Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Karma (Karya Kamilia Salsabila)

Puisi “Karma” karya Kamilia Salsabila bercerita tentang realitas sosial di mana sebagian manusia menertawakan penderitaan orang lain tanpa nurani.

Karma

Bisik-bisik sayup terdengar
Menggemakan realitas tanpa nurani
Tergelak di atas derita insan lain
Hingga menimbulkan murka sang semesta 
Sebuah raga dengan atma yang berduka pun bertanya, “Mengapa selalu aku?”
Semesta menimpali, “Hey, makhluk fana, sadarilah posisimu!”

Banjarmasin, 28 Desember 2025

Analisis Puisi:

Puisi “Karma” karya Kamilia Salsabila menghadirkan perenungan singkat namun tajam tentang relasi antara perbuatan manusia dan konsekuensinya. Dengan bahasa simbolik dan dialog metaforis antara manusia dan semesta, puisi ini mengajak pembaca menimbang ulang sikap nurani, empati, dan kesadaran diri sebagai makhluk fana.

Tema

Tema utama puisi ini adalah karma dan keadilan semesta. Puisi menyoroti hubungan sebab-akibat antara perilaku manusia—terutama sikap tanpa empati—dengan balasan yang datang sebagai konsekuensi moral maupun eksistensial.

Puisi ini bercerita tentang realitas sosial di mana sebagian manusia menertawakan penderitaan orang lain tanpa nurani. Sikap tersebut memicu “murka semesta”, yang kemudian dipersonifikasikan sebagai kekuatan yang menegur manusia ketika ia mempertanyakan mengapa penderitaan terus menimpanya.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini mengisyaratkan bahwa penderitaan tidak selalu datang tanpa sebab. Ada kritik terhadap manusia yang gemar menyalahkan keadaan atau takdir, tetapi enggan bercermin pada sikap dan perbuatannya sendiri. Teguran semesta menjadi simbol kesadaran bahwa manusia memiliki posisi terbatas dan tanggung jawab moral dalam tatanan kehidupan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, getir, dan reflektif. Nuansa bisik-bisik, derita, dan murka semesta membangun atmosfer kegelisahan sekaligus peringatan yang serius terhadap pembaca.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk memiliki empati dan kesadaran diri. Manusia diingatkan agar tidak meremehkan penderitaan orang lain, sebab setiap tindakan—baik atau buruk—akan kembali kepada pelakunya sebagai karma.

Puisi “Karma” adalah puisi singkat dengan daya pukul filosofis yang kuat. Melalui dialog simbolik antara manusia dan semesta, Kamilia Salsabila menyampaikan kritik sosial sekaligus peringatan moral bahwa kesadaran, empati, dan tanggung jawab adalah fondasi penting dalam menjalani kehidupan.


Kamilia Salsabila
Puisi: Karma
Karya: Kamilia Salsabila

Biodata Kamilia Salsabila:
  • Kamilia Salsabila, lahir pada tahun 2002, mulai tertarik menulis puisi semenjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
© Sepenuhnya. All rights reserved.