Puisi “Kerja Sepanjang Usia” karya Bob Anwar menghadirkan narasi lirih tentang cinta yang tak selesai, tentang kerja batin yang berlangsung diam-diam dan tak pernah diupahkan. Melalui bahasa yang sederhana namun sarat makna, puisi ini mempertemukan cinta, kenangan, dan realitas ekonomi dalam satu tarikan napas yang getir.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta yang tak terbalas dan pengorbanan batin yang berlangsung seumur hidup. Cinta diposisikan sebagai “kerja” yang tak pernah usai, meski tak pernah diakui secara sosial maupun ekonomi.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terus mendoakan seseorang yang pernah dicintainya, meski orang tersebut telah memilih jalan hidup lain bersama orang yang lebih menjanjikan kepastian materi. Kenangan masa lalu, sajak perlawanan, dan kebersamaan sederhana menjadi latar emosional yang terus diingat, namun tak lagi bisa diulang.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan benturan antara idealisme dan realitas. Cinta, puisi, dan kata-kata kalah oleh angka, tagihan, dan kepastian hidup. Doa menjadi satu-satunya bentuk cinta yang tersisa, sekaligus kerja sunyi yang tak pernah selesai.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa melankolis, sunyi, dan pasrah. Ada kesedihan yang tertahan, tanpa ledakan emosi, namun justru semakin dalam karena diterima dengan tenang.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa tidak semua cinta berakhir dengan kebersamaan, namun tetap bisa bertahan dalam bentuk yang lain: doa, keikhlasan, dan penerimaan. Puisi ini juga menyiratkan bahwa dunia sering kali lebih menghargai kepastian materi daripada ketulusan perasaan.
Imaji
Puisi ini menampilkan imaji visual dan emosional yang kuat, seperti bekas lipatan undangan yang tak bisa diluruskan, jalan belakang kampus, sepiring mi, hujan bulan Juni, rumah yang tak bocor, dan manuskrip yang tak sampai ke tangan penerbit. Imaji-imaji ini menegaskan kenangan yang menetap dan tak sepenuhnya hilang.
Majas
Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora dan simbolik. Cinta diibaratkan sebagai “pekerjaan seumur hidup”, doa menjadi kalender pribadi, dan huruf-huruf puisi menjelma “hantu” dalam manuskrip—menandakan sesuatu yang ada namun tak pernah benar-benar hidup.
Puisi “Kerja Sepanjang Usia” adalah puisi tentang keikhlasan yang pahit dan kedewasaan emosional. Bob Anwar menempatkan cinta bukan sebagai sesuatu yang harus dimiliki, melainkan sebagai kerja sunyi yang terus berlangsung, bahkan ketika tak lagi punya tujuan selain menjaga seseorang tetap baik-baik saja dalam hidup yang tidak lagi kita tempati.