Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Sungai Airmata (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Puisi “Sungai Airmata” karya Dorothea Rosa Herliany bercerita tentang dua tokoh yang menyusuri “sungai air mata”—sebuah perjalanan metaforis yang ...
Sungai Airmata

bulan mengalir bersama muara
sungai airmata. ke laut entah apa. kita
ikut di atas perahu mainan. tak ke mana-mana.

"ayolah!"

kau terlelap dalam jantung dayungmu.
sebelum patah dan berdarah.

bulan mengalir, sampai pulau yang
tak pernah kita temu. kubangun rumah siput
di antara tanah dan pasir yang membeku.

1993

Sumber: Nikah Ilalang (1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Sungai Airmata” karya Dorothea Rosa Herliany merupakan salah satu karya yang mencerminkan karakteristik khas penyairnya: padat, metaforis, dan sarat nuansa eksistensial. Meski tampak singkat, puisi ini membawa pembaca pada perjalanan batin yang murung, hening, dan penuh ambiguitas. Sungai air mata menjadi metafora perjalanan emosional—cinta, kehilangan, atau pencarian makna—yang tidak pernah selesai.

Gaya puitis Herliany, yang kerap menempatkan tubuh, alam, dan pengalaman personal sebagai simbol kompleks, tampak sangat jelas dalam puisi ini.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan batin yang penuh kesedihan dan ketidakpastian, digambarkan melalui metafora sungai air mata, perahu mainan, dan bulan yang mengalir ke muara. Tema lain yang menguat adalah kerapuhan hubungan, kehilangan, serta pencarian rumah atau tujuan yang tidak pernah tercapai.

Puisi ini bercerita tentang dua tokoh yang menyusuri “sungai air mata”—sebuah perjalanan metaforis yang menggambarkan proses emosional penuh luka. Mereka berada “di atas perahu mainan”, yang menandai betapa rapuh dan tidak meyakinkannya perjalanan tersebut.

Salah satu tokoh—“kau”—digambarkan terlelap, seolah pasrah atau kelelahan, sebelum dayungnya “patah dan berdarah”. Perjalanan ini membawa mereka ke “pulau yang tak pernah kita temu”, menandakan tujuan yang tidak pernah nyata, atau hubungan/harapan yang tidak pernah terwujud. Pada akhirnya, “aku” justru membangun “rumah siput”, simbol rumah yang kecil, rapuh, dan sementara, di tengah “tanah dan pasir yang membeku”.

Dengan demikian, puisi ini menggambarkan perjalanan emosional menuju sesuatu yang tidak pernah tercapai.

Makna Tersirat

  1. Kesedihan sebagai arus kehidupan. “Sungai air mata” adalah metafora kesedihan yang terus mengalir. “Bulan mengalir bersama muara” menunjukkan bahwa bahkan benda langit—simbol harapan—ikut hanyut.
  2. Hubungan yang rapuh. Perahu mainan menandakan hubungan yang tidak stabil, mudah tenggelam.
  3. Kelelahan dan kepasrahan. “kau terlelap dalam jantung dayungmu” menggambarkan seseorang yang mungkin menyerah atau tidak lagi mampu melanjutkan perjuangan.
  4. Tujuan yang tak pernah tercapai. Pulau yang “tak pernah kita temu” menyiratkan harapan yang tak terwujud atau masa depan yang tak pernah stabil.
  5. Upaya membangun kembali dari keterasingan. “Rumah siput” melambangkan tempat tinggal kecil yang membawa rasa aman, namun sangat rapuh. Ini menyiratkan usaha kecil untuk bertahan meski kondisi emosional membeku.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi ini adalah suram, hening, murung, dan melankolis. Ada rasa tersesat, sedih, dan kerapuhan yang menyelimuti seluruh bait. Setiap gambaran terasa dingin dan statis, terutama pada bagian “tanah dan pasir yang membeku”.

Imaji

Puisi ini kaya imaji, terutama imaji visual dan emosional:

Imaji visual
  • “bulan mengalir bersama muara”
  • “sungai airmata”
  • “perahu mainan”
  • “pulau yang tak pernah kita temu”
  • “rumah siput di antara tanah dan pasir yang membeku”
Imaji ini menciptakan gambaran surealis—seperti mimpi, namun sarat simbol.

Imaji gerak
  • “bulan mengalir”
  • “muara”
  • “ikut di atas perahu”
Gerak ini terasa tenang tetapi menyakitkan, seperti hanyut tanpa arah.

Imaji tubuh / emosional
  • “terlelap dalam jantung dayungmu”
  • “dayung patah dan berdarah”
Menimbulkan kesan luka, kelelahan, dan kehancuran yang pelan tapi pasti.

Majas

Beberapa majas yang menonjol:

Metafora
  • “sungai airmata” → kesedihan yang terus mengalir
  • “rumah siput” → rumah atau perlindungan yang rapuh, sementara
  • “bulan mengalir” → harapan atau cahaya yang ikut terseret duka
Personifikasi
  • “bulan mengalir bersama muara” memosisikan bulan seolah dapat bergerak seperti manusia atau benda cair.
Simbolisme
  • Perahu mainan → perjalanan yang rapuh
  • Pulau tak dikenal → tujuan/harapan yang tak pernah tercapai
  • Dayung berdarah → perjuangan yang menyakitkan
Hiperbola
  • “tanah dan pasir yang membeku” Melukiskan suasana perasaan yang dingin dan beku, bukan kondisi fisik sebenarnya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa pesan yang dapat ditarik:
  1. Kesedihan adalah bagian dari perjalanan hidup, dan tidak semua tujuan dapat tercapai.
  2. Hubungan dan perjalanan batin membutuhkan kekuatan, bukan sekadar niat—perahu yang rapuh tak akan membawa ke tujuan.
  3. Dalam kelelahan, kita tetap harus berusaha membangun ruang aman, meski kecil dan sederhana seperti “rumah siput”.
  4. Ada hal-hal yang harus diterima dengan lapang dada, termasuk kehilangan atau tujuan yang tidak pernah ditemukan.
Puisi “Sungai Airmata” adalah puisi yang memadukan kesedihan, perjalanan emosional, dan simbolisme kuat. Dengan bahasa yang sangat ekonomis namun penuh makna, Dorothea Rosa Herliany membawa pembaca masuk ke dalam arus duka yang tenang namun menghanyutkan. Melalui sungai air mata, perahu mainan, dan rumah siput, puisi ini menyampaikan betapa rapuh dan tak menentunya perjalanan batin manusia—namun tetap ada upaya bertahan, meski dalam kondisi paling sunyi.

Dorothea Rosa Herliany
Puisi: Sungai Airmata
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Biodata Dorothea Rosa Herliany:
  • Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
  • Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.