Puisi: Akhir Bulan (Karya Bob Anwar)

Puisi “Akhir Bulan” karya Bob Anwar menghadirkan potret sunyi kehidupan urban yang akrab bagi banyak orang: masa ketika angka nol mendominasi dompet.

Akhir Bulan

saya sedang belajar berteman
dengan angka nol
seperti belajar mencintai
seseorang yang pergi

di dompet
di rekening
di kalender

sepi adalah mata uang
yang tak pernah habis

kadang
saya ingin menulis tentang uang
tapi menulis adalah cara bertahan
ketika tak punya apa-apa

di kamar sewaan ini
saya menghitung napas
seperti menghitung sisa

kesederhanaan bukan filsafat
hanya keadaan

besok adalah gajian
janji yang mirip pujian
seakan memuaskan
tak akan mengenyangkan

rindu lebih mahal dari kopi
tapi saya masih mampu
membeli keduanya
dengan kesepian

saya pernah kaya
saat masih percaya
hidup adalah perjuangan

2025

Analisis Puisi:

Puisi “Akhir Bulan” karya Bob Anwar menghadirkan potret sunyi kehidupan urban yang akrab bagi banyak orang: masa ketika angka nol mendominasi dompet, rekening, dan kalender. Dengan gaya tutur yang sederhana, lugas, dan reflektif, puisi ini berbicara tentang kekurangan materi, kesepian, serta upaya bertahan melalui kata-kata.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kemiskinan, kesederhanaan hidup, dan ketahanan batin. Puisi ini juga mengangkat tema kesepian, kehilangan, dan relasi manusia dengan uang dalam kehidupan sehari-hari.

Puisi ini bercerita tentang seorang "saya" yang sedang berada di fase “akhir bulan”, ketika angka nol menjadi teman akrab. Nol hadir di dompet, di rekening, dan di kalender—menandai kekosongan finansial sekaligus waktu yang berjalan pelan.

Penyair mencoba berdamai dengan keadaan tersebut, menyamakannya dengan belajar mencintai seseorang yang telah pergi. Ia hidup di kamar sewaan, menghitung napas seperti menghitung sisa, dan menjadikan menulis sebagai satu-satunya cara bertahan saat tak memiliki apa-apa. Harapan akan gajian esok hari hadir, tetapi digambarkan sebagai janji yang hanya memuaskan, bukan mengenyangkan. Pada akhirnya, puisi ditutup dengan pengakuan ironis tentang masa ketika ia merasa “kaya”, yakni saat masih percaya bahwa hidup adalah perjuangan.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik halus terhadap realitas hidup modern yang memaksa manusia berdamai dengan kekurangan. Angka nol bukan sekadar ketiadaan uang, tetapi juga simbol kehilangan, keterasingan, dan kesepian.

Puisi ini menyiratkan bahwa kemiskinan tidak hanya bersifat materi, melainkan juga emosional. Menulis menjadi bentuk perlawanan paling sederhana—cara menjaga kewarasan ketika segalanya terasa kosong.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sunyi, getir, dan reflektif. Ada kesedihan yang tenang, tanpa ratapan berlebihan, justru terasa lebih dalam karena kejujuran dan kesederhanaannya.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa bertahan hidup sering kali berarti menerima keadaan tanpa romantisasi. Kesederhanaan bukan pilihan filosofis, melainkan kondisi yang harus dijalani.

Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa harapan semu—seperti gajian atau janji-janji material—tidak selalu memberi kepuasan batin. Yang membuat manusia tetap hidup adalah kemampuan untuk menemukan makna, meski hanya melalui kata dan kesepian.

Puisi “Akhir Bulan” karya Bob Anwar adalah refleksi jujur tentang hidup dalam kekurangan, tanpa romantisasi berlebihan. Dengan bahasa sederhana namun tajam, puisi ini mengingatkan bahwa dalam kondisi paling sunyi sekalipun, manusia masih dapat bertahan melalui kesadaran, kata-kata, dan penerimaan. Puisi ini menjadi cermin bagi banyak orang yang pernah—atau sedang—belajar berteman dengan angka nol.

Bob Anwar
Puisi: Akhir Bulan
Karya: Bob Anwar

Biodata Bob Anwar:

Bob Anwar (nama panggung dari Fajar M. Fitrah) lahir pada tanggal 25 Maret 1993 di Bandung. Sastrawan dan musisi ini menamatkan studinya di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, pada tahun 2016. Sehari-hari bekerja sebagai guru di Bina Bangsa International School, BBS Bandung, menjadi manager Komuji Indonesia dan kurator Bandung Berpuisi. Buku puisinya, Pangkur (Penerbit Buruan, 2022).

Sebagai sastrawan, karya-karyanya berupa esai dan puisi tersebar di berbagai media. Selain itu beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, Korea, dan Inggris.

Bob Anwar sesekali diundang mengikuti perhelatan sastra, di antaranya Temu Penyair Asia Tenggara, Padang Panjang 2018 dan Bali Literary International Symposium, Sanur 2019. Pada tahun 2015 ia terpilih menjadi ketua DPD Jawa Barat, HIPSI (Himpunan Penulis Sastra Indonesia), dan menjadi kurator sekaligus editor "Menapak ke Arah Senja", antologi puisi bersama penyair se-Indonesia lintas generasi. Pada tahun 2016 masuk 100 Penyair Nusantara Terpilih di Festival Tjimanoek.

Bob Anwar bisa dijumpai secara online di Instagram @bobanwar_

© Sepenuhnya. All rights reserved.