Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Kangen (Karya Ook Nugroho)

Puisi “Kangen” karya Ook Nugroho bercerita tentang seorang anak yang “mengantar ayahnya ke dokter”, meskipun sang ayah telah meninggal lebih dari ...
Kangen

Sore ini saya mengantar ayah ke dokter. Sebetulnya ayah sudah meninggal lebih tiga puluh tahun yang lalu, pada suatu Ahad pagi yang sedikit berhujan. Meninggal dengan damai di kamarnya agak sempit tapi nyaman. Kami berlima ketika itu menungguinya dengan sabar sepanjang malam. Saat fajar datang, tanda-tanda pun lengkap, ibu memekik pelan, menyongsongnya.

Begitulah, sore ini ayah meminta saya mengantarnya ke dokter. Ia mengaku agak kurang enak badan. Saya tak sampai hati menolaknya, jadi kami pun bertolak dengan taksi warna biru. Ruang tunggu dokter sudah hampir penuh oleh aroma orang-orang mati, yang semuanya berwajah cerah gembira. Anehnya juga, mereka seperti sudah saling kenal lama, maka riuhlah kamar tunggu yang sempit itu. Ayah mengenalkan beberapa kepadaku. Mereka menjabat saya erat, dan ada yang bertanya tak sabaran, "Apa kabar dunia hari ini, pasti bertambah busuk, bukan? Kami di sorga baik saja, hanya kadang kangen."

Saya menemani ayah menemui dokter. Saya masih ingat tiga puluh tahun yang lalu lelaki yang gemar berseloroh sembarang waktu itulah yang berkata, "Ayahmu tak akan lama lagi, jadi berkemaslah." Kini dua orang itu berjumpa pula. Dokter itu, yang sekarang terlihat begitu renta, anehnya malah sibuk memeriksa tubuhnya sendiri. Ia, misalnya, memeriksa tekanan darahnya, menimbang berat badan, dan terakhir sekali mencoba mencocokkan denyut jantung dengan debar-debur rindunya.

Ia pun manggut-manggut, tampaknya puas belaka. Lantas dengan masih tertawa-tawa seperti dulu hari mendadak saja ia berpaling kepada saya dan berkata, "Saya tak akan lama lagi, jadi tinggalkanlah kami." Saya terpana, tapi kemudian pergi dengan semacam perasaan lega yang aneh, meninggalkan mereka berdua berbahagia pada akhir tulisan ini. Saya langsung bertolak pulang ke dunia saya yang nyata dengan menumpang taksi berwarna biru. Di sepanjang jalan saya masih terus juga berpikir-pikir, mungkin betul di sorga ayah baik-baik saja, hanya kadang kangen.

Analisis Puisi:

Puisi “Kangen” karya Ook Nugroho menghadirkan pengalaman rindu yang tidak lazim: kerinduan kepada ayah yang telah wafat puluhan tahun lalu. Dengan gaya naratif, absurd, sekaligus lirih, puisi ini mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia arwah, menghadirkan rindu sebagai kekuatan yang mampu memanggil kembali yang telah tiada—bukan secara fisik, melainkan melalui ingatan dan batin.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan terhadap orang tua yang telah meninggal, ingatan, dan hubungan emosional yang melampaui kematian. Selain itu, puisi ini juga menyentuh tema kefanaan hidup dan keabadian rasa kasih dalam ingatan manusia.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang “mengantar ayahnya ke dokter”, meskipun sang ayah telah meninggal lebih dari tiga puluh tahun lalu. Dalam perjalanan tersebut, pembaca diajak masuk ke ruang yang aneh dan sureal: ruang tunggu dokter yang dipenuhi “orang-orang mati” yang justru tampak cerah dan gembira.

Percakapan dengan ayah, dokter, dan para arwah lain berlangsung ringan, bahkan humoris, namun sarat makna. Semua itu berujung pada satu kesadaran: bahwa di “sorga”, mereka baik-baik saja, hanya kadang merasa kangen pada dunia.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini dapat ditafsirkan dalam beberapa lapisan:
  • Rindu tidak mengenal kematian – ikatan batin antara anak dan ayah tetap hidup meski tubuh telah tiada.
  • Ingatan sebagai ruang pertemuan – kenangan menjadi tempat di mana yang hidup dan yang mati masih bisa “berjumpa”.
  • Sindiran halus tentang dunia – ungkapan bahwa dunia “bertambah busuk” menunjukkan kritik terhadap realitas kehidupan manusia.
  • Penerimaan atas kematian – kematian digambarkan bukan sebagai tragedi, melainkan sebagai kelanjutan hidup yang lebih damai.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini melankolis, absurd, tenang, dan ironis. Ada kesedihan yang halus, tetapi tidak meledak-ledak. Humor tipis justru memperkuat rasa kehilangan, membuat pembaca tersenyum sambil merasakan perih yang samar.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan amanat / pesan bahwa:
  • Rasa rindu adalah bukti cinta yang tidak pernah benar-benar selesai.
  • Kematian bukan akhir dari hubungan emosional manusia.
  • Hidup perlu dijalani dengan kesadaran bahwa semua pada akhirnya akan kembali.
  • Mengingat orang yang telah tiada adalah bagian dari proses berdamai dengan hidup.
Puisi “Kangen” karya Ook Nugroho adalah perenungan lembut tentang rindu yang tak selesai oleh waktu maupun kematian. Dengan bahasa naratif yang tenang dan imaji yang absurd namun menyentuh, puisi ini mengajak pembaca menyadari bahwa orang-orang yang kita cintai tidak benar-benar pergi. Mereka tinggal di ingatan, dan di sanalah kerinduan terus hidup—diam-diam, setia, dan abadi.

Ook Nugroho
Puisi: Kangen
Karya: Ook Nugroho

Biodata Ook Nugroho:
  • Ook Nugroho lahir pada tanggal 7 April 1960 di Jakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.