Puisi: Aku Menanam Mawar (Karya Bambang Darto)

Puisi “Aku Menanam Mawar” karya Bambang Darto menghadirkan perenungan yang padat dan simbolik tentang penciptaan, keindahan, serta relasi manusia ...
Aku Menanam Mawar

Aku menanam mawar dan tak ternilai elok kembang-
kembangnya, mereka paling suka meledek orang - yang girang
memangsa dirinya sendiri

Di tamanku tak sepasang almanak yang dibuat dan ditunggu
jiwa ganjil dan waktu tak pernah tetukar di sini - baik dari
Segala yang hidup dan yang mati

Bahkan dari segala yang ngambang dan setengah-setengah aku
menanam mawar dan tak puas mencium bait kembang
pertama: aku menanam mawar

Analisis Puisi:

Puisi “Aku Menanam Mawar” karya Bambang Darto menghadirkan perenungan yang padat dan simbolik tentang penciptaan, keindahan, serta relasi manusia dengan waktu dan keberadaan. Melalui tindakan sederhana “menanam mawar”, puisi ini menjelma menjadi refleksi filosofis tentang hidup, jiwa, dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian makna hidup melalui penciptaan dan keindahan. Puisi ini juga mengangkat tema kesadaran diri, waktu yang tak linier, serta ironi manusia terhadap kegembiraan dan keberadaannya sendiri.

Puisi ini bercerita tentang seorang aku-lirik yang menanam mawar di tamannya. Mawar-mawar itu digambarkan sangat indah, bahkan seolah mengejek orang-orang yang girang namun “memangsa dirinya sendiri”. Taman dalam puisi ini bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang batin tempat waktu dan jiwa tidak tunduk pada kalender atau almanak.

Di taman tersebut, segala yang hidup dan mati, yang utuh maupun setengah-setengah, hadir dalam satu kesatuan. Aku-lirik terus menanam mawar dan mencium kembang pertamanya, tetapi tidak pernah merasa puas—seolah proses menanam dan merasakan keindahan itu sendiri lebih penting daripada hasil akhirnya.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa keindahan dan penciptaan merupakan jalan untuk memahami diri dan kehidupan. Mawar menjadi simbol tindakan kreatif yang melawan kehampaan, kepura-puraan, dan kegembiraan semu manusia modern.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa waktu bukanlah sesuatu yang selalu harus diukur atau ditunggu. Di ruang batin yang jujur, waktu dan jiwa berjalan dengan ritmenya sendiri, terlepas dari penanda-penanda sosial seperti kalender.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa kontemplatif dan simbolik, dengan nuansa tenang namun menyimpan kegelisahan halus. Ada kesunyian batin yang mendalam, disertai perasaan tidak pernah selesai dalam mencari makna.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menemukan makna hidup melalui proses penciptaan dan kesadaran diri, bukan semata-mata melalui pengakuan atau hasil akhir.

Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa kegembiraan yang tidak disertai kesadaran bisa berujung pada kehancuran diri. Sebaliknya, tindakan sederhana yang dilakukan dengan kesungguhan—seperti menanam mawar—dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap kehampaan.

Puisi “Aku Menanam Mawar” karya Bambang Darto adalah puisi yang padat makna dan simbol. Melalui gambaran sederhana tentang menanam bunga, puisi ini mengajak pembaca merenungi relasi antara keindahan, waktu, dan kesadaran diri. Ia menegaskan bahwa hidup bukan sekadar menunggu hasil, melainkan menjalani proses penciptaan yang terus-menerus, meski tak pernah benar-benar memuaskan.

Bambang Darto
Puisi: Aku Menanam Mawar
Karya: Bambang Darto

Biodata Bambang Darto:
  • Bambang Darto lahir di Nganjuk, pada tanggal 26 Februari 1950.
  • Bambang Darto meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 20 Januari 2018.
© Sepenuhnya. All rights reserved.