Puisi: Demi Senin (Karya Bob Anwar)

Puisi “Demi Senin” karya Bob Anwar merekam kegelisahan hidup orang dewasa yang terjebak dalam rutinitas kerja dan tuntutan ekonomi.

Demi Senin

pagi datang
seperti tamu
tak diundang
alarm merampas
mimpi tak tuntas

di ruang
antara bangun
dan belum bangun
secangkir kopi
menunggu diseduh
seperti hidup butuh
alasan baru

senin
saya kenakan
kemeja yang sama
dengan yang dipakai
ambisi saya
tahun sebelumnya

gedung-gedung
tak peduli ijazah
masih bau tinta
mereka hanya
mengenal angka
dan yang tiba
tepat di sana

saya simpan
keraguan di saku
takut tercecer di jalan
dipungut orang-orang
yang lebih berani

minggu
selalu berakhir
pada ampas kopi
di dasar cangkir
dan kenyataan:
saya banyak utang
namun satu pekerjaan

demi senin
saya menjadi dewasa
yang akhir-akhir ini
sering menelepon
masa kecilnya

2025

Analisis Puisi:

Puisi “Demi Senin” karya Bob Anwar merekam kegelisahan hidup orang dewasa yang terjebak dalam rutinitas kerja dan tuntutan ekonomi. Dengan gaya minimalis dan bahasa sehari-hari, puisi ini menghadirkan Senin bukan sekadar penanda hari, melainkan simbol beban, kedewasaan yang dipaksakan, dan kompromi hidup yang terus berulang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah rutinitas, kedewasaan, dan tekanan hidup modern. Senin menjadi lambang siklus kerja yang menuntut kepatuhan, sekaligus menggerus mimpi dan kebebasan personal.

Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh “saya” yang terbangun pagi oleh alarm, menyiapkan kopi, dan mengenakan kemeja yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia memasuki dunia kerja yang dingin, di mana angka lebih dihargai daripada ijazah. Di tengah rutinitas itu, ia menyimpan keraguan, menghadapi utang, dan memaksa diri untuk terus berjalan demi hari Senin berikutnya.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan kritik terhadap kehidupan dewasa yang sering kali menjauhkan seseorang dari impian dan masa kecilnya. Kedewasaan hadir bukan sebagai pencapaian ideal, melainkan sebagai keharusan untuk bertahan di tengah sistem yang kaku dan tak personal.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, reflektif, dan ironis. Ada kelelahan yang sunyi, diselingi kesadaran pahit bahwa hidup harus terus dijalani meski tidak selalu sesuai harapan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menyadari kondisi hidup yang sedang dijalani tanpa kehilangan ingatan akan diri sendiri. Puisi ini mengingatkan bahwa di balik rutinitas dan tuntutan, manusia tetap memiliki kerinduan akan kesederhanaan dan kejujuran masa kecil.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji keseharian yang kuat, seperti alarm pagi, secangkir kopi, kemeja kerja, gedung-gedung kota, ampas kopi, dan telepon yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu. Imaji ini membangun potret hidup urban yang nyata dan akrab.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora dan personifikasi. Pagi digambarkan sebagai “tamu / tak diundang,” alarm “merampas / mimpi,” dan gedung-gedung yang “tak peduli ijazah.” Metafora “ampas kopi” menjadi simbol sisa harapan dan kenyataan pahit yang tak terhindarkan.

Puisi “Demi Senin” karya Bob Anwar adalah puisi tentang kompromi hidup dan proses menjadi dewasa yang tidak selalu heroik. Dengan bahasa yang sederhana namun tajam, puisi ini menyuarakan kegelisahan generasi pekerja yang terus melangkah demi Senin, sambil diam-diam merindukan diri mereka yang dulu.

Bob Anwar
Puisi: Demi Senin
Karya: Bob Anwar

Biodata Bob Anwar:

Bob Anwar (nama panggung dari Fajar M. Fitrah) lahir pada tanggal 25 Maret 1993 di Bandung. Sastrawan dan musisi ini menamatkan studinya di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, pada tahun 2016. Sehari-hari bekerja sebagai guru di Bina Bangsa International School, BBS Bandung, menjadi manager Komuji Indonesia dan kurator Bandung Berpuisi. Buku puisinya, Pangkur (Penerbit Buruan, 2022).

Sebagai sastrawan, karya-karyanya berupa esai dan puisi tersebar di berbagai media. Selain itu beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, Korea, dan Inggris.

Bob Anwar sesekali diundang mengikuti perhelatan sastra, di antaranya Temu Penyair Asia Tenggara, Padang Panjang 2018 dan Bali Literary International Symposium, Sanur 2019. Pada tahun 2015 ia terpilih menjadi ketua DPD Jawa Barat, HIPSI (Himpunan Penulis Sastra Indonesia), dan menjadi kurator sekaligus editor "Menapak ke Arah Senja", antologi puisi bersama penyair se-Indonesia lintas generasi. Pada tahun 2016 masuk 100 Penyair Nusantara Terpilih di Festival Tjimanoek.

Bob Anwar bisa dijumpai secara online di Instagram @bobanwar_

© Sepenuhnya. All rights reserved.