Hari Puisi Nasional
saya pernah diajari puisi
di bangku sekolah, guru saya
bicara tentang metafora
seperti presiden pidato
pertumbuhan ekonomi
nilai bagus di rapor
adalah kebohongan pertama saya
tentang pemahaman
hari ini timeline dipenuhi sajak
orang-orang berbagi kutipan
seperti membagikan susu
tanpa pernah tahu rasa haus
puisi adalah luka yang menolak
sembuh, agar kita tetap hidup
dulu saya juga begitu
membagikan link yang tak diklik
menjadi bagian dari pengetahuan
yang tak pernah saya miliki
teman-teman menyebut Chairil
saya mengangguk seolah saya kenal
seolah kami pernah minum bersama
padahal saya hanya tahu namanya
dan wajahnya di buku pelajaran
pendidikan kita
mengajarkan bahwa
permukaan adalah kedalaman
menjadi baik artinya diam dan hafal
menjadi pintar artinya memiliki
jawaban yang sama
dengan kunci jawaban
saya akhirnya menyukai puisi
karena di sana saya diizinkan
untuk kehilangan jalan pulang
untuk bertanya tanpa
ditagih jawaban
di negeri ini, kita selalu
takut tertinggal seperti takut
tak dapat tiket bus terakhir
padahal kita tak pernah yakin
ke mana bus itu menuju
bahkan ketika kita
tidak mengerti apa yang dikejar
bahkan ketika yang kita kejar
cuma ketidakmengertian
dengan diksi mewah
2025
Analisis Puisi:
Puisi “Hari Puisi Nasional” karya Bob Anwar tidak hadir sebagai perayaan. Alih-alih merayakan puisi secara seremonial, teks ini justru membongkar kebiasaan, kepura-puraan, dan relasi dangkal masyarakat—termasuk lembaga pendidikan—terhadap puisi itu sendiri. Dengan bahasa lugas dan nada satiris, puisi ini mengajak pembaca meninjau ulang apa arti memahami, membaca, dan mencintai puisi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap pemaknaan puisi yang dangkal dan seremonial, terutama dalam dunia pendidikan dan budaya media sosial. Puisi ini juga mengangkat tema kejujuran intelektual, kegagalan sistem pendidikan, serta puisi sebagai ruang ketidakpastian.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang diperkenalkan pada puisi sejak bangku sekolah, tetapi dengan cara yang kering dan formal. Metafora diajarkan seperti pidato pertumbuhan ekonomi: penuh istilah, namun jauh dari pengalaman hidup. Nilai bagus di rapor menjadi simbol kebohongan awal tentang pemahaman.
Di masa kini, penyair menyaksikan linimasa media sosial dipenuhi kutipan puisi pada momen peringatan, dibagikan seperti susu tanpa pernah benar-benar memahami rasa haus. Ia juga menyinggung kebiasaan menyebut nama penyair besar—seperti Chairil—tanpa sungguh mengenal karya dan pergulatannya.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik tajam terhadap budaya ikut-ikutan dan pemahaman permukaan. Puisi dijadikan simbol intelektual atau identitas kultural, bukan pengalaman batin. Pendidikan digambarkan lebih mementingkan hafalan dan keseragaman jawaban ketimbang keberanian bertanya.
Puisi, bagi penyair, justru menjadi penting karena ia memberi ruang untuk tersesat, tidak tahu, dan bertanya tanpa tuntutan jawaban. Di situlah puisi menjadi luka yang menolak sembuh—agar manusia tetap hidup dan sadar.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa satiris, reflektif, dan getir, dengan nada jujur yang kadang pahit namun tetap tenang.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk memahami puisi secara jujur dan personal, bukan sebagai simbol kepintaran atau ritual tahunan. Puisi seharusnya menjadi ruang pencarian, bukan alat legitimasi intelektual. Puisi tidak wajib dimengerti sepenuhnya—ia justru penting karena mengizinkan ketidakmengertian.
Puisi “Hari Puisi Nasional” karya Bob Anwar adalah refleksi kritis tentang cara kita memperlakukan puisi—dan pengetahuan—di negeri ini. Puisi tidak ditempatkan sebagai mahkota budaya, melainkan sebagai ruang jujur untuk ragu, tersesat, dan bertanya. Dengan nada tenang namun menggigit, puisi ini menegaskan bahwa memahami puisi bukan soal hafal definisi, melainkan keberanian mengakui ketidakmengertian.
Puisi: Hari Puisi Nasional
Karya: Bob Anwar
Biodata Bob Anwar:
Bob Anwar (nama panggung dari Fajar M. Fitrah) lahir pada tanggal 25 Maret 1993 di Bandung. Sastrawan dan musisi ini menamatkan studinya di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, pada tahun 2016. Sehari-hari bekerja sebagai guru di Bina Bangsa International School, BBS Bandung, menjadi manager Komuji Indonesia dan kurator Bandung Berpuisi. Buku puisinya, Pangkur (Penerbit Buruan, 2022).
Sebagai sastrawan, karya-karyanya berupa esai dan puisi tersebar di berbagai media. Selain itu beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, Korea, dan Inggris.
Bob Anwar sesekali diundang mengikuti perhelatan sastra, di antaranya Temu Penyair Asia Tenggara, Padang Panjang 2018 dan Bali Literary International Symposium, Sanur 2019. Pada tahun 2015 ia terpilih menjadi ketua DPD Jawa Barat, HIPSI (Himpunan Penulis Sastra Indonesia), dan menjadi kurator sekaligus editor "Menapak ke Arah Senja", antologi puisi bersama penyair se-Indonesia lintas generasi. Pada tahun 2016 masuk 100 Penyair Nusantara Terpilih di Festival Tjimanoek.
Bob Anwar bisa dijumpai secara online di Instagram @bobanwar_