Puisi: Guru Honorer (Karya Bob Anwar)

Puisi “Guru Honorer” karya Bob Anwar menjadi kesaksian personal sekaligus kritik sosial terhadap sistem yang kerap memuliakan pendidikan secara ...

Guru Honorer

saya mengajarkan revolusi
sementara pemberontakan
terjadi dalam diri

di kantong kerja
surat lamaran menunggu
di meja kerja, buku-buku
menanti dibuka

dunia bergerak dengan cara sendiri
ada yang memberi nilai pada mimpi
ada yang memberi harga pada waktu
ada saya di persimpangan ini

seorang siswa bertanya
tentang masa depan
saya tersenyum, tak ingin bohong
minggu lalu, amplop gaji terlalu tipis
untuk membelikan ibu obat

saya bercerita
pada dinding-dinding kontrakan
mungkin besok tidak lagi mengajar
foto kelulusan tidak menjawab
pulpen merah di saku safari
menyimpan keraguan

ada yang bilang keikhlasan
tak perlu dibayar, maka biarkan
saya bertanya pada mereka
dengan apa saya membayar tagihan?
dengan apa saya mengirim adik kuliah?

malam datang terlalu cepat
saya pura-pura tidur
ketika bantal bertanya
apa masih sanggup bertahan?
apa masih percaya pendidikan?
apa masih?

tadi sore, di teras, mantan siswa
tersenyum dengan mobil barunya
tawarannya berlaku sampai besok
UMR, BPJS, tunjangan, bonus tahunan

esok pagi, saya pun terbangun
dengan mengambil salah satu jalan
yang manapun pilihan, akan terasa
seperti mengkhianati seseorang

saya menatap kalender di gawai
ada tanggal merah minggu depan
Hari Pendidikan Nasional

tapi malam ini, biarkan saya
menangisi semua kata-kata
yang tak ada di buku sejarah

bahwa kadang, kecintaan saja 
tak cukup

2025

Analisis Puisi:

Puisi “Guru Honorer” karya Bob Anwar menghadirkan suara lirih namun tajam tentang realitas pendidikan dari sudut pandang mereka yang berada di lapisan paling rapuh: guru honorer. Dengan bahasa lugas, ironi, dan pengakuan batin yang jujur, puisi ini menjadi kesaksian personal sekaligus kritik sosial terhadap sistem yang kerap memuliakan pendidikan secara simbolik, tetapi mengabaikan kesejahteraan pelakunya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketimpangan sosial dalam dunia pendidikan dan konflik batin antara idealisme dan kebutuhan hidup. Puisi ini menyoroti pergulatan moral seorang guru yang mencintai profesinya, tetapi terhimpit oleh realitas ekonomi.

Puisi ini bercerita tentang seorang guru honorer yang mengajar nilai-nilai besar—bahkan revolusi—sementara dalam dirinya sendiri terjadi “pemberontakan” akibat tekanan hidup. Ia berada di persimpangan antara bertahan mengajar dengan gaji yang tak mencukupi atau meninggalkan profesi demi masa depan yang lebih layak. Percakapan dengan siswa, ibu, adik, dan dirinya sendiri menjadi rangkaian konflik yang terus membayang.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap sistem yang menuntut keikhlasan tanpa menjamin keberlangsungan hidup. Pendidikan diagungkan dalam wacana, tetapi guru honorer dipaksa bertahan dengan upah minim, tanpa kepastian. Puisi ini mempertanyakan siapa yang sesungguhnya diuntungkan ketika pengabdian dijadikan alasan untuk menormalisasi ketidakadilan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa getir, muram, dan penuh kegelisahan. Tidak ada ledakan emosi, melainkan kelelahan yang menumpuk, keraguan yang disimpan diam-diam, dan tangis yang baru dilepaskan ketika malam tiba.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk bersikap jujur terhadap realitas pendidikan. Kecintaan pada profesi tidak seharusnya meniadakan hak hidup yang layak. Puisi ini juga mengingatkan bahwa pengabdian tanpa keadilan hanya akan melahirkan kelelahan kolektif.

Imaji

Puisi ini kuat dalam imaji keseharian, seperti amplop gaji yang tipis, pulpen merah di saku safari, dinding kontrakan, kalender di gawai, dan tawaran kerja dengan fasilitas UMR serta BPJS. Imaji-imaji ini membangun potret konkret kehidupan guru honorer yang dekat dengan realitas banyak orang.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora, personifikasi, dan ironi. “Pemberontakan ... dalam diri” menjadi metafora konflik batin, bantal yang “bertanya” mempersonifikasikan kegelisahan malam, dan peringatan Hari Pendidikan Nasional dihadirkan secara ironis di tengah ketidakadilan yang dialami tokoh aku.

Puisi “Guru Honorer” karya Bob Anwar adalah puisi kesaksian yang jujur dan berani. Ia tidak memuja pengabdian secara romantis, melainkan memperlihatkan luka-luka yang jarang ditulis dalam buku sejarah. Puisi ini menegaskan satu hal penting: bahwa kadang, kecintaan saja tak cukup, jika sistem terus membiarkan mereka yang mencerdaskan bangsa hidup dalam ketidakpastian.

Bob Anwar
Puisi: Guru Honorer
Karya: Bob Anwar

Biodata Bob Anwar:

Bob Anwar (nama panggung dari Fajar M. Fitrah) lahir pada tanggal 25 Maret 1993 di Bandung. Sastrawan dan musisi ini menamatkan studinya di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, pada tahun 2016. Sehari-hari bekerja sebagai guru di Bina Bangsa International School, BBS Bandung, menjadi manager Komuji Indonesia dan kurator Bandung Berpuisi. Buku puisinya, Pangkur (Penerbit Buruan, 2022).

Sebagai sastrawan, karya-karyanya berupa esai dan puisi tersebar di berbagai media. Selain itu beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, Korea, dan Inggris.

Bob Anwar sesekali diundang mengikuti perhelatan sastra, di antaranya Temu Penyair Asia Tenggara, Padang Panjang 2018 dan Bali Literary International Symposium, Sanur 2019. Pada tahun 2015 ia terpilih menjadi ketua DPD Jawa Barat, HIPSI (Himpunan Penulis Sastra Indonesia), dan menjadi kurator sekaligus editor "Menapak ke Arah Senja", antologi puisi bersama penyair se-Indonesia lintas generasi. Pada tahun 2016 masuk 100 Penyair Nusantara Terpilih di Festival Tjimanoek.

Bob Anwar bisa dijumpai secara online di Instagram @bobanwar_

© Sepenuhnya. All rights reserved.