Puisi “Akhir Bulan” karya Bob Anwar menghadirkan potret sunyi kehidupan urban yang akrab bagi banyak orang: masa ketika angka nol mendominasi dompet, rekening, dan kalender. Dengan gaya tutur yang sederhana, lugas, dan reflektif, puisi ini berbicara tentang kekurangan materi, kesepian, serta upaya bertahan melalui kata-kata.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kemiskinan, kesederhanaan hidup, dan ketahanan batin. Puisi ini juga mengangkat tema kesepian, kehilangan, dan relasi manusia dengan uang dalam kehidupan sehari-hari.
Puisi ini bercerita tentang seorang "saya" yang sedang berada di fase “akhir bulan”, ketika angka nol menjadi teman akrab. Nol hadir di dompet, di rekening, dan di kalender—menandai kekosongan finansial sekaligus waktu yang berjalan pelan.
Penyair mencoba berdamai dengan keadaan tersebut, menyamakannya dengan belajar mencintai seseorang yang telah pergi. Ia hidup di kamar sewaan, menghitung napas seperti menghitung sisa, dan menjadikan menulis sebagai satu-satunya cara bertahan saat tak memiliki apa-apa. Harapan akan gajian esok hari hadir, tetapi digambarkan sebagai janji yang hanya memuaskan, bukan mengenyangkan. Pada akhirnya, puisi ditutup dengan pengakuan ironis tentang masa ketika ia merasa “kaya”, yakni saat masih percaya bahwa hidup adalah perjuangan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik halus terhadap realitas hidup modern yang memaksa manusia berdamai dengan kekurangan. Angka nol bukan sekadar ketiadaan uang, tetapi juga simbol kehilangan, keterasingan, dan kesepian.
Puisi ini menyiratkan bahwa kemiskinan tidak hanya bersifat materi, melainkan juga emosional. Menulis menjadi bentuk perlawanan paling sederhana—cara menjaga kewarasan ketika segalanya terasa kosong.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa sunyi, getir, dan reflektif. Ada kesedihan yang tenang, tanpa ratapan berlebihan, justru terasa lebih dalam karena kejujuran dan kesederhanaannya.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa bertahan hidup sering kali berarti menerima keadaan tanpa romantisasi. Kesederhanaan bukan pilihan filosofis, melainkan kondisi yang harus dijalani.
Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa harapan semu—seperti gajian atau janji-janji material—tidak selalu memberi kepuasan batin. Yang membuat manusia tetap hidup adalah kemampuan untuk menemukan makna, meski hanya melalui kata dan kesepian.
Puisi “Akhir Bulan” karya Bob Anwar adalah refleksi jujur tentang hidup dalam kekurangan, tanpa romantisasi berlebihan. Dengan bahasa sederhana namun tajam, puisi ini mengingatkan bahwa dalam kondisi paling sunyi sekalipun, manusia masih dapat bertahan melalui kesadaran, kata-kata, dan penerimaan. Puisi ini menjadi cermin bagi banyak orang yang pernah—atau sedang—belajar berteman dengan angka nol.