Bagaimana Ilmu dan Teknologi Mengubah Cara Kita Hidup di Indonesia

Teknologi mengubah hidup kita. Mari berpikir kritis: apakah kemajuan ini benar-benar memanusiakan, atau justru menciptakan ketimpangan baru?

Oleh Neysa Brillian Abida

Setiap pagi wajah kita terpapar cahaya layar sebelum cahaya matahari. Kita membuka ponsel bahkan sebelum membuka pintu. Di kereta, di warung kopi, di ruang kelas, bahkan di masjid, teknologi ikut hadir. Gawai dan teknologi kini menempel dalam setiap aspek hidup kita, hingga hampir tak bisa dibedakan dari rutinitas sehari-hari. Hal ini terjadi bukan sekadar karena penemuan canggih tiba-tiba datang, tetapi karena ilmu pengetahuan terus berkembang dan mendorong lahirnya inovasi yang perlahan mengubah seluruh pola hidup masyarakat Indonesia. Perubahan ini sering menguntungkan sebagian orang dan merugikan sebagian lain, bahkan kadang menguatkan ketimpangan yang sudah ada. Justru karena itulah kita perlu memeriksa secara kritis: sebenarnya apa yang sedang terjadi pada bangsa ini akibat kemajuan ilmu dan teknologi?

Bagaimana Ilmu dan Teknologi Mengubah Cara Kita Hidup di Indonesia

Mari mulai dari tempat yang paling sederhana: cara mencari informasi. Di masa lalu, keluarga yang ingin tahu harga beras di pasar, jadwal kapal penyebrangan, atau kabar dari kerabat jauh harus bertanya langsung, mengirim surat, atau menunggu berita yang sering telat datang. Kini, dengan internet dan media sosial, semua informasi itu bergerak dalam hitungan detik. Masyarakat di desa terpencil bisa mengakses berita nasional melalui ponsel murah. Akan tetapi, akses informasi yang begitu cepat juga membawa risiko serius: kabar bohong, fitnah, dan provokasi menyebar tak kalah cepat. Banyak orang Indonesia kini memperoleh kebenaran bukan dari riset atau logika, melainkan dari apa yang paling sering lewat di beranda mereka. Kebanyakan orang sekarang percaya berita yang muncul di beranda, tanpa memeriksa sumber. Teknologi mempercepat penyebaran informasi sekaligus menurunkan kualitas berpikir kritis.

Dalam dunia pendidikan, perubahan yang terjadi jauh lebih dramatis. Dahulu, guru adalah sumber pengetahuan tunggal; buku adalah harta langka. Kini, pelajar dapat belajar kimia dari video animasi interaktif atau mengikuti kelas daring yang diajar oleh ahli terbaik. Di banyak sekolah, guru bukan lagi satu-satunya pusat ilmu, mereka berubah menjadi pemandu, selektor, dan pengarah. Di saat pandemi memaksa sekolah ditutup, Teknologi membantu mengatasi masalah, meski masih menyisakan tantangan. Di lapangan, guru kebingungan mengoperasikan platform daring, siswa yang terkendala perangkat, dan orang tua yang stres menjadi bukti bahwa kemajuan digital belum sepenuhnya merata. Di Papua, banyak siswa harus memanjat bukit hanya untuk mendapatkan sinyal. Di Jakarta, siswa kecanduan gawai dan tidak benar-benar belajar. Maka semua kemajuan ini justru mempertegas bahwa ketimpangan digital adalah ancaman baru bagi dunia pendidikan Indonesia. Teknologi membuka akses belajar, tapi hanya mereka yang punya perangkat dan kuota yang benar-benar mendapat manfaat. Yang lain tertinggal.

Transportasi berubah menjadi lebih efisien dan terhubung. Gojek, Grab, dan aplikasi serupa menjadi penyelamat bagi pekerja yang dikejar waktu dan ibu rumah tangga yang membutuhkan belanja cepat. Pengangguran menemukan peluang pendapatan baru sebagai pengemudi dan kurir. Seorang anak desa yang merantau ke Bandung tanpa ijazah tinggi kini bisa menghidupi keluarga dengan mengantar makanan. Namun di balik cerita heroik itu terdapat sisi lain: jam kerja panjang tanpa perlindungan, penghasilan tidak menentu, tekanan dari algoritma yang tak manusiawi. Aplikasi ride-hailing menciptakan pekerjaan baru, tapi jam kerja panjang dan algoritma yang menekan membuat penghasilan tidak stabil dan kondisi kerja menantang. Para mitra pengemudi itu berada di antara dua dunia: mereka bekerja seperti buruh, tetapi diperlakukan seperti “mitra mandiri”. Kita sering membanggakan inovasi lokal, namun jarang mempertanyakan bagaimana keadilan sosial disusun di baliknya.

Perubahan ekonomi yang lebih besar terjadi pada UMKM. Toko kecil di gang sempit kini bisa menjual produknya ke seluruh negeri melalui marketplace. Pembayaran digital seperti QRIS mempercepat transaksi dan memudahkan pencatatan. Namun di balik keriuhan digitalisasi itu, banyak pedagang kecil tumbang karena persaingan dengan penjual bermodal besar yang mampu memberi diskon gila-gilaan. Algoritma platform menentukan penjual mana yang paling terlihat oleh pembeli, dan algoritma tidak peduli pada nasib mereka yang tertinggal. Ilmu pengetahuan yang melahirkan teknologi seharusnya menumbuhkan ekonomi rakyat, tetapi realitas lapangan menunjukkan teknologi bisa menjadi pedang bermata dua: memperkuat yang sudah kuat dan menghapus yang rapuh.

Dalam dunia kesehatan, teknologi adalah harapan yang nyata. Aplikasi telemedisin membuka akses konsultasi dokter tanpa harus berdesakan di puskesmas yang penuh. Alat diagnosa modern membantu deteksi awal penyakit yang dahulu ditemukan terlambat. Seorang ibu di pulau terpencil kini bisa tahu langkah pertolongan pertama sebelum bidan tiba. Namun lagi-lagi, teknologi bukan penyelamat mutlak. Banyak orang menelan mentah-mentah informasi medis dari media sosial tanpa keahlian, lalu menyebarkannya seolah kebenaran ilmiah. Ironinya, hoaks kesehatan menyebar melalui platform digital yang seharusnya digunakan untuk penyuluhan medis, dan ini menimbulkan risiko nyata bagi masyarakat. Ini ironi besar: teknologi membuka ruang pengetahuan, tetapi juga memperluas ruang kebingungan.

Cara kita bergaul dan membangun hubungan sosial pun berubah total. Indonesia menjadi salah satu pengguna TikTok dan Instagram terbesar di dunia. Ekspresi budaya kini tersusun dari potongan video 15 detik: joget, candaan, dan tren viral. Kita lebih sering mengingat wajah selebgram daripada tetangga sebelah rumah. Kita berani memaki tanpa malu karena tersembunyi di balik nama akun palsu. Media sosial memungkinkan ekspresi bebas, tapi banyak yang memanfaatkannya untuk menyerang atau menyebar informasi yang tidak diverifikasi, bukan untuk dialog produktif. Banyak keluarga retak bukan karena pertengkaran langsung, melainkan perang dingin di ruang digital. Banyak anak kehilangan percaya diri karena membandingkan hidupnya dengan hidup selebritas maya yang sebenarnya penuh kepura-puraan. Yang terburuk: Diskusi publik lebih sering berubah menjadi pertunjukan opini tanpa arah, fokus pada siapa yang paling keras atau paling viral. Ilmu pengetahuan mengajarkan dialog, teknologi justru mendorong debat tanpa arah.

Dalam dunia kerja, teknologi membuat kantor kehilangan dinding. Pekerja bisa menyelesaikan tugas dari mana saja, kapan saja. Kedengarannya ideal, namun artinya jam kerja semakin panjang. Pesan kantor menghantui bahkan saat makan malam bersama keluarga. Standar kecepatan dan efisiensi melambung. Pekerja yang kesulitan menyesuaikan diri dengan tuntutan digital sering dicap kurang produktif, padahal mereka menghadapi tekanan kerja yang meningkat secara drastis. Mesin menggantikan banyak pekerjaan manual dan administrasi. Mereka yang memiliki keterampilan digital akan melesat maju; mereka yang tidak, tertinggal jauh. Kesenjangan ini berpotensi menimbulkan kelompok “kelas bawah digital”. mereka yang tersingkir bukan karena malas, melainkan karena tidak diberi kesempatan untuk mampu.

Kemajuan teknologi juga mengguncang identitas budaya. Anak-anak Indonesia tumbuh dengan bahasa emoji dan referensi budaya Korea. Mereka menyanyikan lagu K-pop lebih fasih daripada lagu daerah. Ini bukan sekadar soal selera hiburan, melainkan pergeseran pusat gravitasi budaya. Ketika generasi muda melihat dunia luar lebih keren daripada akar sendiri, Generasi muda lebih hafal tren K-pop dan gerakan TikTok daripada lagu atau tarian daerah sendiri, menandai pergeseran budaya yang nyata. Ilmu pengetahuan dapat melestarikan budaya, tetapi teknologi kadang lebih tertarik mengiklankan apa yang tren dibanding apa yang penting. Kita sering menganggap ini sebagai harga kemajuan, padahal bisa jadi hilangnya akar budaya adalah tanda terputusnya arah masa depan.

Teknologi juga mengubah cara masyarakat Indonesia memandang otoritas dan kebenaran. Dahulu, pernyataan seorang ahli dihormati karena ilmu dan reputasinya. Kini, influencer dengan jutaan pengikut mampu mengalahkan suara profesor yang puluhan tahun meneliti. Opini lebih kuat daripada data. Viralnya sebuah video lebih dianggap valid dibanding jurnal ilmiah. Kebenaran yang dibangun ilmu pengetahuan terpojok oleh kebenaran yang dibentuk persepsi seketika. Jika masyarakat tidak lagi membedakan opini dan fakta, apakah kita masih bisa berharap pada kemajuan yang beradab?

Semua perubahan ini mengarah pada pertanyaan penting: apakah kemajuan teknologi benar-benar memanusiakan manusia? Di satu sisi, teknologi menolong, menghubungkan, dan memudahkan. Di sisi lain, ia mengasingkan, memecah-belah, dan mengendalikan. Kita merasa semakin bebas, namun sesungguhnya semakin bergantung. Data diri kita disimpan dan diperjualbelikan tanpa kita sadari. Algoritma menentukan apa yang kita lihat, apa yang kita sukai, bahkan apa yang kita anggap penting. Kita merasa memilih, padahal sedang diarahkan. Ini bentuk kolonialisme baru yang tidak menggunakan senjata, tetapi menggunakan ketidaksadaran kita.

Indonesia berada di persimpangan penting. Di satu jalur, teknologi dapat menjadi kendaraan untuk mencapai kemajuan besar: pemerataan pendidikan, kesehatan terjangkau, kemakmuran ekonomi, dan demokrasi yang hidup. Di jalur lain, teknologi dapat menjadi alat memperkuat kesenjangan sosial, mematikan daya kritis, dan melahirkan generasi yang pintar menggunakan gawai tetapi miskin kemampuan berpikir dan empati. Teknologi hanyalah alat. Tanpa arah, strategi, dan kesadaran kolektif, ia tidak menjamin kemajuan nyata bagi bangsa. Yang menentukan arah adalah manusia yang menggunakannya.

Karena itu, kita perlu keberanian untuk mengkritisi semua ini, bukan hanya merayakan. Kita harus menolak menjadi masyarakat yang bangga sebagai pengguna, tetapi abai sebagai pencipta. Ilmu pengetahuan harus didukung bukan hanya dengan slogan, tetapi dengan kebijakan yang nyata: riset yang dibiayai layak, inovasi lokal yang diberi ruang tumbuh, dan pendidikan yang menanamkan kemampuan berpikir ilmiah sejak dini. Teknologi seharusnya tunduk pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial, bukan sebaliknya. Kita harus memastikan bahwa ketika bangsa ini melangkah ke masa depan digital, tidak ada kelompok masyarakat yang ditinggalkan di belakang.

Ilmu dan teknologi memang telah mengubah cara kita hidup di Indonesia. Kita tidak bisa mundur dari semua perubahan ini, bahkan jika ingin. Namun kita bisa mengarahkan perubahan itu agar tidak semata mengejar kecepatan, tetapi juga kebermaknaan. Agar tidak hanya menciptakan kenyamanan, tetapi juga kecerdasan. Agar tidak hanya menghubungkan manusia melalui layar, tetapi juga memperkuat hubungan antarmanusia di dunia nyata.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita jawab bukanlah apakah teknologi akan terus maju? itu sudah pasti, Teknologi pasti maju. Pertanyaannya, apakah kita akan ikut menjadi pencipta masa depan, atau sekadar penonton yang dikendalikan algoritma dan pasar? Jika kita tidak ingin hanya menjadi konsumen dalam sejarah, kita harus ikut menulis bab berikutnya. Dan bab itu hanya bisa ditulis oleh bangsa yang memilih untuk berpikir, bertanya, dan bersikap kritis di tengah derasnya arus inovasi.

Biodata Penulis:

Neysa Brillian Abida saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Raden Mas Said Surakarta.

© Sepenuhnya. All rights reserved.