Analisis Puisi:
Puisi “Groningen, Kota Utara Belanda” karya Putu Oka Sukanta menghadirkan potret perjalanan sekaligus pengalaman batin seorang aku-lirik yang singgah di sebuah kota asing. Melalui larik-larik yang sederhana namun sarat suasana, penyair tidak hanya merekam lanskap geografis Groningen, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang dingin, keterasingan, dan kesadaran diri yang tumbuh perlahan dalam perjalanan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pengalaman keterasingan dan perjumpaan batin dalam perjalanan lintas tempat. Dingin kota Groningen tidak semata dimaknai sebagai kondisi cuaca, melainkan juga sebagai simbol jarak emosional, keasingan, dan perenungan diri ketika berada jauh dari ruang yang akrab.
Puisi ini bercerita tentang kedatangan seorang tokoh aku ke Groningen, kota di utara Belanda, setelah sebelumnya berada di Berlin. Perjalanan tersebut tidak digambarkan secara turistik, melainkan melalui kesan-kesan personal: dingin yang menusuk, kanal hampir beku, bebek-bebek hitam, hingga rumah dan tangga yang menghadap “jendela dunia.” Semua detail ini membentuk narasi singkat tentang singgah, mengamati, dan merasakan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini dapat dibaca sebagai perjalanan batin seorang individu yang sedang berada di persimpangan pengalaman hidup. Ungkapan seperti “kecamuk permainan dadu” dan “dikawal serdadu” menyiratkan ketidakpastian, tekanan sejarah, atau bayang-bayang kekuasaan yang mungkin pernah dialami penyair. Groningen menjadi ruang kontemplatif, tempat aku-lirik belajar memahami makna “dingin” bukan hanya secara fisik, tetapi juga eksistensial.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi didominasi oleh kesenyapan, dingin, dan reflektif. Kota digambarkan sepi, kanal hampir beku, dan angin winter menerpa tubuh. Namun di balik kesenyapan itu, terdapat perasaan riang yang halus, seolah aku-lirik menerima pengalaman tersebut dengan keterbukaan dan keingintahuan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk memahami pengalaman hidup secara utuh, termasuk rasa dingin, asing, dan tidak nyaman. Perjalanan ke tempat jauh sering kali bukan tentang tujuan, melainkan tentang bagaimana seseorang belajar mengenali dirinya sendiri melalui perasaan dan pengalaman baru.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual dan peraba, seperti “bebek-bebek hitam berlayar di kanal hampir beku” yang menghadirkan gambaran kota dingin nan sunyi, serta “angin winter” yang “mengiris-iris daun telinga” yang kuat secara sensori. Imaji-imaji tersebut membuat pembaca seolah ikut merasakan dingin dan suasana Groningen secara langsung.
Majas
Dalam puisi ini terdapat penggunaan majas personifikasi dan metafora. Contohnya, dingin yang “mengiris-iris daun telinga” memberi sifat aktif pada dingin, seolah-olah ia memiliki kehendak. Selain itu, frasa “jendela dunia” berfungsi sebagai metafora tentang pandangan baru, keterbukaan, dan pengalaman lintas budaya.
Puisi “Groningen, Kota Utara Belanda” adalah puisi perjalanan yang bersifat reflektif. Putu Oka Sukanta tidak sekadar mencatat tempat, tetapi menghadirkan pengalaman batin yang lahir dari perjumpaan antara diri, sejarah, dan ruang asing. Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat perjalanan sebagai proses pemaknaan, bukan sekadar perpindahan geografis.
