Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Huruf-Huruf Menjepit (Karya Beni Setia)

Puisi “Huruf-Huruf Menjepit” karya Beni Setia bercerita tentang seseorang yang mengalami tekanan bahkan saat tidur. Huruf-huruf menjepit tubuhnya, ...

Huruf-Huruf Menjepit


huruf-huruf menjepit tubuh tidurku
mesin tik, elektrik
menampar pipi menyuapkan mimpi
"berhenti" teriak telepon

bintang mengerdip, bintang membelalak
segala yang harus sampai
tak mungkin bisa sampai
: kuburan mengekalkan rakyat

ingin berlari, ingin berlari. Lari. Lari
bila buat marah, bila buat teriak
kita harus mabuk anggur
kita harus minum anggur
"kita ini siapa? kita hidup di mana?"
kata sajak. Sebatang lilin, kecil
menitik
sia-sia menggoyah-goyahkan dinding. Penjara

1982

Sumber: Horison (November, 1982)

Catatan:
Puisi ini tidak memiliki judul.

Analisis Puisi:

Puisi “Huruf-Huruf Menjepit” karya Beni Setia menampilkan kegelisahan subjek lirik yang terhimpit oleh bahasa, informasi, dan sistem yang menekan. Dengan larik-larik terputus, repetitif, dan penuh citra mekanis, puisi ini menciptakan pengalaman membaca yang sesak—sejalan dengan tema penindasan batin yang dialami aku-lirik. Huruf, mesin, dan suara-suara menjadi kekuatan yang bukan lagi netral, melainkan menindas dan membatasi kebebasan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterjepitan manusia oleh bahasa, sistem, dan kekuasaan. Bahasa—yang diwakili oleh huruf-huruf—tidak lagi menjadi alat pembebasan, melainkan alat yang menekan, mengawasi, dan membungkam. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema keterasingan, kegelisahan eksistensial, dan ketidakberdayaan rakyat dalam struktur yang represif.

Puisi ini bercerita tentang aku-lirik yang mengalami tekanan bahkan saat tidur. Huruf-huruf menjepit tubuhnya, mesin tik elektrik menampar pipi, dan telepon berteriak memerintah “berhenti”. Dunia modern dengan segala perangkat komunikasinya hadir sebagai kekuatan agresif yang menyerang ruang paling pribadi.

Di bagian selanjutnya, subjek lirik menyadari bahwa pesan-pesan penting “tak mungkin bisa sampai”, sebab pada akhirnya “kuburan mengekalkan rakyat”. Keinginan untuk berlari dan melarikan diri muncul berulang-ulang, namun kesadaran kolektif yang mabuk dan kehilangan identitas justru menjerat lebih dalam. Puisi ditutup dengan gambaran penjara: ruang tertutup yang sia-sia digoyahkan, hanya diterangi sebatang lilin kecil.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik tajam terhadap sistem sosial-politik yang membungkam suara rakyat. Huruf-huruf dapat dimaknai sebagai teks resmi, dokumen, slogan, atau propaganda yang justru menindas, bukan membebaskan.

Kuburan yang “mengekalkan rakyat” menyiratkan bahwa suara rakyat sering kali baru diingat setelah mereka mati, sementara semasa hidupnya mereka dibungkam. Pertanyaan “kita ini siapa? kita hidup di mana?” menunjukkan krisis identitas akibat tekanan sistem yang terus-menerus.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa perlawanan sering kali terasa sia-sia, namun kesadaran—sekecil apa pun—tetap menyala.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sesak, gelisah, kacau, dan menekan. Ritme larik yang terputus-putus, repetisi kata “lari”, serta benturan bunyi mesin dan teriakan menciptakan suasana panik dan terkurung. Hingga akhir, suasana tidak benar-benar menemukan kelegaan, melainkan berhenti dalam kesadaran pahit tentang penjara.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah peringatan agar manusia tidak pasrah terhadap bahasa dan sistem yang menindas. Puisi ini mengajak pembaca untuk mempertanyakan siapa diri kita dan di mana kita hidup, alih-alih menerima begitu saja narasi yang disodorkan oleh kekuasaan.

Selain itu, puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa meski perlawanan terasa sia-sia, kesadaran kritis tetap penting sebagai bentuk keberanian terakhir.

Puisi “Huruf-Huruf Menjepit” karya Beni Setia adalah puisi perlawanan yang getir dan reflektif. Melalui bahasa yang terfragmentasi dan citra-citra mekanis, puisi ini menyingkap bagaimana manusia modern dapat terpenjara oleh kata-kata, sistem, dan ketakutan kolektif. Meski diakhiri dengan kesadaran akan kesia-siaan, sebatang lilin kecil tetap hadir—menjadi simbol bahwa kesadaran kritis, sekecil apa pun, masih memiliki makna.

Beni Setia
Puisi: Huruf-Huruf Menjepit
Karya: Beni Setia

Profil Beni Setia:
  • Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.