Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Ketika Sebuah Kapal Hendak Bertolak (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi “Ketika Sebuah Kapal Hendak Bertolak” karya Slamet Sukirnanto bercerita tentang sebuah kapal yang bersiap meninggalkan pelabuhan.
Ketika Sebuah Kapal Hendak Bertolak

Ketika sebuah kapal hendak bertolak
Ternyata pelabuhan ini sudah renta
Menghidangkan gerimis senja sedikit cahaya
Di lautan gelombang mengundang pelaut muda!

Ketika sebuah kapal hendak bertolak
Di pantai masih menunggu kapal-kapal
Yang lain siap pergi. Mereka berjaga
Membenahi jangkar dan tiang agung
Layar dan tali-tali. Ia kumpulkan semua ikhwal
Bekal perjalanan nanti!

Ketika sebuah kapal hendak bertolak
Kaulah yang paling siap mengarungi
Kehidupan. Seperti dulu pendahulumu
Menyisir Selat Malaka suatu petang
Camar berdua mengembang sayap
Penuh girang. Mereka tertawa
Mereka merenung dan bertanya pada angkasa!
Daratan mana mereka harus singgah
Membangun tenda dan pagar halaman!

Pekanbaru, Maret 1998

Sumber: Gergaji (2001)

Analisis Puisi:

Puisi “Ketika Sebuah Kapal Hendak Bertolak” karya Slamet Sukirnanto menghadirkan simbol perjalanan sebagai metafora kehidupan. Melalui gambaran pelabuhan, kapal, dan lautan, penyair mengajak pembaca merenungi fase peralihan—saat seseorang meninggalkan satu tahap hidup dan bersiap memasuki tahap berikutnya dengan segala ketidakpastian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup dan kesiapan menghadapi masa depan. Kapal yang hendak bertolak menjadi simbol manusia yang siap melangkah menuju tantangan dan pengalaman baru.

Puisi ini bercerita tentang sebuah kapal yang bersiap meninggalkan pelabuhan. Pelabuhan digambarkan telah renta, sementara lautan memanggil para pelaut muda. Kapal-kapal lain juga bersiap, membenahi jangkar, layar, dan bekal. Pada bagian akhir, kapal disamakan dengan “kaulah” — manusia yang siap mengarungi kehidupan, mengikuti jejak para pendahulu, mencari tempat berlabuh dan membangun kehidupan baru.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa setiap manusia pada akhirnya harus meninggalkan zona nyaman dan menghadapi dunia luas yang penuh kemungkinan. Pelabuhan yang renta melambangkan masa lalu atau lingkungan lama yang tak lagi mampu menahan langkah, sementara lautan menjadi simbol masa depan yang menantang sekaligus menjanjikan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa reflektif, optimistis, dan penuh harap. Meski ada kesan senja dan gerimis yang melankolis, puisi ini tetap memancarkan semangat petualangan dan kesiapan untuk melangkah.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk berani bersiap dan melangkah menghadapi kehidupan. Bekal, kesiapan mental, dan keberanian menjadi kunci untuk menempuh perjalanan hidup, sebagaimana kapal yang tidak bisa berlayar tanpa persiapan matang.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan gerak, seperti gerimis senja, kapal-kapal yang berjaga, layar dan tali-tali, camar yang mengembangkan sayap, serta pelayaran menyisir Selat Malaka. Imaji ini membangun suasana pelabuhan dan laut yang hidup dan simbolik.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora dan personifikasi. Kapal menjadi metafora manusia, pelabuhan dipersonifikasikan sebagai sesuatu yang “renta,” dan lautan digambarkan seolah mengundang pelaut muda. Pengulangan frasa “Ketika sebuah kapal hendak bertolak” juga berfungsi sebagai repetisi untuk menegaskan momentum keberangkatan.

Puisi “Ketika Sebuah Kapal Hendak Bertolak” karya Slamet Sukirnanto adalah puisi alegoris tentang keberanian meninggalkan masa lalu dan kesiapan menghadapi masa depan. Dengan simbol-simbol maritim yang kuat, puisi ini mengingatkan bahwa hidup adalah pelayaran panjang—dan setiap keberangkatan menuntut kesiapan, keberanian, serta harapan akan daratan baru yang akan disinggahi.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Ketika Sebuah Kapal Hendak Bertolak
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.