Di Tengah Ledakan Informasi: Ke Mana Objek dan Sasaran Filsafat Ilmu Bergerak?

Di era hoaks dan data berlimpah, bagaimana ilmu tetap sahih dan bermakna? Temukan jawabannya melalui kajian filsafat ilmu yang kritis dan reflektif.

Oleh Rida Kusuma Devi

Di zaman sekarang, manusia hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh banyak sekali informasi. Informasi ini tidak hanya berjumlah banyak, akan tetapi juga beraneka ragam dan terus bertambah dengan sangat cepat dari berbagai sumber, terutama karena kemajuan teknologi. Fenomena tersebut membuat manusia bertanya-tanya, bagaimana cabang filsafat ilmu yang secara khusus mempelajari ilmu pengetahuan menyesuaikan diri dengan situasi ini? Filsafat ilmu bertugas untuk memahami ilmu secara mendalam, dalam kondisi informasi yang sangat banyak dan beragam, filsafat ilmu perlu menentukan posisi dan perannya yang sangat jelas. Hal ini bertujuan agar pengetahuan yang didapat tetap bermutu, kritis, dan teratur. Perubahan cara berpikir atau paradigma baru yang harus diambil filsafat ilmu dalam menghadapi ledakan informasi ini jadi sangat penting untuk diteliti, tujuannya agar ilmu pengetahuan tetap memiliki nilai dan keteguhan yang kuat, tidak hanya menjadi tumpukan data yang tidak memiliki makna.

Filsafat Ilmu

Untuk memahami hal ini, pertama-tama perlu diketahui bahwa filsafat ilmu membagi objek kajiannya menjadi dua bagian utama, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah apa yang langsung dipelajari oleh pengetahuan empiris, yang berarti hal-hal atau fenomena yang nyata di dunia. Contohnya adalah benda fisik, makhluk hidup, perilaku manusia, atau peristiwa sosial yang dapat diamati dan diuji melalui pengalaman dan eksperimen, Objek material ini nyata dan menjadi bahan dasar untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah. Sedangkan objek formal adalah cara pandang atau sudut fokus yang dipakai ilmu ketika mempelajari objek material tersebut. Contohnya, fisika mempelajari benda dan energi sebagai objek material, tapi secara formal ilmu ini memusatkan perhatian pada sifat-sifat mekanik, energi, gerak, serta hukum-hukum alam yang mengatur fenomena tersebut, jadi objek formal membantu ilmu untuk membatasi dan memusatkan perhatian agar pengetahuan yang dihasilkan rapi dan jelas. Namun saat ini, karena banyaknya informasi dari berbagai sumber, batas antara objek material dan objek formal semakin kabur, Informasi yang sangat luas dan beragam ini terkadang membuat definisi objek material kurang jelas. Dalam situasi seperti ini, filsafat ilmu harus memperjelas dan memperkuat objek formalnya supaya penelitian tetap objektif, valid, dan relevan, walaupun harus menghadapi data dan informasi yang sangat rumit. Dengan kata lain, ilmu harus tetap fokus agar maknanya tidak hilang di tengah ledakan dan tsunami informasi.

Selain objek yang dipelajari, tujuan ilmu juga mengalami perubahan yang sangat penting, Hakikat ilmu mencakup sifat dan tujuan utama pengetahuan yang ingin digali. Tujuannya adalah memahami bagaimana ilmu dibentuk dan berkembang agar menghasilkan pengetahuan yang benar-benar valid, serta dipercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun dalam era ledakan informasi, tujuan ini dihadapkan pada tantangan baru yaitu teknologi informasi dan penyebaran data yang cepat menimbulkan problem seperti berita bohong atau hoaks, ketidak akuratan data atau bias data, dan informasi yang tidak terpercaya atau terverifikasi. Hal ini membuat batas antara pengetahuan ilmiah dan informasi yang tidak jelas menjadi kabur, Karena itu filsafat ilmu harus mempertanyakan dengan tegas: apa kriteria yang membuat ilmu dianggap sahih? Bagaimana ilmu bisa tetap objektif, jujur, dan menggunakan logika untuk berpikir kritis dalam situasi yang penuh dengan gangguan informasi? Di samping itu, filsafat ilmu juga harus mengevaluasi apakah sains masih menjalankan tujuan dasarnya untuk mencapai kebenaran yang menyeluruh (universal) yang tetap atau mulai bergeser menyesuaikan dengan kebutuhan praktis dan tuntutan serba cepat. Artinya, tujuan utama sains bukan sekedar mengumpulkan banyak informasi, tetapi lebih pada bagaimana memproses, menyaring, dan mengorganisasi informasi itu menjadi pengetahuan yang teruji secara fakta (empiris) dan logis (rasional).

Dasar ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi kegiatan ilmiah, kini juga menghadapi tantangan yang besar. Dasar ini meliputi metode ilmiah yang terstruktur (sistematis) seperti pengamatan, penetapan hipotesis, percobaan (eksperimen), analisis data, dan pemeriksaan hasil agar pengetahuan yang diperoleh dapat diuji kembali dan bersifat objektif. Epistemologi bagian filsafat yang mempelajari asal-usul, struktur, dan batas pengetahuan juga penting di sini karena memberikan cara untuk membedakan informasi yang benar dan salah, tidak hanya itu logika serta rasionalitas pun juga harus dimaksimalkan agar asumsi atau anggapan dan kesimpulan dapat diperiksa dengan benar dan cepat. Namun, di era informasi yang melimpah metode dan dasar pengetahuan juga harus beradaptasi dengan zaman. Saat ini, selain mengedepankan kecepatan memperoleh informasi, ilmu juga harus tetap menjaga proses pengecekan kebenaran (verifikasi) dan sikap berpikir kritis dengan baik, karena data berasal dari banyak media digital dengan karakter yang berbeda-beda, fondasi ilmiah juga perlu berkembang dengan menggunakan teknologi masa kini. Hal ini penting untuk meningkatkan ketelitian (akurasi) dan kebenaran (validitas) pengetahuan tanpa melupakan landasan filosofisnya.

Fungsi ilmu pengetahuan sendiri yaitu sebagai alat untuk menjelaskan dan mengatur lingkungan di sekitar, kini fungsi ilmu pengetahuan juga menghadapi berbagai rintangan. Secara mendasar, ilmu berfungsi untuk menggambarkan fakta dan kejadian dengan cara yang teratur dengan menguraikan penyebab di balik kejadian tersebut, memprediksi kemungkinan kejadian yang akan datang, dan mengontrol fenomena tertentu untuk kemajuan inovasi dan teknologi. Namun, saat informasi berkembang dengan cepat dan tersebar tanpa adanya penyaringan yang tepat, fungsi-fungsi tersebut dapat terganggu. Sebagai contoh, dapat muncul penyimpangan atau bias dalam informasi, penjelasan menjadi kabur, prediksi menjadi tidak akurat, dan pengendalian atas fenomena menjadi sulit dilakukan. Oleh sebab itu, filsafat ilmu memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan semua fungsi ilmu beroperasi secara tepat dan bertanggung jawab. Filsafat ilmu juga perlu mengembangkan suatu kerangka etika yang mengatur cara penyebaran dan penggunaan informasi. Hal ini penting agar ilmu tidak disalahgunakan dan dapat memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat manusia.

Tujuan utama ilmu adalah menciptakan pengetahuan yang benar, dapat dibuktikan, dan bisa diterima orang lain di kondisi serupa. Pengetahuan ini harus bersifat universal dan terstruktur berdasarkan bukti yang nyata serta penalaran, bukan hanya sekadar opini atau keyakinan sesaat. Pengetahuan tersebut juga harus bermanfaat bagi umat manusia, dengan cara meningkatkan standar hidup melalui inovasi teknologi dan pemecahan masalah. Di era informasi yang semakin melimpah, tujuan ini semakin diperluas agar individu dan ilmu pengetahuan bisa mengelola informasi dengan cara yang selektif dan kritis, sehingga dapat menghindari kekacauan yang ditimbulkan oleh melimpahnya data yang tidak terkontrol.

Untuk menghadapi semua tantangan ini, filsafat ilmu mengalami beberapa perubahan penting. Pertama, fokus utama riset ilmiah dievaluasi ulang serta disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin bersifat multidisipliner dan interdisipliner. Artinya, kajian ilmu tidak lagi terbatas pada bidang khusus, tetapi lebih fleksibel serta mampu beradaptasi dengan data dan fenomena yang rumit. Kedua, fungsi kritik dan perenungan (refleksi) dalam filsafat ilmu semakin diperkuat agar masyarakat dapat berpikir kritis di tengah banyaknya informasi digital, hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran ilmiah dan pemahaman tentang pengetahuan sehingga informasi dapat dimanfaatkan secara tepat serta integritas ilmu tetap terjaga. Ketiga, aspek etika dan tanggung jawab sosial menjadi perhatian utama, sehingga ilmu pengetahuan tidak hanya dianggap benar (valid) dari sisi ilmiah, akan tetapi juga mempertimbangkan dampak moral serta sosial dari penerapannya. Akhirnya, filsafat ilmu bergerak menuju kolaborasi antara teknologi dan pengetahuan. Dampak kecerdasan buatan, big data, dan Internet of Things dalam proses penciptaan dan penyebaran ilmu kini mulai menjadi perhatian serius. Situasi ini menuntut adanya kerangka epistemologi baru yang mampu memahami keseluruhan interaksi antara manusia, mesin, dan pengetahuan di era teknologi modern.

Dengan demikian, saat ini filsafat ilmu mengalami perubahan besar untuk menghadapi arus informasi yang sangat besar. Perubahan ini meliputi penafsiran ulang objek formal, penguatan analisis kritis, dan refleksi, fokus pada etika dan tanggung jawab ilmu, serta peran teknologi sebagai dasar baru untuk pengembangan pengetahuan yang lebih fleksibel dan peka terhadap perubahan zaman.

Biodata Penulis:

Rida Kusuma Devi saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.

© Sepenuhnya. All rights reserved.