Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Peninggalan (Karya Remy Sylado)

Puisi “Peninggalan” karya Remy Sylado bercerita tentang kehidupan yang ditandai oleh kehancuran moral, rasa bersalah, dan egoisme manusia yang ...
Peninggalan

Kita berdiri di satu bumi dengan serba peninggalan
Puntung rokok di antara ludah, kondom bekas
Tusuk gigi, kaleng bir, celana rombeng
Dan hutan laut yang dikuras pencuri
Tapi juga batin yang dibuka untuk menyeleweng.

Suntuk perasaan, mari terbang seperti belibis
Yang gugup, terbang kencang tinggalkan kawanannya
Seperti juga selalu dalam setiap lomba
Pasti berakhir dengan hanya satu pemenang
Sisanya adalah peninggalan rasa bersalah.

Kita terpaksa meninggalkan teman-teman terkasih
ayah, ibu, suami, istri, anak, kakek, nenek
dalam memilih jalan menuju keselamatan.

Analisis Puisi:

Puisi “Peninggalan” memiliki tema tentang kehidupan manusia modern yang dipenuhi jejak dosa, kemunafikan, dan kehilangan nilai moral. Remy Sylado dengan gaya khasnya yang lugas dan satir menyoroti bagaimana manusia meninggalkan warisan yang bukan berupa kebajikan, melainkan sampah moral dan material.

Tema ini mencerminkan kritik sosial dan refleksi eksistensial terhadap perilaku manusia yang serakah dan egoistis di tengah dunia yang terus rusak oleh ulahnya sendiri.

Puisi ini bercerita tentang kondisi dunia dan manusia yang hidup di atas tumpukan peninggalan buruk peradaban. Pada bait pertama, penyair menggambarkan pemandangan penuh benda-benda sisa — “puntung rokok, kondom bekas, tusuk gigi, kaleng bir, celana rombeng” — sebagai metafora dari dunia yang kotor, penuh bekas kesenangan sesaat.

Namun, lebih dari sekadar sampah fisik, penyair juga menyinggung “batin yang dibuka untuk menyeleweng”, menunjukkan kerusakan batin dan moralitas manusia.

Bait kedua berbicara tentang rasa jenuh dan keinginan untuk melarikan diri. Manusia ingin “terbang seperti belibis” — simbol pelarian diri dari kenyataan dan tanggung jawab.

Sementara bait terakhir menyoroti kontradiksi manusia dalam memilih keselamatan spiritual: demi menyelamatkan diri, mereka rela meninggalkan orang-orang yang mereka cintai.

Dengan demikian, puisi bercerita tentang kehidupan yang ditandai oleh kehancuran moral, rasa bersalah, dan egoisme manusia yang ingin selamat sendiri di tengah dunia yang rusak.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap manusia yang meninggalkan dunia dalam keadaan kotor dan kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Penyair ingin menyampaikan bahwa warisan manusia modern bukan lagi kebajikan, tetapi jejak keserakahan dan kemunafikan.

Frasa “hutan laut yang dikuras pencuri” menunjukkan eksploitasi alam, sedangkan “batin yang dibuka untuk menyeleweng” menyinggung korupsi moral dan spiritual.

Makna tersirat lain adalah kesepian eksistensial: manusia kini hidup terpisah, berjuang sendiri demi keselamatan pribadi, bahkan jika harus “meninggalkan teman-teman terkasih”.

Dengan kata lain, Remy Sylado menegaskan bahwa peninggalan manusia bukan lagi peradaban, melainkan kehancuran, baik secara fisik maupun batiniah.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang muncul dalam puisi ini kelam, getir, dan reflektif. Diksi seperti “puntung rokok”, “kondom bekas”, “kaleng bir”, dan “penyelewengan” membangun suasana muram yang menggambarkan kehancuran nilai.

Namun, ada juga nuansa pasrah dan kelelahan dalam ungkapan “suntuk perasaan”, yang memperlihatkan keinginan untuk melarikan diri dari realitas busuk yang tak lagi tertahankan.

Puisi ini membuat pembaca merenung dengan rasa canggung dan bersalah, seolah diajak melihat kembali apa yang telah manusia tinggalkan di dunia ini — bukan kebersihan, melainkan kerusakan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Imaji

Puisi ini dipenuhi imaji visual dan moral yang kuat.
  • Imaji visual sangat jelas dalam bait pertama: “Puntung rokok di antara ludah, kondom bekas, tusuk gigi, kaleng bir, celana rombeng.” Baris ini membentuk gambaran konkret tentang dunia yang dipenuhi sisa-sisa aktivitas manusia yang tak bermoral.
  • Imaji gerak muncul pada “terbang seperti belibis yang gugup”, menghadirkan citra tentang pelarian dan kegelisahan.
  • Imaji emosional terasa pada “sisanya adalah peninggalan rasa bersalah”, menggambarkan beban batin manusia modern yang kehilangan arah spiritual.
Imaji yang kuat ini memperkuat kesan realistik sekaligus simbolik, khas puisi-puisi Remy Sylado yang sering menggabungkan bahasa sehari-hari dengan filosofi mendalam.

Majas

Remy Sylado menggunakan berbagai majas untuk memperkaya makna puisinya, di antaranya:
  • Majas metafora: “Peninggalan rasa bersalah” digunakan untuk melukiskan perasaan berdosa dan beban moral yang diwariskan manusia.
  • Majas simbolik: “Puntung rokok”, “kondom bekas”, dan “kaleng bir” bukan hanya benda literal, tetapi simbol dari kerusakan moral dan kehidupan hedonistik.
  • Majas personifikasi: “Hutan laut yang dikuras pencuri” memberi kesan bahwa alam adalah entitas yang hidup dan dirampas, bukan sekadar objek.
  • Majas simile (perbandingan): “Mari terbang seperti belibis” menggambarkan keinginan manusia untuk lari dari kenyataan, seperti burung yang panik meninggalkan kawanan.
Gaya bahasa Remy Sylado selalu tegas, kadang vulgar, tapi justru di situlah kekuatannya — menggugah pembaca untuk sadar akan kenyataan yang sering disembunyikan oleh kepura-puraan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk bercermin dan sadar akan jejak yang kita tinggalkan di dunia ini. Remy Sylado ingin menegaskan bahwa setiap manusia adalah pewaris dan sekaligus pewaris-balik dari apa yang ditinggalkan sebelumnya — baik sampah, dosa, maupun kebajikan.

Puisi ini mengingatkan bahwa peninggalan sejati bukanlah benda atau kemenangan, tetapi nilai dan kebaikan. Namun, jika manusia terus hidup dalam kebohongan dan keserakahan, maka yang tersisa hanyalah “peninggalan rasa bersalah” yang abadi.

"Puisi Remy Sylado"
Puisi: Peninggalan
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.