Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Elegi Akhir Zaman (Karya Yehezkiel)

Puisi “Elegi Akhir Zaman” karya Yehezkiel menghadirkan suara kegelisahan yang kuat tentang kondisi manusia dan dunia yang kian rusak.

Elegi Akhir Zaman

Bongkahan gugus tandus longsor gunung menimpa jiwa.
Musibah kian dekat menderu,
Di antara untaian rantai penghakiman,
Jua jeritan jiwa terlelap hampa oleh jeruji kebencian.

Dalam imaji kebebasan, dapatkah jiwa menghadap bisu
Melantakan elegi perih,
Seiring waktu hanya kepala batu kian keruh.

Tentang hati, rintik teduh mengikis batu,
Melumat halus hingga tercipta jiwa baru,
Di kala api tersambar api, hanya benci menjelma dengki.

Apakah hitam adalah putih baru, atau putih adalah hitam baru?
Berteduhlah sejenak, mahluk fana,
Dikau yang terlena akan kemenangan orang baik mengalahkan orang jahat,
Dikau yang terlena tanpa mencari solusi.
Tanyakanlah pada langit, pada bumi yang kini lebur oleh tanganmu.

Aceh, 27 November 2025

Analisis Puisi:

Puisi “Elegi Akhir Zaman” karya Yehezkiel menghadirkan suara kegelisahan yang kuat tentang kondisi manusia dan dunia yang kian rusak. Dengan bahasa yang padat, metaforis, dan bernada retoris, puisi ini memotret kehancuran fisik sekaligus kehancuran batin. Musibah, kebencian, dan kebingungan moral dirajut menjadi sebuah elegi—ratapan panjang atas zaman yang kehilangan kejernihan nurani.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerusakan moral dan krisis kemanusiaan di akhir zaman. Puisi ini juga memuat tema kebencian, penghakiman, dan tanggung jawab manusia atas kehancuran dunia, baik secara fisik maupun spiritual.

Puisi ini bercerita tentang dunia yang digambarkan dalam keadaan porak-poranda: gunung longsor menimpa jiwa, musibah menderu semakin dekat, dan manusia terjerat dalam rantai penghakiman serta jeruji kebencian. Jiwa-jiwa digambarkan terlelap, hampa, dan bisu di tengah penderitaan.

Puisi kemudian bergerak pada perenungan tentang hati dan perubahan. Ada rintik teduh yang perlahan mengikis batu, melambangkan kemungkinan lahirnya jiwa baru. Namun, harapan ini kerap gagal ketika api membalas api, dan kebencian hanya melahirkan dengki.

Pada bagian akhir, puisi melontarkan pertanyaan moral yang tajam: apakah hitam telah menjadi putih, atau sebaliknya? Manusia ditegur karena terlena pada dikotomi menang-kalah antara baik dan jahat, tanpa sungguh-sungguh mencari solusi. Langit dan bumi dipanggil sebagai saksi atas kehancuran yang diciptakan oleh tangan manusia sendiri.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap kesombongan moral dan kebutaan etis manusia. Puisi ini menyiratkan bahwa kerusakan dunia tidak semata-mata akibat takdir atau musibah alam, melainkan hasil dari kebencian, penghakiman, dan ketidakmauan manusia untuk berbenah.

Pertanyaan tentang hitam dan putih menunjukkan kaburnya nilai kebenaran. Puisi ini juga menyiratkan bahwa kemenangan moral yang dibanggakan sering kali kosong jika tidak disertai tanggung jawab dan solusi nyata.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa suram, muram, dan penuh kegelisahan. Ada nuansa apokaliptik dan reflektif yang kuat, disertai nada peringatan dan teguran moral terhadap manusia sebagai makhluk fana.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak, merenung, dan bertanggung jawab atas kerusakan yang telah terjadi. Puisi ini menegaskan bahwa kebencian tidak akan menyelesaikan masalah, dan penghakiman tanpa empati hanya akan mempercepat kehancuran.

Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa manusia perlu kembali mencari kejernihan hati, membuka dialog dengan alam dan nurani, serta tidak terlena oleh klaim kebenaran sepihak.

Puisi “Elegi Akhir Zaman” karya Yehezkiel merupakan ratapan kritis atas kondisi dunia dan manusia yang terjebak dalam kebencian serta ilusi moral. Dengan bahasa metaforis dan nada peringatan, puisi ini mengajak pembaca untuk tidak sekadar menyalahkan keadaan, tetapi berani menatap peran diri sendiri dalam kehancuran yang terjadi. Elegi ini menjadi cermin bagi manusia agar kembali bertanya, merenung, dan mencari jalan pemulihan sebelum segalanya benar-benar lebur.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Elegi Akhir Zaman
Karya: Yehezkiel

Biodata Yehezkiel:

Yehezkiel Pernando Sihombing lahir pada tanggal 29 Agustus 2003 di Cikampak. Ia pernah beberapa kali mendapatkan gelar juara saat kompetisi puisi antar sekolah tingkat kecamatan saat menjadi pelajar di SD Swasta Grahadura Leidong Prima Kabupaten Labuhan Batu Utara Provinsi Sumatera Utara. Yehezkiel aktif di kelas Asqa Imagination School (AIS) #61 mulai bulan Agustus 2025. Penulis bisa disapa di Instagram @yehezkiels1h0mb1n9

© Sepenuhnya. All rights reserved.