Aku, Kau, dan Secangkir Kopi
Ketika Sirius memayungi bumi dengan pendarnya
Pandangan kita saling bertaut bersama esensi yang selaras
Kau mulai menyeruput secangkir kopi hangat di hadapan
“Kali ini lebih pahit dari biasanya,” ucap kau selepasnya
“Benarkah? Mungkin besok gulanya akan ditambahkan,” sahutku sembari tersenyum
Banjarmasin, 31 Desember 2025
Analisis Puisi:
Puisi “Aku, Kau, dan Secangkir Kopi” karya Kamilia Salsabila menghadirkan suasana intim melalui percakapan singkat yang dibingkai oleh simbol alam dan keseharian. Dengan larik yang ringkas namun puitis, puisi ini menampilkan momen kecil antara dua insan yang sarat makna emosional dan reflektif.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kedekatan emosional dan dinamika rasa dalam hubungan, khususnya bagaimana pahit dan manis dipahami sebagai bagian dari kebersamaan.
Puisi ini bercerita tentang dua tokoh—aku dan kau—yang berbagi momen sederhana: duduk bersama sambil menyeruput secangkir kopi. Percakapan singkat mengenai rasa kopi yang lebih pahit dari biasanya menjadi pusat adegan, diiringi latar waktu malam yang disimbolkan oleh kemunculan Sirius. Dialog tersebut menampilkan keintiman, perhatian, serta keterhubungan batin di antara keduanya.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini mengarah pada pemaknaan hidup dan hubungan. Kopi yang terasa lebih pahit dapat dibaca sebagai metafora kondisi atau fase tertentu dalam hubungan—mungkin kelelahan, masalah, atau hari yang tidak mudah. Sementara tanggapan “mungkin besok gulanya akan ditambahkan” menyiratkan harapan bahwa keadaan dapat membaik, bahwa pahit hari ini tidak bersifat permanen.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa hangat, intim, dan tenang, meskipun dibalut dengan kesan reflektif. Tidak ada konflik terbuka, hanya dialog ringan yang menyimpan kedalaman perasaan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menerima pahit-manis kehidupan bersama orang terdekat dengan sikap optimis. Kebersamaan, pengertian, dan harapan menjadi penopang utama ketika rasa pahit muncul, baik dalam secangkir kopi maupun dalam perjalanan hubungan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual dan rasa, antara lain:
- Imaji cahaya malam melalui “Sirius memayungi bumi dengan pendarnya”.
- Imaji kehangatan melalui “secangkir kopi hangat”.
- Imaji rasa melalui kontras pahit dan manis yang diucapkan dalam dialog.
Imaji-imaji tersebut membantu pembaca merasakan suasana dan emosi yang ingin disampaikan penyair.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini meliputi:
- Metafora: kopi sebagai simbol pengalaman hidup atau hubungan.
- Personifikasi: “Sirius memayungi bumi dengan pendarnya”.
- Simbolisme: pahit dan gula sebagai lambang masalah dan harapan.
Puisi “Aku, Kau, dan Secangkir Kopi” karya Kamilia Salsabila menunjukkan bahwa percakapan sederhana pun dapat menyimpan makna mendalam. Melalui simbol kopi dan dialog singkat, puisi ini mengajak pembaca merenungkan bahwa dalam kebersamaan, rasa pahit bukanlah akhir—selalu ada kemungkinan esok hari menjadi lebih manis.
Karya: Kamilia Salsabila
Biodata Kamilia Salsabila:
- Kamilia Salsabila, lahir pada tahun 2002, mulai tertarik menulis puisi semenjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.