Puisi “Demi Senin” karya Bob Anwar merekam kegelisahan hidup orang dewasa yang terjebak dalam rutinitas kerja dan tuntutan ekonomi. Dengan gaya minimalis dan bahasa sehari-hari, puisi ini menghadirkan Senin bukan sekadar penanda hari, melainkan simbol beban, kedewasaan yang dipaksakan, dan kompromi hidup yang terus berulang.
Tema
Tema utama puisi ini adalah rutinitas, kedewasaan, dan tekanan hidup modern. Senin menjadi lambang siklus kerja yang menuntut kepatuhan, sekaligus menggerus mimpi dan kebebasan personal.
Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh “saya” yang terbangun pagi oleh alarm, menyiapkan kopi, dan mengenakan kemeja yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia memasuki dunia kerja yang dingin, di mana angka lebih dihargai daripada ijazah. Di tengah rutinitas itu, ia menyimpan keraguan, menghadapi utang, dan memaksa diri untuk terus berjalan demi hari Senin berikutnya.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan kritik terhadap kehidupan dewasa yang sering kali menjauhkan seseorang dari impian dan masa kecilnya. Kedewasaan hadir bukan sebagai pencapaian ideal, melainkan sebagai keharusan untuk bertahan di tengah sistem yang kaku dan tak personal.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram, reflektif, dan ironis. Ada kelelahan yang sunyi, diselingi kesadaran pahit bahwa hidup harus terus dijalani meski tidak selalu sesuai harapan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menyadari kondisi hidup yang sedang dijalani tanpa kehilangan ingatan akan diri sendiri. Puisi ini mengingatkan bahwa di balik rutinitas dan tuntutan, manusia tetap memiliki kerinduan akan kesederhanaan dan kejujuran masa kecil.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji keseharian yang kuat, seperti alarm pagi, secangkir kopi, kemeja kerja, gedung-gedung kota, ampas kopi, dan telepon yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu. Imaji ini membangun potret hidup urban yang nyata dan akrab.
Majas
Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora dan personifikasi. Pagi digambarkan sebagai “tamu / tak diundang,” alarm “merampas / mimpi,” dan gedung-gedung yang “tak peduli ijazah.” Metafora “ampas kopi” menjadi simbol sisa harapan dan kenyataan pahit yang tak terhindarkan.
Puisi “Demi Senin” karya Bob Anwar adalah puisi tentang kompromi hidup dan proses menjadi dewasa yang tidak selalu heroik. Dengan bahasa yang sederhana namun tajam, puisi ini menyuarakan kegelisahan generasi pekerja yang terus melangkah demi Senin, sambil diam-diam merindukan diri mereka yang dulu.