Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Reruntuhan Senja Afganistan (Karya Yehezkiel)

Puisi “Reruntuhan Senja Afganistan” karya Yehezkiel bercerita tentang kehancuran dan penderitaan akibat perang di Afghanistan, di mana keindahan ...

Reruntuhan Senja Afganistan

Serpihan dedaun kering berjatuhan,
Seiring ribuan sukma memudar.
Keindahan, kekacauan, kedamaian, ketakutan.
Selaras senja mentari enggan tertidur,
Sebuah paradoks, masa kecil di reruntuhan.

Bulir gandum merunduk malu,
Terbayang nista oleh dosa.
Tanpa pesta panen,
Hanya dentuman bom,
Dan siulan sirine peringatan.

Awan Taliban di tanah Afganistan,
Kalyana visada Adhakarta bhuvana.
Di kala senja musim gugur membara,
Nestapa pilu masa kecil lantak riuh ditelan aroma mesiu.

Cinta hilang di belantara hasrat semata.
Jua agama jadi senjata hancurkan dunia.
Senjata musim gugur, lebur terkubur bersama impian dan daun yang gugur.

Aceh, 8 November 2025

Analisis Puisi:

Puisi “Reruntuhan Senja Afganistan” karya Yehezkiel adalah karya yang kuat, simbolik, dan sarat emosi tentang kehancuran kemanusiaan di tengah perang yang berkepanjangan. Dengan diksi yang puitis namun menyakitkan, penyair menghadirkan gambaran getir tentang realitas di Afghanistan — negeri yang dahulu indah, kini berubah menjadi ladang nestapa akibat ambisi, kekerasan, dan salah tafsir terhadap agama.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehancuran kemanusiaan akibat perang dan fanatisme. Yehezkiel menyoroti penderitaan rakyat, terutama anak-anak, di tengah konflik bersenjata yang tiada akhir. Melalui simbol-simbol alam seperti “senja”, “daun gugur”, dan “gandum merunduk malu”, penyair menggambarkan keindahan yang memudar bersama lenyapnya kedamaian. Tema ini tidak hanya mencerminkan tragedi di Afghanistan, tetapi juga menjadi kritik universal terhadap perang dan kekerasan yang mengatasnamakan keyakinan.

Puisi ini bercerita tentang kehancuran dan penderitaan akibat perang di Afghanistan, di mana keindahan alam dan masa kecil yang seharusnya penuh tawa kini berubah menjadi reruntuhan dan duka.

Larik “Serpihan dedaun kering berjatuhan, Seiring ribuan sukma memudar” menggambarkan kematian dan kehilangan yang terjadi setiap hari. Sementara baris “Awan Taliban di tanah Afganistan” menegaskan latar sosial-politik puisi ini, di mana kekuasaan dan ideologi menjadi sumber malapetaka.

Penyair melukiskan bagaimana masa kecil dan kehidupan sederhana hancur oleh bom dan peluru, sementara dunia hanya menjadi penonton. Ia juga menyinggung kontradiksi batin manusia dalam larik “Keindahan, kekacauan, kedamaian, ketakutan”, menunjukkan absurditas perang yang memutarbalikkan nilai-nilai kemanusiaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap perang, kekerasan, dan kemunafikan yang sering dibungkus dengan simbol agama atau kekuasaan. Yehezkiel ingin menyampaikan bahwa perang tidak hanya menghancurkan tubuh manusia, tetapi juga meruntuhkan nilai-nilai moral, cinta, dan kemanusiaan itu sendiri.

Larik “Cinta hilang di belantara hasrat semata” mengandung makna bahwa manusia telah kehilangan kemampuan mencintai sesamanya karena terjebak dalam ambisi dan nafsu kuasa. Sedangkan “Jua agama jadi senjata hancurkan dunia” menyiratkan sindiran keras terhadap mereka yang menjadikan agama sebagai pembenaran untuk membunuh dan menghancurkan.

Dengan begitu, makna terdalam puisi ini bukan sekadar tangisan untuk Afghanistan, tetapi renungan bagi seluruh umat manusia tentang bahaya kebencian dan keserakahan yang menodai kesucian nilai spiritual dan kemanusiaan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa muram, tragis, dan reflektif. Ada kesedihan yang menyelimuti setiap larik, berpadu dengan keheningan senja yang menjadi metafora bagi kematian dan kehilangan.

Kata-kata seperti “serpihan dedaun kering”, “bulir gandum merunduk malu”, dan “nestapa pilu masa kecil lantak riuh ditelan aroma mesiu” membangkitkan perasaan duka yang dalam, membuat pembaca seolah dapat mencium bau mesiu dan mendengar tangisan di balik reruntuhan kota.

Namun, di balik kesedihan itu, ada juga suasana kontemplatif — seolah penyair mengajak pembaca merenung: bagaimana mungkin cinta dan agama yang suci justru menjadi alat penghancur?

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan moral dari puisi ini sangat kuat. Yehezkiel menyampaikan amanat agar manusia kembali pada nurani dan kemanusiaan sejati, serta berhenti menjadikan kekuasaan dan agama sebagai alasan untuk menumpahkan darah.

Puisi ini juga membawa pesan tentang rapuhnya kehidupan — bahwa perang tidak pernah benar-benar menghasilkan kemenangan, hanya menyisakan kehancuran dan air mata.

Melalui metafora “senjata musim gugur, lebur terkubur bersama impian dan daun yang gugur”, penyair ingin menegaskan bahwa kekerasan pada akhirnya akan musnah bersama waktu, sementara penderitaan manusia tetap meninggalkan luka sejarah.

Secara spiritual, amanatnya adalah mengembalikan makna cinta, kedamaian, dan belas kasih sebagai fondasi utama kehidupan.

Imaji

Puisi ini sarat imaji visual, auditif, dan emosional yang kuat.

Imaji Visual (penglihatan)
  • “Serpihan dedaun kering berjatuhan” menggambarkan kehancuran dan kematian.
  • “Bulir gandum merunduk malu” menciptakan citra pedesaan yang kehilangan makna hidup akibat perang.
  • “Nestapa pilu masa kecil lantak riuh ditelan aroma mesiu” menghadirkan gambaran mengerikan tentang kehancuran dan korban jiwa di tengah ledakan.
Imaji Auditif (pendengaran)
  • “Dentuman bom” dan “siulan sirine peringatan” menimbulkan efek suara yang menggetarkan batin, membuat pembaca seolah mendengar langsung teror perang.
Imaji Emosional (perasaan)
  • Larik “Cinta hilang di belantara hasrat semata” menggugah rasa sedih dan kehilangan mendalam. Imaji ini menembus lapisan logika menuju perenungan moral dan spiritual.
Imaji-imaji ini menjadikan puisi Yehezkiel bukan hanya bacaan, tetapi pengalaman emosional yang mengguncang hati pembacanya.

Majas

Puisi ini juga kaya akan majas (gaya bahasa) yang memperkuat pesan dan nuansa puisinya:

Majas Personifikasi
  • “Bulir gandum merunduk malu” — gandum digambarkan memiliki rasa malu, menandakan kesedihan alam terhadap perang.
  • “Senjata musim gugur” — senjata disamakan dengan fenomena alam, seolah menjadi bagian dari siklus kehancuran.
Majas Metafora
  • “Serpihan dedaun kering” menjadi metafora untuk nyawa manusia yang berguguran.
  • “Cinta hilang di belantara hasrat” menggambarkan hati manusia yang tersesat dalam ambisi dan kebencian.
Majas Paradoks
  • “Keindahan, kekacauan, kedamaian, ketakutan” menunjukkan pertentangan makna yang mencerminkan realitas absurd perang: tempat keindahan dan kehancuran berdampingan.
Majas Hiperbola

  • “Ribuan sukma memudar” memperkuat kesan tragedi masal, menggambarkan betapa besar penderitaan manusia akibat perang.
Dengan penggunaan majas yang berlapis, Yehezkiel berhasil menciptakan puisi yang tidak hanya menggugah secara estetis, tetapi juga mengguncang kesadaran moral pembacanya.

Puisi “Reruntuhan Senja Afganistan” karya Yehezkiel adalah elegi tentang kehancuran dunia dan kemanusiaan yang terseret dalam pusaran perang. Melalui diksi yang kuat, imaji yang tajam, dan simbol-simbol puitis, penyair berhasil melukiskan kontras antara keindahan alam dan kebiadaban manusia.

Tema perang dan penderitaan diangkat dengan cara yang filosofis — bukan sekadar kisah tragedi, tetapi juga seruan agar manusia kembali menata nurani dan menghentikan siklus kebencian. Makna tersiratnya dalam-dalam, menyoal cinta, agama, dan kemanusiaan yang terdistorsi oleh hasrat berkuasa.

Dengan perpaduan suasana muram, imaji yang menggugah, serta penggunaan majas yang padat, karya ini tidak hanya menjadi potret penderitaan Afghanistan, tetapi juga refleksi universal tentang rapuhnya perdamaian dan pentingnya nilai cinta dalam dunia yang kian kehilangan nurani.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Reruntuhan Senja Afganistan
Karya: Yehezkiel

Biodata Yehezkiel:
  • Yehezkiel Pernando Sihombing lahir pada tanggal 29 Agustus 2003 di Cikampak. Ia pernah beberapa kali mendapatkan gelar juara saat kompetisi puisi antar sekolah tingkat kecamatan saat menjadi pelajar di SD Swasta Grahadura Leidong Prima Kabupaten Labuhan Batu Utara Provinsi Sumatera Utara. Yehezkiel aktif di kelas Asqa Imagination School (AIS) #61 mulai bulan Agustus 2025. Penulis bisa disapa di Instagram @yehezkiels1h0mb1n9
© Sepenuhnya. All rights reserved.