Bosan
semacam apakah hidup ini? Rasanya kok
bosan dan masam
apa hanya cuilan mimpi?
kokoh kelamin kupakai membajak dunia
titik keringat dan tetesan mani
mengekalkan resah tidurku
jutaan singa menguasai hutan-hutan ngilu
ratusan cacing usus berubah jadi naga
tinggal kunang-kunang Engkau tak tertandai
Tuhan yang mencipta dan perkasa kuminta
kesabaran-Mu. Tuhan yang memelihara dan
kasih kuminta kesabaran-Mu
bosan dan masam. Untuk apa sebetulnya
semua ini? Untuk apa sabar bila
resah tak Engkau padamkan?
1982
Sumber: Horison (Januari, 1984)
Analisis Puisi:
Puisi “Bosan” karya Beni Setia menampilkan kegelisahan eksistensial yang keras dan jujur. Dengan diksi yang lugas, bahkan provokatif, penyair menyuarakan keletihan batin manusia yang mempertanyakan makna hidup, usaha, dan kesabaran di hadapan Tuhan. Puisi ini terasa seperti dialog batin yang gamang, sekaligus doa yang lahir dari keputusasaan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kebosanan eksistensial dan kegelisahan spiritual. Hidup dipertanyakan maknanya, sementara usaha jasmani dan batin terasa tidak berujung pada ketenteraman.
Puisi ini bercerita tentang seorang aku-lirik yang mempertanyakan hidupnya sendiri: tentang kerja, hasrat, mimpi, dan doa yang seolah tak berbalas. Ia menggambarkan perjuangan hidup yang keras, penuh peluh dan resah, tetapi berujung pada rasa “bosan dan masam” yang berulang.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kondisi manusia yang terjebak dalam siklus kerja, ambisi, dan kesabaran tanpa kepastian makna. Pertanyaan kepada Tuhan bukan bentuk penolakan iman, melainkan ekspresi kelelahan rohani ketika penderitaan tak juga reda meski doa telah dipanjatkan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa gelisah, getir, dan memberontak. Pertanyaan-pertanyaan retoris, pengulangan rasa bosan, serta nada protes kepada Tuhan membangun atmosfer keputusasaan yang intens dan tidak ditutupi.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini dapat dibaca sebagai kejujuran dalam beriman: bahwa mempertanyakan hidup dan mengadukan kegelisahan kepada Tuhan juga bagian dari hubungan spiritual manusia. Puisi ini menegaskan bahwa iman tidak selalu hadir dalam ketenangan, tetapi juga dalam kegamangan dan resah.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji simbolik dan kontras, seperti “jutaan singa menguasai hutan-hutan ngilu” dan “ratusan cacing usus berubah jadi naga.” Imaji tersebut mencerminkan dunia yang brutal, timpang, dan absurd, di mana kekuasaan dan ketidakadilan tumbuh secara tidak wajar.
Majas
Puisi ini menggunakan majas metafora dan hiperbola. Singa, naga, dan cacing berfungsi sebagai metafora kekuasaan, kerakusan, dan pembesaran masalah hidup. Selain itu, pertanyaan retoris yang berulang memperkuat kesan kegelisahan batin dan protes eksistensial.
Puisi “Bosan” karya Beni Setia adalah puisi yang berani dan terbuka dalam menyuarakan kegamangan manusia. Dengan bahasa yang keras dan simbol-simbol ekstrem, puisi ini tidak menawarkan jawaban, tetapi mengajak pembaca ikut masuk ke ruang tanya: tentang hidup, kesabaran, dan relasi manusia dengan Tuhan di tengah resah yang tak kunjung padam.
Biodata Beni Setia:
- Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
