Ayam Geprek: Penyelamat Mahasiswa dari Lapar, Bokek, dan Deadline

Murah, pedas, dan selalu ada di dekat kampus. Yuk baca alasan kenapa ayam geprek jadi menu wajib mahasiswa di tengah jadwal padat dan dompet tipis.

Oleh Esterlin Merrinov Putri Dewanti

Dalam keseharian mahasiswa, ayam geprek menempati posisi istimewa yang sulit digeser oleh menu lain. Di tengah jadwal kuliah yang padat, aktivitas organisasi, hingga tugas yang datang silih berganti, mahasiswa membutuhkan makanan yang mudah ditemukan dan tidak menyulitkan dompet. Ayam geprek menjawab kebutuhan itu dengan sangat sederhana. Hampir di setiap kawasan kampus, warung ayam geprek berdiri berdekatan dengan kos-kosan dan tempat nongkrong mahasiswa. Kehadirannya bukan kebetulan, melainkan respons atas pola hidup mahasiswa yang serba cepat dan praktis.

Ayam Geprek

Murah, Kenyang, dan Tidak Banyak Drama

Keunggulan utama ayam geprek terletak pada kesederhanaannya. Dengan harga yang relatif terjangkau, mahasiswa sudah mendapatkan satu paket lengkap: nasi, ayam goreng tepung, dan sambal pedas yang bisa disesuaikan levelnya. Tanpa perlu berpikir panjang atau membandingkan banyak menu, ayam geprek selalu menjadi pilihan aman. Dalam kondisi lapar, lelah, atau terburu-buru mengejar kelas, mahasiswa cenderung memilih makanan yang minim risiko. Ayam geprek memenuhi semua kriteria itu murah, mengenyangkan, dan jarang mengecewakan.

Pedas sebagai Pelampiasan Stres Akademik

Bagi mahasiswa, sambal dalam ayam geprek bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen penting. Rasa pedas sering kali dianggap mampu membantu meluapkan emosi dan stres akibat tekanan akademik. Revisi yang tak kunjung selesai, tugas kelompok yang tak seimbang, hingga deadline yang semakin dekat, seolah lebih mudah dihadapi setelah seporsi ayam geprek pedas. Tidak sedikit mahasiswa yang justru menaikkan level sambal saat beban pikiran semakin berat, menjadikan pedas sebagai bentuk terapi sederhana.

Penyelamat di Tanggal Tua

Saat memasuki akhir bulan, banyak mahasiswa harus mulai menghitung ulang pengeluaran. Di fase inilah ayam geprek menunjukkan perannya sebagai penyelamat. Dibandingkan menu lain yang harganya fluktuatif, ayam geprek cenderung konsisten dan tetap ramah di kantong. Dengan uang terbatas, mahasiswa masih bisa makan kenyang tanpa harus mengorbankan kebutuhan lain. Bagi anak kos, ayam geprek sering menjadi menu andalan untuk bertahan hingga kiriman uang atau beasiswa berikutnya cair.

Teman Setia Begadang dan Deadline

Ayam geprek juga kerap hadir di momen-momen krusial, terutama saat mahasiswa harus begadang menyelesaikan tugas. Proses pemesanannya yang cepat dan mudah membuat menu ini menjadi pilihan utama saat waktu sudah mepet. Rasa pedas membantu menjaga mata tetap terbuka, sementara porsinya cukup untuk mengganjal perut hingga larut malam. Dalam banyak cerita perjuangan mahasiswa, ayam geprek hampir selalu muncul sebagai “teman setia” di balik layar penyelesaian tugas.

Lebih dari Sekadar Makanan

Popularitas ayam geprek di kalangan mahasiswa menunjukkan bahwa makanan memiliki fungsi yang lebih luas dari sekadar pemenuhan rasa lapar. Ayam geprek menjadi bagian dari rutinitas, kebiasaan, bahkan budaya mahasiswa. Makan bersama di warung geprek sering kali menjadi momen berbagi cerita, keluh kesah, hingga diskusi ringan soal kuliah. Dari situlah ayam geprek berperan sebagai penghubung sosial yang sederhana namun bermakna.

Ayam Geprek dan Identitas Mahasiswa

Ayam geprek tidak hanya dipahami sebagai menu makanan, tetapi juga simbol gaya hidup mahasiswa. Sederhana, praktis, dan selalu bisa diandalkan dalam kondisi apa pun lapar, bokek, atau dikejar deadline. Di balik sambal pedas dan ayam tepungnya, ayam geprek menyimpan cerita tentang perjuangan mahasiswa menjalani kehidupan kampus dengan segala keterbatasan dan kreativitasnya.

© Sepenuhnya. All rights reserved.