Sumber: Abad yang Berlari (1984)
Catatan:
Puisi ini pernah muncul di Majalah Horison edisi Mei 1984.
Analisis Puisi:
Puisi "Ekstase Waktu" karya Afrizal Malna merupakan sebuah perjalanan yang menggambarkan pengalaman transenden di dalam waktu.
Transendensi dan Realitas Alternatif: Puisi ini dibuka dengan pengalaman transenden di mana dunia tampak membuka diri dan menutup tanpa menjadi manusia. Ini mungkin mencerminkan momen-momen di mana seseorang merasa terhubung dengan realitas alternatif di luar batas-batas pengalaman manusia biasa.
Pengalaman Ekstatis: Penyair mengejar ujung jalan dan menyebelah maut, menciptakan citra perjalanan ekstatis menuju keadaan yang lebih tinggi atau keadaan kesadaran yang lebih dalam. Pengalaman ini terasa seperti berlari tanpa arah, seperti perahu tanpa kemudi, yang terlepas dari jarak dan waktu.
Keinginan akan Kemanusiaan: Dalam keadaan yang transenden ini, penyair memohon akan kehadiran manusia. Permintaan ini bisa mencerminkan kerinduan akan kemanusiaan yang hilang atau keinginan untuk kembali ke dunia manusia setelah pengalaman yang mendalam.
Makna Ketinggian Makhluk: Penyair merujuk pada mabuk ketinggian makhluk, sebuah pengalaman spiritual atau transenden di mana jiwa terbuka seperti api yang menghabiskan nyala. Ini menyoroti momen puncak pengalaman ekstatis di mana seseorang merasa menyatu dengan keseluruhan alam semesta.
Bahasa dan Citra yang Kuat: Puisi ini memanfaatkan bahasa dan citra yang kuat untuk menggambarkan pengalaman yang sulit dipahami secara rasional. Penyair menggunakan kata-kata yang mengalir dengan lancar untuk menciptakan ritme yang menghantarkan pembaca melalui perjalanan spiritual yang kompleks.
Puisi "Ekstase Waktu" adalah sebuah perjalanan mendalam ke dalam realitas alternatif di mana waktu dan ruang menjadi samar. Ini mengajak pembaca untuk merenungkan pengalaman spiritual dan transenden yang melebihi batas-batas pemahaman manusia biasa.
Puisi: Ekstase Waktu
Karya: Afrizal Malna
Biodata Afrizal Malna:
- Afrizal Malna lahir pada tanggal 7 Juni 1957 di Jakarta.
