat adalah tentang pewarisan nilai-nilai moral kepada generasi muda. Orang tua hendaknya menanamkan nilai kejujuran, kerja keras, dan doa yang tulus, bukan sekadar harta yang bisa habis.

Selain itu, Remy Sylado secara halus menyindir ketimpangan sosial dan absurditas sistem perkotaan yang bahkan menjadikan tanah kubur sebagai komoditas — sebuah kritik sosial yang tajam namun realistis.

Imaji

Remy Sylado membangun puisi ini dengan imaji realistik dan sosial yang kuat, contohnya:
  • “punya tanah di antero Nusantara” — menampilkan gambaran konkret tentang orang kaya yang menguasai banyak lahan.
  • “tanah yang kau perlukan buat satukan badanmu dibancak cacing” — citraan visual dan kinestetik yang menggambarkan tubuh yang dimakan tanah setelah mati.
  • “kubur di Jakarta hanya boleh disewa” — imaji sosial yang menyindir keras realitas kota besar di mana bahkan kematian pun menjadi urusan birokratis.
Imaji-imaji ini menciptakan kesan nyata, getir, dan sekaligus ironis — gaya khas Remy Sylado yang selalu memadukan realitas sosial dengan refleksi filosofis.

Majas

Puisi ini kaya dengan majas sindiran (ironi), metafora, dan repetisi yang memperkuat pesan moralnya. Beberapa contohnya:
  • Ironi: “punya tanah di antero Nusantara, sedang tanah yang kau perlukan... paling dua setengah meter kali satu” — menggambarkan kontras antara kekayaan duniawi dan kebutuhan setelah mati.
  • Metafora: “dipanggil namamu dan kau menyahut: ya!” — menjadi simbol kesiapan seseorang menjawab panggilan Tuhan dengan jiwa yang tenang dan bersih.
  • Sarkasme: “kalau kau mati di terlalu tua, Pak, jangan mati sebagai si belegug” — teguran yang terdengar keras, tetapi sebenarnya bermaksud mengingatkan agar tidak hidup sia-sia.
Majas-majas ini membuat puisi terasa hidup, kuat, dan menggigit, sekaligus menghadirkan gaya tutur yang khas Remy Sylado: antara humor getir dan kebenaran pahit.

Puisi “Pak” karya Remy Sylado adalah renungan tajam tentang hidup, mati, dan makna sejati dari kekayaan. Dengan bahasa yang lugas dan satire sosial yang kuat, penyair menggugat pandangan manusia modern yang menuhankan materi.

Puisi ini mengajak pembaca untuk menatap realitas dengan jujur: bahwa semua kekayaan dan kemegahan dunia akan berakhir di liang dua setengah meter. Yang abadi hanyalah amal, doa, dan cinta yang tulus.

Lewat sindiran yang jernih dan penuh makna, Remy Sylado mengingatkan kita — seperti seorang sahabat yang menyentuh bahu dan berkata lembut namun tegas — bahwa kekayaan sejati adalah kekayaan hati yang dipupuk dengan doa dan kerja di jalan yang benar.

"Puisi Remy Sylado"
Puisi: Pak
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.