Analisis Puisi:
Puisi “Lelaki di Persimpangan Jalan” karya Diah Hadaning menghadirkan potret batin seorang subjek yang berada dalam kondisi gamang, terpecah, dan kehilangan arah. Bahasa puisi ini cenderung metaforis, simbolik, dan bergerak melalui citra-citra yang tidak linear. Persimpangan jalan dalam judul menjadi kiasan utama tentang pilihan hidup, krisis identitas, dan kebingungan eksistensial yang dialami tokohnya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah krisis identitas dan keterbelahan batin. Puisi ini juga memuat tema ketidakberdayaan manusia menghadapi dirinya sendiri, serta kegagalan bahasa dan perhatian dalam menangkap makna hidup.
Puisi ini bercerita tentang seorang lelaki yang berada dalam situasi tidak menentu. Ia merasa tak mampu berbuat apa-apa karena kata-kata telah “mengkhianati aksara”. Upaya menata ulang makna justru terasa sia-sia, sebab perhatian yang dimilikinya diibaratkan buih dalam gelas kaca—rapuh dan semu.
Malam datang membawa angin dingin dan serangkaian pertanyaan tentang asal-usul dan masa kecil: “anak siapa sebenarnya dirimu” dan “tembang apa dulu mengiring tidurmu”. Namun semua pertanyaan itu tenggelam oleh tawa aneh yang menguasai batinnya. Emosi yang saling bertabrakan—marah sekaligus menangis—menandai konflik internal yang belum terselesaikan.
Pada bagian akhir, kota digambarkan terbelah, memuntahkan citra-citra surealis: kelelawar merah, gelas kaca yang jatuh, dan buih yang menggenang. Di tengah kekacauan itu, lelaki tersebut tergoda untuk “berenang”, sebelum menyadari semuanya hanyalah fatamorgana.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah gambaran tentang manusia modern yang terjebak dalam ilusi, kebisingan batin, dan kehilangan pijakan makna. Pengkhianatan kata-kata terhadap aksara menyiratkan kegagalan bahasa untuk menampung kompleksitas perasaan dan pengalaman.
Buih-buih dan gelas kaca melambangkan perhatian, tawa, dan kesenangan yang dangkal, sementara kota yang terbelah mencerminkan realitas batin yang retak. Keinginan untuk berenang di genangan buih menunjukkan godaan untuk larut dalam ilusi, sebelum akhirnya disadari sebagai fatamorgana.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa suram, gamang, dan surealis. Ada rasa dingin, keterasingan, serta kegelisahan yang terus mengendap, diperkuat oleh citra malam, angin, kota terbelah, dan pertentangan emosi yang tidak menemukan penyaluran.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari ilusi dan keberpihakan semu yang kerap menipu kesadaran. Puisi ini mengingatkan bahwa tawa, perhatian, dan kesenangan yang dangkal tidak selalu membawa ketenangan batin.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan pentingnya keberanian menghadapi diri sendiri dan kegamangan hidup tanpa terjebak dalam fatamorgana.
Puisi “Lelaki di Persimpangan Jalan” karya Diah Hadaning merupakan puisi reflektif yang memotret kegamangan manusia dalam menghadapi dirinya sendiri dan realitas yang retak. Dengan bahasa metaforis dan citra surealis, puisi ini mengajak pembaca menyelami kebingungan, ilusi, dan pencarian makna di tengah persimpangan hidup. Lelaki dalam puisi ini bukan hanya sosok individual, melainkan representasi manusia yang terjebak antara tawa semu dan kesadaran yang terluka.

Puisi: Lelaki di Persimpangan Jalan
Karya: Diah Hadaning