Puisi Kamilia Salsabila

Puisi: Minus (Karya Kamilia Salsabila)

Minus Mengeja huruf di papan tulis pun aku kesulitan Apalagi mengenali sosok yang menyapa di seberang Tak ayal, kacamata bertengger menjadi kewajiban…

Puisi: Pendusta (Karya Kamilia Salsabila)

Pendusta Mereka berujar dengan keyakinan Mereka bersumpah dengan kepastian Apik beserta manis memperdaya kepercayaan Demi uang, cinta, maupun pekerja…

Puisi: Teater Renjana (Karya Kamilia Salsabila)

Teater Renjana Di dalam yugala saya mengikat payah Di dalam kevala saya mendekap gundah Jikalau seni berperan saya mainkan Maka kelak berjuluk aditok…

Puisi: Kepadamu (Karya Kamilia Salsabila)

Kepadamu Kukumpulkan kepingan lara membentuk aksara Namun darahku di atas pena takkan terlihat Sebab kau hanya paham manakala namamu dipanggil Banjar…

Puisi: Mendung (Karya Kamilia Salsabila)

Mendung Awan berkumpul membangun citra keabuan Itulah mendung di langit yang disadari semua orang Adapun mendung di hati, siapa yang tahu? Banjarmasi…

Puisi: Diam (Karya Kamilia Salsabila)

Diam Sudah sampaikah kepadamu? Bahwa diam bukanlah tanda persetujuan Sudah sampaikah kepadamu? Bahwa diam bukanlah tanda penerimaan Sudah sampaikah k…

Puisi: Jeda (Karya Kamilia Salsabila)

Jeda Pada hakikatnya setiap yang berkepanjangan perlu jeda Lantaran itu tanda koma terselip di kalimat panjang Sebab berkat jeda fragmen berserak ber…

Puisi: Lemah dan Lembut (Karya Kamilia Salsabila)

Lemah & Lembut Kala keji tuturmu dan serampang tingkahmu, mestinya kuhadapkan cermin besar kepadamu Hanya saja, dibanding meneriakkan, "Kau …

Puisi: Bintang (Karya Kamilia Salsabila)

Bintang Perenungan mengajakku berkeliling menyelami ikatan setiap bintang Mereka yang telah berdampingan berdua Terwujud bintang berpendar semakin te…

Puisi: Reflektif (Karya Kamilia Salsabila)

Reflektif Kau tetap pintar tanpa perlu merendahkan yang lain Kau tetap hebat tanpa perlu mengumbar keunggulanmu Sejatinya hati yang luhur tak pernah …

Puisi: Taman (Karya Kamilia Salsabila)

Taman Puan dan tuan saling menatap Bertukar beberapa patah kata mewakili nasib Puan menafsirkan tuan memiliki taman dipenuhi kaktus Sementara puan me…

Puisi: Lakon (Karya Kamilia Salsabila)

Lakon Pengantar obat ketika sakit Penyebar racun ketika sehat Kegamangan lakonmu ini sungguh menyesakkan Karenanya air mata jatuh bersamaan dengan se…

Puisi: Kita Siapa? (Karya Kamilia Salsabila)

Kita Siapa? Kita siapa? Dua manusia yang mengisi tawa Kita siapa? Dua manusia yang menjalin peduli Kita siapa? Dua manusia yang menebar luka Kita sia…

Puisi: Gaya Bahasa (Karya Kamilia Salsabila)

Gaya Bahasa Ia bilang aku tak berhati Ia bilang aku hilang empati Jika saja ia tahu,  Eufemisme selalu memikatku dibanding disfemisme Bahkan, saat tu…

Puisi: Yang Hilang (Karya Kamilia Salsabila)

Yang Hilang Kau bertanya, “Apa yang hilang?” “Aku tak tahu,” balasku Keningmu berkerut, “Mengapa bisa begitu?” “Sekalipun aku tahu, jawabanku takkan …

Puisi: Sang Penulis (Karya Kamilia Salsabila)

Sang Penulis Sebutlah ia sang penulis musiman Tiada ketetapan waktu karyanya lahir Bagaimana kehidupannya? Tak jauh berbeda Ia pernah memimpikan di p…

Puisi: Bulan (Karya Kamilia Salsabila)

Bulan Gadis itu laksana bulan Ia memantulkan cahaya yang disambutnya Semakin banyak cahayanya, semakin terang ia bersinar Semakin sedikit cahayanya, …

Puisi: Rambu Kekosongan (Karya Kamilia Salsabila)

Rambu Kekosongan Jalanan tak lengang sewaktu kita berjalan berdampingan Swalayan tetap benderang selagi kita duduk bersama Sepatah dua patah kata uca…
© Sepenuhnya. All rights reserved.