Oleh Esterlin Merrinov Putri Dewanti
Overthinking kerap dipersepsikan sebagai kebiasaan berpikir berlebihan. Individu yang mengalaminya sering dianggap tidak bisa mengendalikan pikiran atau terlalu dramatis dalam menyikapi masalah. Akibatnya, solusi yang ditawarkan pun cenderung simplistis, seperti anjuran untuk “berhenti memikirkan” atau “lebih santai”. Padahal, pendekatan tersebut tidak menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.
Emosi yang Tidak Pernah Diproses
Pada dasarnya, overthinking bukan semata persoalan logika, melainkan emosi yang tertahan dan tidak terselesaikan. Rasa cemas, takut, kecewa, atau tidak aman yang tidak diakui akan mencari saluran lain untuk muncul. Ketika emosi tidak diberi ruang untuk diekspresikan secara sehat, pikiran mengambil alih dan bekerja tanpa henti.
Tekanan Sosial dan Budaya Menahan Perasaan
Banyak individu tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberikan ruang untuk mengekspresikan emosi. Menangis dianggap lemah, marah dinilai tidak sopan, dan mengeluh dipersepsikan sebagai tanda ketidakmampuan. Dalam konteks ini, menahan perasaan menjadi kebiasaan, sementara overthinking berkembang sebagai cara tidak langsung untuk meluapkan tekanan batin.
Pengalaman Masa Lalu sebagai Pemicu
Overthinking juga sering dipicu oleh pengalaman traumatis atau kegagalan yang belum terselesaikan. Individu yang pernah disalahkan, ditolak, atau dikecewakan cenderung mengembangkan kewaspadaan berlebih. Pikiran terus menganalisis berbagai kemungkinan sebagai upaya mencegah terulangnya rasa sakit yang sama.
Mekanisme Bertahan Hidup yang Melelahkan
Dalam banyak kasus, overthinking berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Dengan memikirkan segala skenario, seseorang merasa memiliki kendali atas situasi. Namun, alih-alih memberikan rasa aman, kebiasaan ini justru menguras energi mental dan meningkatkan kecemasan. Pikiran terus bekerja, tetapi tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah emosional.
Bukan Tanda Kelemahan, Melainkan Kepedulian Berlebih
Individu yang mengalami overthinking sering kali adalah mereka yang memiliki tingkat kepedulian dan tanggung jawab tinggi. Mereka terbiasa memikirkan dampak dari setiap keputusan, khawatir mengecewakan orang lain, dan memikul beban secara mandiri. Sayangnya, kepedulian yang berlebihan ini tidak diimbangi dengan kemampuan merawat kesehatan emosional diri sendiri.
Mengapa Pikiran Tidak Mampu Menyembuhkan Emosi
Pikiran memiliki fungsi analitis, bukan terapeutik. Ia mampu mengulang peristiwa, memprediksi kemungkinan, dan mencari pola, tetapi tidak dapat memproses emosi secara tuntas. Inilah sebabnya overthinking jarang menemukan titik akhir. Pertanyaan terus muncul karena sumbernya bukan persoalan rasional, melainkan rasa tidak aman yang belum terjawab.
Mengelola Overthinking dengan Pendekatan Emosional
Mengurangi overthinking tidak berarti memaksa diri untuk berhenti berpikir. Pendekatan yang lebih efektif adalah mengakui dan memproses emosi yang menyertainya. Memberi ruang pada rasa takut, kecewa, atau sedih tanpa menghakimi diri sendiri dapat membantu menurunkan intensitas pikiran yang berulang.
Membangun Kesadaran Emosi sebagai Solusi
Kesadaran emosional menjadi kunci dalam mengelola overthinking. Dengan mengenali apa yang sebenarnya dirasakan, individu dapat membedakan antara masalah nyata dan kecemasan yang bersumber dari pengalaman masa lalu. Proses ini membantu pikiran kembali pada fungsi utamanya: mengambil keputusan secara rasional, bukan sebagai tempat pelarian emosi.
Overthinking sebagai Sinyal Psikologis
Overthinking bukan musuh yang harus diperangi, melainkan sinyal psikologis yang perlu dipahami. Ia menandakan adanya emosi yang belum selesai dan membutuhkan perhatian. Ketika emosi diproses secara sehat, pikiran tidak lagi harus bekerja berlebihan. Ketenangan pun bukan lagi sesuatu yang dipaksakan, melainkan kondisi yang tumbuh secara alami.