Puisi: Kerja Sepanjang Usia (Karya Bob Anwar)

Puisi “Kerja Sepanjang Usia” karya Bob Anwar bercerita tentang seseorang yang terus mendoakan seseorang yang pernah dicintainya, meski orang ...

Kerja Sepanjang Usia

mendoakanmu
adalah pekerjaan
seumur hidup
yang tak tercatat
dalam buku ekonomi

di halaman 17 Neruda
saya simpan undanganmu
bekas lipatan yang tak bisa
diluruskan, seperti masa lalu
atau jalan di belakang kampus
tempat kita bertukar lapar
dengan sajak perlawanan

kamu lebih memilih
seseorang yang mengerti
angka, bukan kata
yang tahu harga beras
dan jatuh tempo listrik
ia tak menulis syair
tapi membangun
kepastian

ketika langit
memamerkan bintang
pernahkah kamu bayangkan
jalan yang tak kamu ambil?
dunia paralel, di mana kita
masih berbagi sepiring mi
dan keabadian dalam
kertas-kertas usang?

saya, tidak

hujan bulan juni
adalah kalender pribadi
untuk saya kembali berdoa:
semoga rumahmu tak bocor
semoga ia memberimu
segala yang tak sanggup
saya tuliskan, semoga
malam tak membisik
puisi ke hatimu

kesunyian, kita tahu
selalu menelan pertanyaan
dan mengubur jawaban

di kehidupan lain
mungkin kita hanya
dua orang kebetulan
bertatapan dalam bus
lalu turun di halte
berbeda, tanpa tahu
kita pernah saling
memiliki

saya mencintaimu
seperti huruf-huruf
yang menjelma hantu
dalam manuskrip
yang tak sampai
ke tangan penerbit

2025

Analisis Puisi:

Puisi “Kerja Sepanjang Usia” karya Bob Anwar menghadirkan narasi lirih tentang cinta yang tak selesai, tentang kerja batin yang berlangsung diam-diam dan tak pernah diupahkan. Melalui bahasa yang sederhana namun sarat makna, puisi ini mempertemukan cinta, kenangan, dan realitas ekonomi dalam satu tarikan napas yang getir.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta yang tak terbalas dan pengorbanan batin yang berlangsung seumur hidup. Cinta diposisikan sebagai “kerja” yang tak pernah usai, meski tak pernah diakui secara sosial maupun ekonomi.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terus mendoakan seseorang yang pernah dicintainya, meski orang tersebut telah memilih jalan hidup lain bersama orang yang lebih menjanjikan kepastian materi. Kenangan masa lalu, sajak perlawanan, dan kebersamaan sederhana menjadi latar emosional yang terus diingat, namun tak lagi bisa diulang.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan benturan antara idealisme dan realitas. Cinta, puisi, dan kata-kata kalah oleh angka, tagihan, dan kepastian hidup. Doa menjadi satu-satunya bentuk cinta yang tersisa, sekaligus kerja sunyi yang tak pernah selesai.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa melankolis, sunyi, dan pasrah. Ada kesedihan yang tertahan, tanpa ledakan emosi, namun justru semakin dalam karena diterima dengan tenang.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa tidak semua cinta berakhir dengan kebersamaan, namun tetap bisa bertahan dalam bentuk yang lain: doa, keikhlasan, dan penerimaan. Puisi ini juga menyiratkan bahwa dunia sering kali lebih menghargai kepastian materi daripada ketulusan perasaan.

Imaji

Puisi ini menampilkan imaji visual dan emosional yang kuat, seperti bekas lipatan undangan yang tak bisa diluruskan, jalan belakang kampus, sepiring mi, hujan bulan Juni, rumah yang tak bocor, dan manuskrip yang tak sampai ke tangan penerbit. Imaji-imaji ini menegaskan kenangan yang menetap dan tak sepenuhnya hilang.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora dan simbolik. Cinta diibaratkan sebagai “pekerjaan seumur hidup”, doa menjadi kalender pribadi, dan huruf-huruf puisi menjelma “hantu” dalam manuskrip—menandakan sesuatu yang ada namun tak pernah benar-benar hidup.

Puisi “Kerja Sepanjang Usia” adalah puisi tentang keikhlasan yang pahit dan kedewasaan emosional. Bob Anwar menempatkan cinta bukan sebagai sesuatu yang harus dimiliki, melainkan sebagai kerja sunyi yang terus berlangsung, bahkan ketika tak lagi punya tujuan selain menjaga seseorang tetap baik-baik saja dalam hidup yang tidak lagi kita tempati.

Bob Anwar
Puisi: Kerja Sepanjang Usia
Karya: Bob Anwar

Biodata Bob Anwar:

Bob Anwar (nama panggung dari Fajar M. Fitrah) lahir pada tanggal 25 Maret 1993 di Bandung. Sastrawan dan musisi ini menamatkan studinya di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, pada tahun 2016. Sehari-hari bekerja sebagai guru di Bina Bangsa International School, BBS Bandung, menjadi manager Komuji Indonesia dan kurator Bandung Berpuisi. Buku puisinya, Pangkur (Penerbit Buruan, 2022).

Sebagai sastrawan, karya-karyanya berupa esai dan puisi tersebar di berbagai media. Selain itu beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, Korea, dan Inggris.

Bob Anwar sesekali diundang mengikuti perhelatan sastra, di antaranya Temu Penyair Asia Tenggara, Padang Panjang 2018 dan Bali Literary International Symposium, Sanur 2019. Pada tahun 2015 ia terpilih menjadi ketua DPD Jawa Barat, HIPSI (Himpunan Penulis Sastra Indonesia), dan menjadi kurator sekaligus editor "Menapak ke Arah Senja", antologi puisi bersama penyair se-Indonesia lintas generasi. Pada tahun 2016 masuk 100 Penyair Nusantara Terpilih di Festival Tjimanoek.

Bob Anwar bisa dijumpai secara online di Instagram @bobanwar_

© Sepenuhnya. All rights reserved.