Oleh Rosyid Nur Huda
Ilmu pengetahuan adalah suatu ilmu yang tersusun secara sistematis, objektif, rasional dan empiris. Dan kebenaran ilmiah adalah tahapan untuk mengetahui kebenaran-kebenaran pengetahuan atau cara untuk menemukan pengetahuan yang baru.
Kenapa kebenaran ilmiah itu diperlukan dalam suatu ilmu pengetahuan? Karena kebenaran ilmiah adalah dasar pengembangan pengetahuan bagi manusia dan melalui kebenaran ilmiah kita dapat menemukan dua pokok aspek utama yang pertama ialah kebenaran sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi (realitas empiris). Kedua, kebenaran sebagai lawan dari ketidakbenaran, yaitu sesuatu yang telah melalui proses pengujian dan pembuktian sehingga dapat dinyatakan layak dipercaya. Kebenaran ilmiah bukan hanya apa yang sekadar terlihat tetapi apa yang bisa dibuktikan dengan kebenaran ilmiah.
Apa saja jenis-jenis kebenaran ilmiah? Apakah hanya ada satu? Tidak, menurut A.M.W Pranarka kebenaran ilmiah dibagi menjadi tiga, yaitu: kebenaran epistemologis (cara manusia untuk memperoleh kebenaran), contohnya adalah 5 + 5 = 10. Itu adalah sesuatu hal yang universal yang dari zaman dahulu hingga tahun-tahun ke depan sudah tetap dan tidak akan pernah terganti. Selanjutnya adalah kebenaran ontologis (kebenaran yang berhubungan dengan hakikat dan kebenaran sesuatu ilmu pengetahuan). Jenis kebenaran ontologis dibagi menjadi 3 (ontologis esensialis, ontologis naturalis, dan ontologis artifisial). Dan yang terakhir adalah kebenaran sistematis (kebenaran ini dinilai benar apabila suatu pernyataan itu benar-benar terjadi), contohnya adalah di Jepang sedang musim salju. Kebenaran itu dinyatakan benar apabila pada hari ini di Jepang sedang musim salju.
Setelah memahami berbagai jenis kebenaran ilmiah, kita dapat meninjau beberapa teori yang digunakan untuk menilai apakah suatu pernyataan dapat dianggap benar. Teori korespondensi menyatakan bahwa suatu pernyataan dinilai benar apabila sesuai dengan fakta atau realitas yang sebenarnya terjadi, seperti contoh titik didih air pada kondisi tertentu. Teori koherensi menilai kebenaran berdasarkan konsistensinya dengan pernyataan lain yang telah diterima sebelumnya; misalnya, jika semua ikan membutuhkan air, maka setiap ikan pasti membutuhkan air. Sementara itu, teori pragmatis menilai kebenaran dari manfaat praktisnya, seperti teori-teori kedokteran yang dianggap benar karena terbukti mampu menyembuhkan penyakit. Terakhir, teori performatif menyatakan bahwa suatu pernyataan dapat menciptakan kebenarannya sendiri ketika diucapkan, sebagaimana penetapan tanggal awal puasa Ramadan yang menjadi benar setelah diumumkan secara resmi. Dengan memahami teori-teori tersebut, kita dapat melihat bahwa kebenaran ilmiah memiliki dasar penilaian yang beragam sesuai konteks dan tujuan penggunaannya.
Kebenaran ilmiah dapat dicapai melalui penerapan sifat-sifat khas yang menjadi dasar dalam proses penelitian, yaitu objektivitas, universalitas, stabilitas, dan rasionalitas. Objektivitas memastikan bahwa hasil penelitian tidak dipengaruhi oleh subjektivitas peneliti, sementara universalitas menjamin bahwa kebenaran tersebut berlaku di mana saja selama kondisi yang diuji sama. Stabilitas membuat suatu temuan tetap diakui sampai ada bukti baru yang lebih kuat, dan rasionalitas memungkinkan setiap kesimpulan dijelaskan secara logis. Dengan berpegang pada sifat dan tahapan tersebut, proses pencarian kebenaran ilmiah menjadi lebih terarah sehingga ilmu pengetahuan yang dihasilkan benar-benar teruji, bermanfaat, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain memahami jenis-jenis kebenaran ilmiah dan berbagai teori yang melandasinya, penting juga bagi kita untuk melihat bagaimana kebenaran ilmiah bekerja dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan dari waktu ke waktu. Ilmu pengetahuan tidak pernah berdiri sebagai sesuatu yang kaku atau tertutup, melainkan bersifat dinamis, berkembang, dan selalu terbuka terhadap kritik serta pembaruan berdasarkan bukti-bukti baru. Dalam konteks ini, kebenaran ilmiah menjadi tolok ukur untuk menentukan apakah suatu pengetahuan dapat diterima, dipertahankan, atau perlu direvisi. Prinsip ini menjadi sangat penting karena dunia terus berubah, dan pengetahuan manusia harus menyesuaikan diri dengan temuan-temuan baru agar tetap relevan dan dapat dimanfaatkan.
Kebenaran ilmiah memungkinkan kita untuk memisahkan antara opini pribadi dan fakta objektif. Banyak hal dalam kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh sudut pandang, pengalaman, dan keyakinan masing-masing individu. Namun, ilmu pengetahuan tidak bisa berdiri di atas dasar subjektivitas tersebut. Ia membutuhkan landasan yang kuat, berupa bukti empiris, logika yang terstruktur, serta proses verifikasi yang dapat diuji ulang oleh siapa pun. Hal ini penting karena tanpa objektivitas, pengetahuan akan mudah dipengaruhi oleh bias, prasangka, ataupun asumsi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, kita dapat melihat bagaimana kebenaran ilmiah memainkan peran penting dalam mengubah cara manusia memahami alam semesta. Misalnya, pada masa lampau banyak orang percaya bahwa bumi adalah pusat dari tata surya. Kepercayaan ini didasarkan pada pengamatan kasat mata dan pandangan filosofis yang telah hidup selama berabad-abad. Namun, ketika metode ilmiah diterapkan secara konsisten, para ilmuwan seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler berhasil menunjukkan bahwa mataharilah pusat tata surya, bukan bumi. Pergeseran ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses ilmiah yang ketat, pengamatan berulang, serta keberanian untuk membuktikan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan umum. Inilah salah satu contoh bagaimana kebenaran ilmiah dapat mengubah cara manusia melihat realitas.
Selain itu, kebenaran ilmiah juga sangat berkaitan dengan kemajuan teknologi dan inovasi. Setiap teknologi yang kita gunakan hari ini—mulai dari telepon pintar, internet, alat transportasi modern, hingga teknologi kesehatan—semuanya lahir dari proses ilmiah yang ketat. Para ilmuwan tidak hanya sekadar mencoba-coba, melainkan melakukan observasi, eksperimen, dan pengujian untuk memastikan bahwa teknologi tersebut aman dan berfungsi sebagaimana mestinya. Tanpa kebenaran ilmiah, teknologi mungkin berkembang secara sembarangan dan berpotensi membahayakan manusia.
Dalam bidang kesehatan, kebenaran ilmiah menjadi sangat penting karena menyangkut keselamatan dan kualitas hidup manusia. Misalnya, sebelum suatu obat dapat digunakan oleh masyarakat, obat tersebut harus melalui berbagai tahap uji klinis yang melibatkan proses pengujian ilmiah yang ketat. Tahap-tahap ini bertujuan memastikan bahwa obat tersebut aman, efektif, dan tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya. Jika ilmu kedokteran tidak berpegang pada kebenaran ilmiah, maka pengobatan akan dilakukan berdasarkan dugaan semata, bukan berdasarkan bukti empiris. Akibatnya, risiko kesalahan pengobatan akan jauh lebih besar dan dapat merugikan banyak orang.
Kebenaran ilmiah juga membantu kita untuk membuat keputusan yang lebih rasional dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika menghadapi suatu informasi di media sosial, kita dapat menggunakan pendekatan ilmiah untuk mengevaluasi apakah informasi tersebut benar atau hanya hoaks. Dengan memahami konsep kebenaran ilmiah, kita akan lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi, sehingga kita dapat berkontribusi untuk menciptakan masyarakat yang lebih kritis dan tidak mudah tertipu oleh kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, kebenaran ilmiah mendorong manusia untuk terus mengembangkan rasa ingin tahu. Ilmu pengetahuan tidak pernah puas dengan jawaban-jawaban yang sudah ada. Justru, setiap kebenaran ilmiah sering memunculkan pertanyaan baru yang mendorong penelitian lanjutan. Misalnya, setelah mengetahui struktur dasar atom, para ilmuwan kemudian meneliti partikel-partikel subatomik, lalu meneliti sifat-sifat kuantum, dan hingga saat ini penelitian tersebut tetap berkembang. Setiap temuan baru selalu membuka peluang bagi pengetahuan yang lebih luas lagi. Siklus inilah yang membuat ilmu pengetahuan terus berkembang dan tidak pernah berhenti.
Dalam kehidupan masyarakat modern, kebenaran ilmiah juga menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan publik. Pemerintah sering memerlukan data ilmiah untuk membuat keputusan yang tepat, misalnya dalam bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan teknologi. Ketika menghadapi masalah perubahan iklim, misalnya, para ilmuwan memberikan bukti empiris mengenai peningkatan suhu bumi, pencairan es di kutub, serta perubahan pola cuaca global. Dengan berpegang pada kebenaran ilmiah ini, pemerintah dapat merancang kebijakan yang tepat untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Kebenaran ilmiah juga mengajarkan kita sikap rendah hati dan terbuka terhadap pembaruan. Tidak semua kebenaran ilmiah bersifat final. Dalam banyak kasus, kebenaran ilmiah bersifat sementara—benar selama belum ada bukti baru yang menggantikannya. Misalnya, teori Newton mengenai gerak dan gravitasi telah digunakan selama ratusan tahun dan dianggap sangat akurat. Namun, ketika Einstein memperkenalkan teori relativitas, pemahaman manusia tentang ruang, waktu, dan gravitasi mengalami perombakan besar. Walau demikian, teori Newton tetap digunakan karena masih relevan dan akurat pada kondisi tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran ilmiah bersifat fleksibel dan selalu terbuka untuk revisi berdasarkan bukti baru.
Kebenaran ilmiah diperlukan dalam ilmu pengetahuan karena menjadi dasar bagi pencarian pengetahuan yang valid, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa kebenaran ilmiah, ilmu pengetahuan tidak dapat berkembang secara terarah dan tidak dapat digunakan untuk memecahkan berbagai persoalan dalam kehidupan manusia. Kebenaran ilmiah menjamin bahwa pengetahuan yang kita miliki tidak hanya benar secara teori, tetapi juga dapat dibuktikan secara empiris dan bermanfaat dalam kehidupan nyata. Melalui kebenaran ilmiah, manusia dapat memahami dunia dengan lebih baik, menciptakan berbagai inovasi, dan membentuk peradaban yang lebih maju.
Biodata Penulis:
Rosyid Nur Huda saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Raden Mas Said Surakarta.